JUMAT, 20 JANUARI 2017
MAUMERE — Bila tahun-tahun sebelumnya di Kabupaten Sikka temuan kasus penyakit AIDS lebih tinggi dibandingkan HIV, maka pada 2016 ada perubahan. Temuan kasus HIV lebih tinggi dibandingkan AIDS. Dalam rentang waktu 5 tahun sejak 2011 hingga 2015, jumlah penderita AIDS persentasenya sangat tinggi dibandingkan penderita HIV. Pada 2011 ditemukan 47 kasus AIDS, sementara kasus HIV hanya 22 kasus.
![]() |
| Sekretaris KPA Sikka, Yohanes Siga. |
Demikian disampaikan sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Yohanes Siga, saat ditemui Cendana News Jumat (20/1/2017) di kantornya. Dikatakannya, dari jumlah kasus, terjadi peningkatan pada 2014 jumlah kasus HIV dan AIDS sebanyak 80 kasus, turun menjadi 75 kasus pada 2015 dan meningkat menjadi 103 kasus pada 2016.
Ditambahkan Yan, sapaannya, pada 2012 dari jumlah kasus HIV dan AIDS sebanyak 67 kasus, terdapat 51 orang yang terdeteksi AIDS, sementara HIV hanya ditemui pada 16 warga Kabupaten Sikka. Pada 2013 kasus AIDS ditemukan pada 43 warga, sementara HIV hanya ditemukan pada 11 warga. Sementara untuk 2014, lanjutnya, jumlah penderita AIDS ditemukan sebanyak 55 kasus dan HIV cuma 25 kasus, sedangkan pada 2015 jumlah penderita AIDS meningkat drastis dibandingkan HIV. Terdata 58 warga Sikka yang terjangkit penyakit AIDS dan hanya 17 orang saja yang terdeteksi mengidap penyakit HIV.
“Kalau temuan kasus sebelumnya AIDS lebih banyak maka pada 2016 berbalik. Kasus HIV ditemukan lebih tinggi dari AIDS meski berbeda tipis saja. Ditemukan lebih cepat, diobati lebih awal sehingga lebih cepat dipertahankan untuk mencegah sebelum bergeser menjadi AIDS,” tegasnya.
Untuk mengtasinya, kata Yan, butuh kerja sama semua elemen agar mengedukasi masyarakat, ternyata penyakit ini bisa diobati dan bila diobati lebih awal tidak akan menularkan kepada pasangan kita maupun anak kita.
“Kita tidak mempunyai hak melarang orang untuk melakukan hubungan seksual, namun ketika ada perbuatan seks berisiko, KPA Sikka mengimbau agar pasangan memakai alat pengaman seperti menggunakan kondom dan lainnya saat berhubungan seks,” terangnya. Dari kasus yang ditemukan, lanjutnya, kaum lelaki masih ditemukan lebih banyak dibandingkan kaum perempuan. Sebab lelaki lebih aktif dalam melakukan hubungan seksual berisiko.
Bila dilihat berdasarkan umur, ungkap Yan, golongan umur 25 tahun sampai 49 tahun masih mendominasi jumlah penderita yakni sebesar 75 persen. Kasus ini terjadi pada warga yang berumur produktif sehingga dengan demikian orang yang seharusnya bekerja meninggal terlebih dahulu.
Dengan demikian, tuturnya, pada suatu saat Kabupaten Sikka akan menanggung orang-orang yang tidak bekerja. KPA Sikka juga berharap agar anak-anak jangan banyak tertular tapi kenyataanya anak-anak yang berumur 1 sampai 14 tahun juga banyak yang tertular, sekitar 4 persen.
“Anak-anak juga tertular, sementara kita belum banyak melakukan intervensi pada anak-anak dan remaja. Ini yang kita cemaskan sebab mereka ini yang ke depan akan mewarisi bangsa ini,” sesalnya.
Kontak seksual, beber Yan, di beberapa survei terjadi pada anak berumur 12 sampai 14 tahun dan makin sering mereka melakukan kontak seksual, maka kecederungan terkena penyakit kanker mulut rahim untuk perempuan dan HIV baik pada perempuan dan lelaki sangat besar. Orang tua, imbaunya, perlu menyadari hal ini, sebab kuncinya ada di keluarga. Membekali urusan seksual harus dimulai dari keluarga, tapi hal ini masih dianggap tabu.
| Kegiatan pelatihan HIV dan AIDS bagi fasilitator pendamping desa dan tenaga ahli oleh KPA Sikka. |
“Ini yang menjadi pekerjaan rumah kita agar masalah seksual sudah mulai dibicarakan di keluarga oleh orang tua. Semuanya harus segera dimulai suka atau tidak suka bila kita tidak ingin anak-anak kita terjangkit penyakit ini,” pungkasnya.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary