SENIN, 4 JULI 2016
SUMENEP — Pulang kampung dari perantauan bagi masyarakat di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, merupakan sebauah kebiasaan yang sering dilakukan setiap tahun menjelang lebaran. Sehingga membuat tradisi yang di sebut ‘Toron’ tetap banyak digunakan oleh warga, karena tradisi tersebut merupakan sebuah bentuk penyambung silaturrahmi bagi keluarga serta kerabatnya.
![]() |
| Suasana warga yang merantau dari luar daerah hendak pulang ke kampung halamannya. |
Tradisi Toron akan kebanyakan sudah menjadi keharusan bagi warga di ujung timur Pulau Madura yang merantau ke luar daerah. Karena dengan momentum lebaran dapat menyatukan dan mempererat tali silaturrahmi bersama keluarga, sehingga mereka yang bekerja di luar daerah rata-rata pulang ke kampung halamannya untuk merayakan lebaran.
“Jadi momen hari raya Idul Fitri dalam tradisi ‘Toron’ merupakan simbol untuk memperkuat kembali tali silaturrahmi, dimana dalam satu tahun mereka tidak pernah bertemu dan berkumpul bersama saudara-saudaranya. Sehingga dengan adanya tradisi ‘Toron’ sepertinya membuat rindu untuk pulang ke kampung halaman,” kata Ahmad (45) salah seorang warga Kecamatan Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Senin (4/7/2016).

Disebutkan, bahwa tradisi ‘Toron’ tidak jauh beda dengan mudik atau pulang kampung untuk merayakan momentum kegembiraan hari raya Idul Fitri di kampung kelahiran bersama keluarga dan sanak famili. Sehingga kebanyakan warga yang merantau untuk mencari rezeki pulang membawa hasil jerih payahnya dan merayakan lebaran bersama keluarganya.
“Tradisi Toron ini merupakan komitmen untuk kembali menyambung kembali tali silaturrahim dengan keluarga dan sanak famili yang telah lama tidak pernah terjalin, karena sudah lama tidak bertemu akibat berada di perantauan. Maka dengan momentum hari raya Idul Fitri yang hanya setahun sekali, kebanyakan warga selalu meluangkan waktu untuk pulang kampung,” jelasnya.
Dengan tradisi tersebut membuat masyarakat di ujung timur pulau garam ini, selalu meluangkan waktunya untuk pulang kampung, hal itu terlihat ketika momentum lebaran, mereka yang bekerja di luar daerah, luar negeri kebanyakan merayakan Idul Fitri di kampungnya. Sehingga setelah lebaran mereka akan kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
“Kami akan sangat senang ketika sudah tiba di kampung halaman, karena sudah satu tahun kita tidak bertemu bersama keluarga. Makanya tradisi ‘Toron’ ini harus tetap dilestarikan agar penyampung silaturahmi tetap terjaga,” paparnya. (M. Fahrul)