Kalung Bunga Teratai Srikandi bagi Ayunda Sylviana Murni

KAMIS, 20 OKTOBER 2016
Ayunda Sylviana Murni yang baik,

Perkenankan mereka, para remaja dan kaum muda berbaris rapi di belakang Ayunda Sylviana Murni. Mereka yang terhimpun dari berbagai elemen bangsa maupun berbagai aktivitas sosial, menyampaikan sebentuk bekal untuk keberangkatan Ayunda menuju medan laga Pilkada DKI Jakarta Februari 2017 mendatang. Barangkali, bekal ini hanya berbentuk sepucuk perlambang dan seuntai doa yang mereka susun dalam larik-larik panjang narasi, di tengah nyala semangat demokrasi. 


Bekal yang mereka sampaikan untuk menyertai Ayunda, tentu tidaklah istimewa. Tapi, barangkali berguna. Sejujurnya, mereka tak mampu menyertakan ransum yang lezat dan mengenyangkan. Sudah jelas, tangan mereka tidak terampil dalam membuat minuman Betawi Es Doger, Bir Pletok, Es Kolang Kaling, serta Es Teler yang mampu menjadi pelepas dahaga Ayunda. Mereka juga bukan kaum yang pandai mengolah aneka makanan kesukaan keluarga besar Ayunda ; Soto Betawi, Soto Tangkar, Pindang Bandeng, Laksa Betawi, semur Jengkol, Kethoprak, Gado-Gado, Ketupat Sayur, Nasi Ulam, Nasi Uduk, dan juga Kerak Telor.
Meski mereka tak bisa memanjakan lidah Ayunda Sylvi, tapi semoga, sepucuk perlambang ini, semoga bisa mengantarkan Ayunda Sylviana Murni ke Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Yang jelas, perlambang itu adalah tanda mata yang mereka dapat dari mitologi abadi tertua di Mayapada. Yaitu perlambang Kalung Bunga Teratai dari tokoh wayang Srikandi yang akan mereka sematkan di leher jenjang Ayunda Sylviana Murni.
Mungkin, tanda mata itu terlalu remeh, terlalu gombal, dan terlalu ilutif. Tapi, kalung teratai Srikandi memiliki makna yang sangat mendalam bagi perjuangan mereka dalam menyertai jalan kemenangan Ayunda. Sudah berminggu ini, mereka merenung, dan hanya kalung teratai Srikandi-lah yang pantas dan sempurna mereka sematkan bagi Ayunda. Karena, bagi mereka, Ayunda adalah sosok Srikandi Betawi yang pantas memimpin Ibukota, mendampingi Kanda Agus Harimurti Yudhoyono.   
Di mata para remaja dan kaum muda yang sangat mencintai kisah Wayang Mahabharata, Ayunda Sylvi adalah satu-satunya wujud pemimpin perempuan dalam bursa calon pemimpin Pilkada DKI Jakarta. Maka, jika mereka diperkenankan memaknai, sosok Ayunda Sylviana Murni adalah sosok Srikandi dalam Mahabharata. Seorang Ksatria Perempuan yang gagah berani bertempur dalam perang Bharatayuda di medan Kurushetra.    

Kisah Ksatria Srikandi dalam Mahabharata
Sebagai sosok wayang, Dewi Srikandi merupakan suri teladan bagi setiap prajurit wanita. Sebagai salah satu istri dari Pangeran Harjuna, Srikandi bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kerajaan Madukara beserta segala isinya.

Srikandi adalah titisan Dewi Amba, sosok perempuan yang pernah mencintai Bhisma, tapi ditolak mentah-mentah oleh Bhisma. Dewi Amba adalah putri Raja Kasi yang mengalami nasib buruk, memaksakan dirinya dinikahi oleh Bhisma. Tapi, Bhisma tidak mau, karena Bhisma sudah bersumpah untuk tidak menikah. Akibatnya, kutukan Dewi Amba di masa lalu kepada Bhisma, telah dititiskan dalam genggaman tangan Srikandi. 

Dalam perang Bharatayudha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta (ksatria Wirata yang telah gugur saat menghadapi Bisma Sang Senapati agung balatentara Kurawa). Srikandi bukanlah Ksatria pilih tanding dan tidak memiliki segudang kesaktian seperti Arjuna ataupun Karna. Tapi, atas titah Sang Hyang Jagadnata sang Pencipta, Srikandi memang ditakdirkan untuk mengambil nyawa Maha Resi Bhisma Dewa Bharata yang tidak bisa dikalahkan oleh Ksatria manapun.   
Dalam perang di medan Kurusetra, Srikandi menjadi kusir Arjuna saat berhadapan dengan Bhisma. Bhisma sendiri mengetahui bahwa Srikandi adalah titisan Dewi Amba, sehingga terus berusaha menghindari kereta Arjuna yang dikemudikan Srikandi. Bhisma berkata, tidak mau melawan perempuan. 
Tak ada ampun, Srikandi terus mengejar. Akhirnya, Bhisma pun terdesak. Ia terpaksa meladeni pertempuran melawan Arjuna. Kakek dan cucu ini akhirnya pun beradu keahlian ilmu panah. Srikandi yang juga mahir ilmu perang pun turut melancarkan serangan dengan panahnya. Dalam adu panah tersebut, Bhisma akhirnya roboh tertusuk busur panah Srikandi. Namun, sebelum meninggal, Bhisma berseru “Anak panah ini milik Arjuna, bukan Srikandi!.” 
Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, tanpa perlawanan yang berarti dari Bhisma. Begitu menghadapi Srikandi, Maha Resi Bhisma langsung kehilangan seluruh keberanian, kekebalan, dan kesaktiannya. Seluruh senjata sakti Bhisma lunglai seketika di hadapan Srikandi. 
Bhisma Dewa Bharata, sang putra Dewi Gangga dari Kahyangan, seorang Ksatria yang diberi kebebasan Dewata untuk memilih waktu kematiannya sendiri, telah ditagih karma dan ajalnya oleh titisan Dewi Amba bernama Dewi Srikandi. Pada hari nahas Bhisma, tubuh gagahnya tumbang di Kurushetra, dengan dihiasi oleh ratusan panah yang dilepaskan oleh Srikandi dan Harjuna. Meski kalah, Bhisma tersenyum. Karena jauh dalam hati kecil Bhisma, sebenarnya lebih membela Pandawa. Tapi, sebagai Ksatria Hastina, ia terpaksa harus maju perang membela negaranya tercinta.    
Makna Kemenangan dalam Kalung Teratai Srikandi 
Ayunda Sylviana Murni sang teladan para kader HMI,
Tanpa ragu, kami menyampaikan kalung teratai Srikandi untuk Ayunda. Dalam kisah Mahabharata, kalung teratai yang selalu dipakai Srikandi sejak kecil, adalah kalung pemberian Dewi Amba. Kalung itu adalah tanda bahwa Srikandi adalah titisan Dewi Amba. Kalung Teratai adalah lambang amanat kutukan Dewi Amba atas kematian Bhisma (pembela para Kurawa yang sangat jahat kepada para Pandawa). 

Secara filosofi, Bunga Teratai tampil dengan keanggunan bunganya yang sangat menawan bagi yang melihatnya. Dia hidup penuh keindahan dan kebersihan tanpa dipengaruhi oleh lingkungannya yang kotor. Betapa pun kotor tempatnya hidup, tapi keindahannya tetap terjaga dengan baik, bahkan menambah keindahan pula bagi lingkungan di sekitarnya. Jakarta yang penuh kekerasan, kekotoran, justru akan semakin bersih dengan berbagai besutan tangan Ayunda Sylviana Murni yang terbukti sangat mumpuni. 

Teratai putih melambangkan tubuh, pikiran, jiwa, bersama dengan kesempurnaan spiritual dan perdamaian sifat seseorang. Sebuah bunga teratai, umumnya dilengkapi dengan delapan kelopak yang sesuai dengan Delapan Jalan Hukum Baik. 

Darma Kemenangan Sang Pemakai Kalung Teratai Srikandi
Dari seluruh calon Gubernur maupun Wakil Gubernur DKI Jakarta, mereka para remaja dan kaum muda melihat, hanya Ayunda yang memiliki perjalanan Bakti yang paling panjang di DKI Jakarta. Bagaimanapun, Ayunda adalah seorang birokrat DKI Jakarta yang mengabdi sejak masih muda. Masa pengabdian yang lama, pengalaman yang beragam, merupakan faktor kuat atas hukum kemenangan Ayunda pada Februari 2017 mendatang.
Selain itu, Ayunda Sylvi yang berdarah Betawi, sangat berhak untuk menang di tanah air leluhur. Belum lagi segudang prestasi di masa kecil dan remaja, termasuk terpilihnya Ayunda sebagai Abang None pada 1981. 
Apalagi, Ayunda memiliki darah seratus persen Betawi, sebagai puteri ketiga dari sepuluh bersaudara. Ayah Ayunda, H. Dani Moerdjani, anggota TNI dengan pangkat terakhir Kolonel yang berasal dari Rawa Bunga, Jakarta Timur, menjadi modal kuat pembentukan karakter kepemimpinan Ayunda sejak kecil. Sedangkan Hj. Ni’mah, sang ibu, berasal dari Cikini, Jakarta Pusat, juga membentuk sisi feminin yang kuat pada diri Ayunda. 
Selain sebagai abang none, Ayunda ternyata juga jagoan dalam menulis. Terbukti, Ayunda pernah menulis buku tentang budaya betawi dengan judul “Nuju Bulanin ala Betawi (2011) dan Pernak Pernik Abang & None (2011). 
Mereka, para kaum muda, sangat salut dengan karakter Ayunda. Sebagai perempuan Betawi yang terpilih sebagai Abang None, ternyata tidak membuat Ayunda berpangku tangan dan hanya menikmati dunia model ataupun layar lebar. 
Seperti karakter Srikandi yang tidak mau berpangku tangan sebagai putri raja, sebagai Abang None dan putri tentara, Ayunda justru punya pengalaman panjang sebagai seorang aktivis. Antara lain, Sekretaris Karang Taruna Kelurahan Pisangan Timur, Sekretaris OSIS SMAN 12, Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya 1977-1979. 
Yang membuat mereka, para aktivis muda angkat topi, Ayunda Sylviana juga berkenan eksis sebagai aktivis organisasi ekstra universitas berpengaruh di Indonesia, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di organisasi berpengaruh ini, Ayunda sempat menjadi Kabid Ekstern Kohati (Korp HMI-wati) HMI Cabang Jakarta 1978, serta Wakil Ketua Kohati PB HMI 1981. 
Dengan setumpuk perjalanan cemerlang itu, jika menjadi Wakil Gubernur Jakarta, Ayunda akan menjadi teladan bagi generasi muda DKI Jakarta pada khususnya, dan generasi muda Indonesia pada umumnya. Selama 31 tahun Ayunda mengabdi kepada tujuh Gubernur, Ayunda telah menjabat 11 jabatan strategis. Itu bukan prestasi yang mudah.

Maka, bersama teratai Srikandi yang mereka sematkan kepada Ayunda, jika Ayunda memang harus mengalahkan Bhisma yang menjadi benteng terkuat para kurawa dalam Pilkada DKI Jakarta ini, jangan ragu untuk melepaskan berbagai kesaktian Ayunda. Para Kurawa yang menjadi lawan Ayunda, meskipun memiliki bala tentara dalam jumlah sangat besar, terlalu mudah dikalahkan kalau Bhisma sudah bisa ditumbangkan.

Tak bisa kaum muda pungkiri, terlalu banyak orang baik dan penjunjung moral yang terpaksa harus membela para kurawa. Mereka adalah Prabu Salya, Adipati Karna, Resi Drona, dan juga Maha Resi Bhisma. Padahal, mereka ahli agama, tapi malah membela para kurawa. Begitulah, mungkin, gambaran situasi Pilkada DKI Jakarta pada Februari 2017 mendatang. Meskipun Ayunda hanya merupakan sosok Srikandi, tapi Srikandi adalah penentu kemenangan dalam peperangan melawan Kurawa. 
Percayalah, Ayunda Sylviana Murni. Seluruh kaum muda mengiringimu, membawa jutaan kalung teratai yang akan membersihkan segala kekotoran di Jakarta. Selamat berjuang, Ayunda Sylviana Murni, bersama kalung bunga teratai Srikandi.
PENULIS

Thowaf Zuharon
Penulis Buku Ayat-Ayat yang Disembelih dan Penyuka Wayang, berumah di facebook.com/thowafzuharon.

Editor : Sari Puspita Ayu

Lihat juga...