Bantuan Tepat Sasaran Jadi Harapan Keluarga Prasejahtera di Pedesaan Lampung

SENIN, 2 JANUARI 2017

LAMPUNG — Rumah sederhana terbuat dari geribik berlantai tanah pada beberapa bagian menjadi tempat tinggal keluarga Ngadimun (50) bersama isterinya Ponirah (45) serta sang anak dan cucu. Winarso (26) merupakan salah satu anak yang tinggal bersama keluarga tersebut sementara dua anggota keluarga lain tinggal di rumah berbeda dengan masih tetap menggunakan lahan yang ditempati empat kepala keluarga sekitar 20×10 meter. Sebagai warga yang tinggal di desa, bekerja serabutan menjadi mata pencaharian yang dilakukan Ngadimun untuk kebutuhan sehari-hari di antaranya sebagai tukang bangunan, menjadi pencari rumput serta mencangkul di sawah milik orang lain. Sementara, sang anak, Winarso, yang memiliki isteri bekerja di sebuah pabrik di Serang Banten bekerja sebagai penjual sayur keliling menggunakan kendaraan roda dua.

Winarso memelihara kambing bantuan Kube.

Tinggal dalam lingkungan yang masih merupakan keluarga besar menjadi sebuah kondisi yang umum terjadi di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas. Ngadimun dan Winarso merupakan salah satu anggota keluarga yang masih bertahan dengan kondisi terbatas, tak memiliki lahan untuk tempat tinggal apalagi untuk bertani. Ngadimun bahkan pernah tinggal menumpang di tanah milik orang lain untuk mengurus tanah kebun serta diperkenankan menanam berbagai tanaman untuk kebutuhan sehari-hari. Lahan yang terkena terjangan pembangunan jalan tol Sumatera (JTTS) berimbas keluarga tersebut terpaksa kembali ke tanah yang juga dihuni anak-anaknya meski tinggal saling berdekatan.

“Kami di s ini tinggal dua keluarga satu rumah dan di sebelah tinggal kakak-kakak yang juga membuat rumah dari geribik bambu karena belum mampu membuat rumah permanen sebab masih mengumpulkan material berupa batu dan pasir,” terang Winarso, warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Senin (2/1/2017).

Selain bekerja menjadi penjual sayur, Winarso juga memiliki pekerjaan lain sebagai pembuat batu bata yang banyak dikerjakan warga Desa Tanjungsari. Proses mencetak bata yang dikerjakan tersebut meski dengan upah kecil sebesar Rp 5000 untuk sebanyak 1000 buah batu bata dikerjakannya setelah pekerjaan berjualan sayuran selesai. Ia lakukan itu karena proses pembuatan batu bata sering dilakukan hingga malam. Selain membuat batu bata, pekerjaan serabutan pun dilakukan Winarso bersama keluarganya dengan menjadi pengangkut (manol) batu bata saat dikirim ke pemesan dengan upah Rp 35 ribu per seribu batu bata.

Berada di lingkungan yang merupakan warga prasejahtera membuat fasilitas sumur untuk air bersih yang berjumlah satu buah digunakan bagi sebanyak empat keluarga. Selain belum memiliki kamar mandi, keluarga tersebut juga masih menggunakan fasilitas water closed (WC) yang  terbuat dari tanah. Meski demikian, Winarso mengaku, dalam waktu dekat akan menerima bantuan WC untuk dibuat WC permanen yang bisa digunakan bagi keluarganya.

Perhatian pemerintah melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), setidaknya menjadi salah satu bantuan yang cukup membantu bagi Winarso dan keluarganya. Bantuan berupa ternak kambing yang dibagikan kepada anggota kelompok yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (Kube) tersebut dilakukan dengan sistem gaduh atau bergulir bagi kelompok peternak lain. Bantuan yang diberikan bagi keluarga prasejahtera dan sekaligus pemilik rumah tidak layak huni (Rutilahu) tersebut berupa sepasang kambing jantan dan betina yang dikembangbiakkan.

Keluarga Winarso dengan kondisi rumah yang masih terbuat dari geribik.

Winarso mengaku dengan adanya Kube peternakan kambing jenis etawa dan sebagian rambon tersebut dikembangkan dengan dipelihara setiap kelompok usaha bersama peternakan masing-masing sebanyak 5 orang dengan sistem bergilir hingga memperoleh anakan dari indukan tersebut. Bantuan yang ada sejak tahun 2013 mulai bergulir dengan indukan yang telah dipelihara anggota kelompok lain.

“Kalau saya sudah memelihara anakan ditambah membeli kambing dari warga lain untuk dipelihara, sementara indukan sudah diberikan ke anggota kelompok lain,”ungkap Winarso.

Progam bantuan di sektor peternakan tersebut, diakui Winarso, dikelola melalui Kube Bina Karya IV dengan bantuan kambing yang sesuai dengan kondisi wilayah tersebut. Meski demikian, bantuan permodalan bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat batu bata serta usaha lain, diakui Winarso, masih sangat dibutuhkan masyarakat.

Berbagai bantuan yang diterima masyarakat yang diterima beberapa keluarga prasejahtera di wilayah tersebut, menurutnya, berupa beras prasejahtera (rastra) yang sebelumnya dikenal dengan beras untuk rakyat miskin (raskin). Meski demikian, ia berharap, pemberian bermacam bantuan bagi masyarakat bisa lebih tepat sasaran untuk bisa meningkatkan perekonomian masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, bantuan bersifat pemberdayaan lebih diperlukan masyarakat berupa alat-alat pengolah makanan tradisional serta pembuatan batu bata. Bantuan alat produksi tersebut, diakuinya, akan lebih membantu masyarakat terutama perajin batu bata yang masih menggunakan alat manual.

“Selama ini sebagian warga masih menggunakan alat manual dalam pembuatan batu bata dengan proses pengerjaan lebih lama,”ungkap Winarso.

Salah satu perajin keripik jagung dan singkong di desa tersebut, Aminah, mengaku, saat ini dirinya belum mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah untuk pengembangan usaha pembuatan makanan tradisional emping jagung. Ia mengaku, usaha yang dikerjakannya masih menggunakan modal sendiri dan dijual dengan pangsa pasar yang masih belum cukup luas. Ia pun mengaku, dengan modal terbatas dan tanpa ada pelatihan serta dukungan modal dari pemerintah dirinya tetap melakukan proses produksi makanan tradisional sejak lima tahun lalu.

“Saya masih belum berani meminjam modal dari bank atau bantuan lain karena takut tidak mampu membayar meski dengan bunga yang lunak sehingga saya masih menggunakan modal sendiri,” ungkap Aminah.

Aminah, perajin makanan tradisional dari jagung.

Keterbatasan ekonomi dan kondisi lingkungan masyarakat yang ada di wilayah tersebut menjadi potret desa di Lampung Selatan yang masih ditemui pada awal tahun 2017 ini. Sebagian masyarakat bahkan tetap bertahan dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dengan lapangan pekerjaan yang masih berkutat di sektor wiraswasta dan pertanian. Meski demikian, sebagian masyarakat mulai melirik usaha kreatif lain di antaranya pembuatan arang kelapa serta pembuatan barang-barang keperluan rumah tangga dari bambu sebagai sumber penghasilan meski dengan modal terbatas.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...