Konservasi Bantaran DAS Way Pisang Iyurham Tanam Kayu Keras Penahan Longsor

MINGGU, 6 NOVEMBER 2016

LAMPUNG — Sungai Way Pisang merupakan salah satu sungai yang bersumber dari hulu Gunung Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan. Beberapa desa bahkan berada di sepanjang aliran sungai yang memiliki panjang puluhan kilometer hingga menyambung ke Sungai Way Sekampung karena kebutuhan akan air bersih yang masih bersumber dari sungai tersebut. Meski penting bagi masyarakat namun keberadaan sungai Way Pisang masih kurang diperhatikan dengan kurang terjaganya kawasan hulu sungai yang berada di Gunung Rajabasa. Berbagai program reboisasi dan penanaman kawasan lereng Gunung Rajabasa bahkan dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dengan melakukan program Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang menyediakan bibit secara gratis bagi warga untuk ditanam. 
Daerah aliran sungai (DAS) merupakan kawasan miring dan sebagian sudah dipergunakan oleh masyarakat untuk perkampungan sehingga berpotensi mengalami longsor akibat terjangan banjir dan derasnya air saat musim hujan. Longsor dan bencana akibat terjangan banjir tersebut bahkan menyisakan beberapa bekas rumah yang kini tak ditempati oleh warga di Desa Gayam Kecamatan Penengahan dan beberapa bagian tersisa hanya puing puning pondasi akibat ditinggalkan pemilik. Pengalaman mejadi korban kerusakan bangunan akibat terjangan banjir sekitar belasan tahun lalu membuat seorang warga, Iurham (40) warga Desa Tetaan yang memiliki tanah di sekitar bantaran sungai berinisiatif melakukan penanaman beragam jenis tanaman keras yang dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.

Iyurham yang ditemui Cendana News mengaku memiliki tanah dengan kemiringan mengikuti alur sungai yang rawan longsor sekitar puluhan meter dan sebagian merupakan milik warga lain. Sebagain lahan yang berada di bantaran sungai telah mendapat proses penaludan dengan semen dan batu meski terjangan banjir yang keras membuat sebagian talud jebol, ambrol. Selain itu lokasi bibir sungai yang menyerupai tebing masih digunakan masyarakat sebagai lokasi pembuangan sampah dengan maksud agar sampah tersebut hanyut terbawa arus air saat hujan. Sampah sampah yang sebagian hanyut dan tersangkut di sekitar bantaran sungai dipungut oleh Iurham terutama sampah plastik untuk selanjutnya dibakar dan yang bisa dimanfaatkan dikumpulkan untuk dijual.
Lelaki yang sehari hari sibuk di kebun bantaran Sungai Way Pisang tersebut mengaku memelihara sekitar 10 ekor kambing meski memiliki rumah di desa berbeda. Bermula dari pengalaman terkena terjangan banjir kiriman dan bantaran sungai yang longsor akibat tidak ada tanaman penyangga, Iurham mencari beberapa ratus bibit tanaman berbagai jenis diantaranya tanaman pisang, kelapa, jati putih (gamalina), tanaman mangga, tanaman nangka, tanaman pinang, tanaman damar serta berbagai bibit tanaman keras lainnya. Selama hampir dua tahun melakukan penananaman sebagian pohon yang ditanamnya pun terlihat menghijau dan ia masih terus melakukan penambahan tanaman seperti gamalina di sepanjang bantaran sungai.
“Kalau ditanya siapa yang menyuruh ya saya sendiri bukan siapa siapa, karena awalnya saya menanam puluhan pohon jati putih ternyata subur, tanaman jati putih ini daunnya bisa saya manfaatkan juga untuk pakan ternak puluhan kambing yang saya miliki dan sekaligus jadi penahan longsor,”terang Iurham saat berbincang dengan Cendana News, Minggu (6/11/2016).
Lelaki yang sehari hari menghabiskan waktu di kebun untuk mengurus ternak kambingnya dan melakukan perawatan terhadap pohon pohon yang ditanam tersebut mengaku penanaman terutama dilakukan dengan sistem terasering karena sebagian besar lahannya berada di tanah miring. Kondisi bantaran sungai yang berada di kemiringan tersebut kerapkali mengakibatkan terjangan banjir mengkikis tanah yang dimilikinya namun ia mulai mengumpulkan karung karung, bekas bungkus semen dan diisi dengan batu kerikil dan tanah menjadi talud. Talud yang terpasang selanjutnya ditimpa dengan tanah untuk menjadi media penanaman pohon diantaranya tanaman kelapa dan pisang.
Penanaman oleh laki laki yang memiliki tiga orang anak dan hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP) tersebut dilakukan dengan membeli bibit pohon buah dan sebagian meminta bibit dari lokasi persemaian permanen yang ada di Kecamatan Ketapang. Ia mengaku sebagian tanah yang dimilikinya pernah mengalami erosi dan terbawa banjir dengan luasan puluhan meter persegi menyisakan batu batu yang berada di dasar tanah. Longsoran tebing akibat banjir bahkan masih tersisa akibat tidak memiliki penahan berupa pohon pohon sehingga ia memutuskan menanam berbagai jenis pohon di tebing tebing sungai dengan cara berjajar dan zigzag untuk memperkuat lereng tanah yang dimilikinya.
Longsoran tebing yang terjadi di lahan miliknya juga nyaris terjadi merata di sepanjang daerah aliran sungai Way Pisang terutama pada bagian bagian yang memiliki kontur tanah labil tanpa penahan. Longsoran tebing yang pada umumnya berada langsung diatas aliran sungai makin tergerus karena tidak ada penahan yang cukup kuat sehingga terbawa arus sungai. Cara yang dilakukan oleh Iurham untuk mengurangi kejadian tersebut dilakukan dengan membuat lubang pengendap (rorak) yang menyerupai lubang lubang sampah selebar 10-25 meter memanjang sehingga saat terjadi hujan deras kikisan tanah tidak langsung mengalir ke sungai tetapi menimbun lubang tersebut.
“Saya belajar sendiri untuk menahan tanah saya agar tidak tergerus karena ini tanah warisan keluarga sehingga harus dijaga, menalud dengan semen saya tak punya biaya maka cara yang saya lakukan dengan menanam pohon dan membuat lubang penahan,”ungkap Iurham.
Selain melakukan pembuatan lubang, menyusun batu batu kali menjadi sebuah tanggul, ia juga melakukan penanaman pohon berbaris di sepanjang aliran sungai dengan cukup rapat yang terdiri dari beragam jenis tanaman. Langkah tersebut juga mulai diikuti oleh para pemilik lahan di daerah aliran sungai meski bagi pemilik biaya yang cukup dilakukan dengan membuat talud permanen dari semen. Cara tersebut menurutnya kurang efesien karen berdasarkan pengalaman banyak talud yang jebol dan rusak akibat derasnya air saat musim banjir. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan menyangkutnya sampah sampah rumah tangga yang berasal dari buangan sampah rumah tangga yang menyangkut dan mengakibatkan sumbatan dan membentuk bendungan yang menggerus tebing sungai dan talud.
Selain berbagai tanaman kayu, Iurham mengaku telah menamam jenis bambu ori di ujung tanah miliknya untuk penahan longsor pada lahan yang ia miliki. Upaya menanam berbagai jenis pohon tersebut dilakukan oleh Iurham selain untuk penahan erosi diakuinya untuk memperoleh pasokan pakan ternak kambing miliknya sehingga selain menanam pohon dirinya pun menanam rumput jenis gajahan. Beberapa pohon yang bisa digunakan sebagai sumber pakan ternak kambing miliknya diantaranya Mindi, Nangka, Jati putih yang selama ini terbukti telah membantunya dalam melakukan peternakan kambing.
Meski melakukan upaya penyelamatan bantaran sungai, ia mengaku tidak menyebut langkah yang dilakukannya sebagai sebuah gerakan konservasi. Ia mengaku hanya prihatin dengan keberadaan sungai Way Pisang yan pernah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat namun kondisinya mulai memprihatinkan diantaranya banyaknya sampah yang dibuang masyarakat sehingga sungai mengalami penyempitan, banjir saat musim hujan dan menggerus bantaran sungai yang sebagian masih dijadikan tempat bermukim penduduk sehingga membahayakan.
Ia bahkan berencana menambah jenis tanaman kayu keras lainnya dengan harapan selain memperoleh manfaat dari daunnya untuk pakan, jika tanaman tersebut sudah besar bisa dimanfaatkan kayunya untuk dijual atau dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Kawasan yang rawan longsor terutama di lahan miliknya diakuinya sudah mulai berkurang potensi longsor terutama sebagian sudah ditumbuhi beragam jenis tanaman pengikat tanah dan ia selalu rajin membersihkan sampah sampah yang terbawa aliran air. Ia berharap kepada masyarakat tidak melakukan kegiatan membuang sampah di sepanjang aliran sungai untuk mengurangi resiko banjir terutama pada musim penghujan ini. Meski melakukan tindakan sederhana Iurham mengaku berharap bisa memanen hasilnya dengan kambing kambing yang dipeliharanya dan kelak memanen hasil dari kayu yang ditanamnya.
Langkah yang dilakukan oleh Iurham sempat menjadi kegiatan yang dilihat tetangganya sebagai “kurang kerjaan”, demikian diungkapkan oleh Sulis (45) salah satu warga yang sering melihat Iurham seharian menghabiskan waktu di sekitar bantaran sungai. Sulis mengaku sering melihat Iurham mencangkul di bibir sungai, memungut sampah, menyusun batu batu dan menanam berbagai pohon saat kemarau. Bahkan dengan menggunakan air menyiram bibit tanaman yang ada di sepanjang aliran sungai. Saat semua tanaman sudah besar kawasan lahan yang ditempati oleh Iurham terlihat paling hijau dibanding lahan lahan lain milik warga.
“Awalnya memang terlihat kurang kerjaan tapi setelah melihat dia punya banyak kambing yang pakannya diambil dari kebunnya warga sekitar sini justru melihat dia itu sosok yang tekun dan pekerja keras,”ungkap Sulis.
Sebagian warga bahkan melihat dari kejauhan pohon pohon jati putih berjajar rapi, pohon pohon pisang tumbuh di sepanjang sungai. Contoh yang nyata dilakukan oleh Iurham mulai diikuti oleh warga lain dengan melakukan penanaman pohon di bantaran Sungai Way Pisang tersebut terlebih bibit pohon yang ditanam bisa diperoleh secara cuma cuma di lokasi pembibitan permanen di Karangsari.
Terkait penyediaan bibit, Kepala Persemaian Permanen Desa Karangsari Kecamatan Ketapang dari Balai Besar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Way Sekampung-Way Seputih, Slamet, mengaku menyediakan jutaan bibit yang bisa dimanfaatkan warga secara cuma cuma. Selain bisa ditanam di sekitar aliran sungai, bibit tanaman produktif juga bisa ditanam oleh masyarakat untuk investasi masa depan sebagai tabungan berupa kayu.
“Sebagian masyarakat memang sudah mulai sadar akan pentingnya menanam kayu saat ini terutama setelah banyak bencana banjir, longsor dan kita sediakan bibit secara cuma cuma,”ungkap Slamet.
Ia mengungkapkan syarat membawa KTP, kartu keluarga, rekomendasi dari kepala desa terkait luasan lahan yang akan ditanam menjadi syarat untuk meminta bibit. Slamet juga mengajak masyaraakt untuk terus melakukan penanaman pohon di kebun kebun atau lahan tidak produktif dengan pohon terutama di lahan lahan yang berada di daerah aliran sungai untuk mencegah longsor dan banjir karena persemaian permanen masih menyediakan jutaan bibut berjenis jenis tanaman.


Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...