RABU, 26 OKTOBER 2016
CHATATAN JURNALIS — Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) adalah sebuah museum di Jalan Abdul Rahman Saleh Raya, Jakarta yang memamerkan berbagai koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan sejarah kebangkitan nasional dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Museum ini menempati gedung tua bekas sekolah kedokteran bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arsten) yang didirikan Belanda untuk orang-orang bumiputra.
Belanda membangun gedung Stovia sejak 1899 dan selesai pada 1901. Untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan Pemuda Indonesia dalam merintis kemerdekaan maka Presiden kedua RI, HM.Soeharto atau akrab disapa Pak Harto menginstruksikan agar gedung ex-Stovia dijadikan museum. Buah pikiran Pak Harto langsung direspon oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu Ali Sadikin dengan mulai memugar gedung ex-Stovia pada tanggal 5 April 1973 sampai selesai tanggal 20 Mei 1973.
Setelah mengalami masa persiapan menjadi museum selama satu tahun, maka pada tanggal 20 Mei 1974 Presiden Soeharto meresmikan gedung ex-Stovia menjadi Gedung Kebangkitan Nasional yang sekarang dikenal luas dengan Museum Kebangkitan Nasional disingkat Muskitnas.
Di gedung ini, dulunya pemuda pelajar bumiputra dari berbagai daerah di Indonesia dididik selama 7-9 tahun dan diharuskan tinggal dalam sebuah asrama sekolah. Gedung Stovia merupakan tempat berkumpulnya orang-orang terpelajar bumiputra dari berbagai daerah di Nusantara. Di gedung inilah bibit-bibit nasionalisme dan kebangkitan bangsa Indonesia mulai bersemai, tumbuh, dan menyebar.
Pada 20 Mei 1908, di gedung ini juga lahir organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo (Budi Utomo) yang dipelopori oleh para pelajar Stovia itu sendiri, antara lain; R.Soetomo, Tjiptomangoenkoesoemo, M. Soeleiman, dan M. Soeradji. Kemunculan organisasi ini, dalam catatan sejarah, dianggap sebagai tonggak penting dalam proses terbentuknya kesadaran nasional untuk melawan penajajah Belanda.
” Disinilah tokoh-tokoh muda dari jaman itu banyak bermunculan, sehingga sangat penting bagi generasi muda saat ini untuk mempelajari sejarah dan semangat mereka,” terang Sujiman, S.Pd. MM, Kepala Seksi Penyajian dan Layanan Edukasi Museum Kebangkitan Nasional, Selasa (25/10/2016).
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai instansi yang membawahi Museum Kebangkitan Nasional memberikan target kepada pengelola museum untuk meningkatkan persentase kunjungan masyarakat ke museum setiap tahunnya. Oleh karena itu, Kepala Muskitnas memberi kepercayaan kepada Seksi Penyajian dan Layanan Edukasi yang dikepalai Sujiman untuk mengembangkan ide-ide kreatif dalam meningkatkan animo kunjungan masyarakat ke museum.
Cara pertama yang dilakukan Sujiman dan rekan-rekannya adalah mengadakan event atau acara rutin setiap bulan dan setiap tahunnya. Diskusi panel adalah program rutin museum dari bulan januari hingga november dengan materi seputar permuseuman dan tokoh-tokoh nasional yang namanya diabadikan didalam museum. Target peserta diskusi biasanya antara 50-75 orang dan itu selalu tercapai.
” Jadi dari awal merencanakan sebuah program itu kami juga punya penilaian sampai sejauh mana kami mampu melaksanakan program tersebut dengan baik. Jangan sampai mengajukan program lalu tidak bisa melaksanakannya atau dengan kata lain target peserta diskusi tidak mencapai angka yang diinginkan. Oleh karena itu angka 50-75 peserta diskusi bagi kami masih dalam batas kemampuan kami sehingga targetpun selalu tercapai,” terang Sujiman lagi.
Cara kedua adalah program belajar di museum, dengan target lebih kurang 30 siswa dari setiap sekolah yang diundang untuk datang belajar sejarah sekaligus mengenal museum lebih dekat. Program ini banyak mendapat atensi positif dari setiap sekolah dengan rutin mengirimkan siswa mereka secara berkala untuk belajar sejarah sekaligus mengenal museum khususnya Museum Kebangkitan Nasional lebih dekat.
” Agar program lebih variatif maka kami kerap mengkombinasikan acara kunjungan belajar dengan lomba resmi antar sekolah berhadiah uang pembinaan jutaan rupiah. Lomba yang sering kami adakan adalah Cerdas Cermat tingkat sekolah menengah,” lanjut Sujiman lagi.
Cara ketiga adalah mendorong sekaligus merangsang minat generasi muda untuk belajar kebudayaan nusantara di museum. Khusus hari sabtu setiap minggunya maka Museum Kebangkitan Nasional membuka kelas tari tradisional nusantara secara gratis atau tanpa dipungut biaya apapun.
” Siswa kelas tari tradisional datang dari seluruh wilayah Jabodetabek, dan jika sudah lulus mengikuti kelas menari disini maka mereka memberi pelajaran tari tradisional kepada anak-anak muda lainnya. Ini luar biasa, sebuah pencapaian yang tidak kami duga sama sekali,” tutur Sujiman.
Selain membuka kelas menari secara gratis, museum juga membuka kelas seni musik khusus alat musik Angklung. Sama seperti peminat kelas tari tradisional, kelas seni musik angklung mendapat positif. Selain karena tidak dipungut biaya apapun untuk belajar, namun animo anak muda mengikuti kelas kebudayaan di Museum Kebangkitan Nasional juga banyak dipengaruhi dari keseriusan pihak pengelola museum untuk menyediakan instruktur-instruktur profesional dalam menangani para siswa tersebut.
Cara atau program pamungkas dari Museum Kebangkitan Nasional demi meningkatkan animo serta kunjungan masyarakat ke museum adalah mengadakan acara tingkat nasional seperti seminar dan dialog nasional (setahun dua kali), pameran benda-benda sejarah dua kali setahun, serta pergelaran budaya seperti wayang orang dan wayang kulit setahun sekali. Pada 27-28 Oktober 2016 mendatang, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda maka Museum Kebangkitan Nasional bekerja sama dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat mengadakan Dialog Nasional bertajuk “Gema Gong Pancasila” bertempat di Museum Kebangkitan Nasional, Jalan Abdul Rahman Saleh, Jakarta.
Apa yang dilakukan Museum Kebangkitan Nasional sebenarnya bukan semata program promosi meningkatkan jumlah kunjungan, namun juga ingin merubah anggapan prematur yang masih melekat bagi sebagian masyarakat Indonesia bahwa museum itu menakutkan, kumuh, dan kusam. Sehingga masyarakat terutama generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu luang di mall dengan harapan bisa mempelajari sejarah hanya dari internet saja.
” Dibutuhkan peran museum yang lebih aktif untuk merubah anggapan tersebut, sehingga kedepannya secara perlahan bisa meyakinkan masyarakat atau generasi muda bahwa nongkrong sambil diskusi di museum itu adalah hal yang menyenangkan,” pungkas Sujiman.
Semua program yang dijalankan oleh pengelola Museum Kebangkitan Nasional ternyata berhasil membawa peningkatan jumlah kunjungan sebesar 15% setiap tahunnya. Hal ini merupakan pencapaian berkala yang sangat positif dan dengan mempertahankan pencapaian tersebut maka harapan kedepannya adalah perlahan dapat mengikis stigma di sebagian masyarakat tentang tidak menyenangkannya berkunjung ke museum.
Sejauh ini apa yang dilakukan sudah bagus, hasil yang didapatkan sudah positif, hanya memerlukan kesabaran lebih banyak agar kedepannya masyarakat dapat menjadikan museum itu sebagai sebuah kebutuhan, layaknya pandangan masyarakat Eropa maupun Amerika terhadap museum. Dengan begitu museum akan berkembang sekaligus nilai-nilai sejarah bangsa juga dapat lestari pada setiap pergantian generasi dari bangsa tersebut.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Irvan Sjafari / Foto : Miechell Koagouw