MINGGU, 22 JANUARI 2017
KEDIRI — Hingga 2017 ini, trauma mendalam dan berkepanjangan masih terus dirasakan para korban kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menyerbu dan merampas semua harta benda Pemuda Islam Indonesia (PII) di desa Kanigoro, kecamatan Kras, kabupaten Kediri. Keganasan PKI juga menimpa Suci Mandayati (69), salah satu korban peristiwa Kanigoro 13 Januari 1965.
![]() |
| Suci Mandayati |
Saat hari kelam itu, Suci masih duduk di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA), setara dengan SMP. Pada saat kejadian tersebut, kebetulan Suci tidak dapat melaksakan sholat karena sedang datang bulan sehingga terpaksa ia tidak pergi ke Masjid dan hanya berada di asrama.
Ketika usai kuliah subuh, masuklah orang-orang berpakaian hitam dengan membawa berbagai jenis senjata tajam masuk ke dalam asrama. Suci juga melihat dengan mata kepala sendiri, ada peserta wanita dari kertosono yang digerayangi oleh PKI. Mereka juga merampas semua barang-barang yang ada. “Oh, ini ya antek-anteknya Masyumi,” teriak para PKI kepada Suci dan kawan-kawannya yang diserbu.
Saat itu, Suci mencium gelagat, penyerbuan para PKI kepada anggota PII memang sudah direncanakan dengan rapi. Jika tidak direncanakan, tidak mungkin PKI bisa mengumpulkan massa ribuan orang dengan sangat kompak. Suci mendapat informasi, sejak sore sehari sebelum penyerangan yang sangat keji, semua rumah yang berada di dekat masjid Kanigoro, sudah ditempati oleh massa PKI. Sehingga PKI mudah untuk menyerbu saat Subuh.
Dalam suasana fajar yang masih gelap, tidak ada warga yang memberikan pertolongan. Seandainya penduduk tahu ada penyerbuan oleh PKI, tentu penduduk malah sembunyi. Karena Desa Kanigoro juga merupakan basis PKI.
Sebenarnya, Suci sangat tidak bisa menerima atas perlakuan keji dari PKI. Ia merasakan sendiri, kekejian dan kesadisan PKI tidak pandang bulu. Perempuan maupun laki-laki sama-sama diperlakukan secara keji.
Di masa reformasi ini, Suci berharap, Semoga Allah membukakan hidayah kepada anak-anak bangsa yang terjerumus ke dalam paham komunis. Peristiwa kekejaman-kekejaman oleh PKI tidak boleh terulang lagi di masa yang akan datang. “Saya yakin, hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang,” pungkasnya.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq