Kepil si Penarik Tambang Kapal Bekerja Lebih Sibuk Kala Arus Mudik

SENIN, 4 JULI 2016

LAMPUNG — Sebelum pemudik atau penumpang naik atau turun dari kapal, terdapat aktifitas yang sangat penting, yakni petugas yang menambatkan tali kapal saat kapal akan bersandar dan melepaskan tali tali kapal saar kapal akan meninggalkan dermaga. Setiap dermaga khususnya Pelabuhan Bakauheni Lampung memakan waktu sekitar 45 menit hingga 60 menit sesuai dengan ketentuan otoritas kepelabuhan.
Petugas penarik tali kapal tersebut dikenal dengan nama kepil. Berseragam orange dengan area kerja sekitar border atau tempat diikatkannya tali kapal ke dermaga dan terbuat dari baja, dan di tanam pada bibir dermaga. Para kepil selalu siaga sesaat sebelum kapal sandar dan sebelum kapal berangkat.
Selama angkutan arus mudik berlangsung,petugas yang dikenal dengan sebutan kepil tersebut melakukan tugas dengan lebih sigap dan cepat dengan pembatasan waktu sekitar 15 menit dibandingkan waktu biasanya. 
Menurut salah satu petugas kepil, M. Rusli, dalam istilah kepelabuhan dirinya biasa juga disebut mooring service yang bertugas dalam mengikatkan tali cross (tali kapal) ke bolder.
“Kami memiliki sistem kerja beregu yang bertugas mengambil tali kecil dari petugas kapal yang akan bersandar selanjutnya menarik tali kecil tersebut yang terhubung dengan tali kapal besar untuk ditambatkan,”ungkap Rusli saat ditemui media Cendana News di dermaga tiga Pelabuhan Bakauheni, Selasa sore (4/7/2016).
Ia bersama sekitar empat petugas kepil lainnya harus bahu membahu menarik tali kapal yang beratnya diperkirakan mencapai satu ton dengan kemampuan menahan bobot kapal di atas 5000 GT. Beberapa tali kapal diantaranya diikatkan sebanyak dua tali di bagian haluan dan dua tali di bagian buritan dengan masing masing mencapai panjang sekitar 15 meter lebih.
Kesibukan tersebut bukan tanpa resiko karena menurut Rusli, proses menambatkan tali kapal merupakan sebuah langkah untuk menambatkan benda dengan ukuran berbeda untuk masing masing kapal diantaranya panjang 90 meter dan beberapa kapal memiliki panjang lebih dari 100 meter khusus kapal yang bersandar di dermaga tiga Pelabuhan Bakauheni. Saat cuaca sedang tak bersahabat olah gerak kapal yang lama mengakibatkan proses menambatkan tali ke bolder bukan perkara mudah ditambah proses melempar tali kecil yang dilakukan secara manual.
“Beberapa kapal memiliki fasilitas menembakkan tali kapal kecil sehingga saat dilemparkan memiliki jangkauan cukup jauh namun sebagian besar dilempar dengan cara manual ini yang menyulitkan saat cuaca berangin,”ungkap Rusli.
Kecepatan angin, alun gelombang di sekitar dermaga diakui Rusli dan kawan kawannya sesama kepil sangat menentukan proses memindahkan tali dari buritan kapal ke daratan yang ditunggu oleh para kepil. Rusli bahkan mengakui tugas berat saat cuaca buruk dan malam hari dengan angin kencang pernah mengakibatkan proses pelemparan tali lebih dari 15 menit akibat alun dan angin.
Kondisi angin tenang dengan cuaca bersahabat bahkan bukan jaminan, saat kecerobohan dilakukan oleh petugas kepil alih alih ingin menyandarkan kapal,Rusli mengaku ada satu rekannya pernah mengalami insiden tertarik tali kapal berukuran besar akibat kurang hati hati. Kurang hati hati dalam bertugas bahkan pernah mengakibatkan salah satu rekannya meninggal dunia akibat terlilit tali berdiameter lebih dari 25 centimeter.
“Kuncinya konsentrasi dan bekerja dengan sungguh sungguh dan harus memperhatikan keselamatan rekan rekan lainnya saat bertugas karena pekerjaan selama beberapa menit sangat berharga,”ungkapnya.
Ia mengakui selama proses labuh atau saat posisi kapal yang melego jangkar disekitar wilayah pelabuhan, sebelum bersandar saat arus balik lebaran di dermaga akan semakin membuatnya berhati hati terutama kapal harus melakukan olah gerak dengan berhati hati agar kapal bersandar dengan selamat.
Waktu jeda setelah tugas menambatkan kapal biasanya dilakukan oleh regu kepil lainnya dengan mengarahkan kendaraan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan mengambil tiket dari para pengemudi. Sebagai sebuah rasa terima kasih terkadang pengemudi terutama truk dan bus masih memberikan sejumlah uang sebagai uang parkir.
“Tidak memaksa namun semuanya diberikan dengan ikhlas dan rata rata mengetahui tugas kami yang berat dan beresiko memberi uang untuk tambah tambah membeli minum dan makan di pelabuhan,”ungkapnya saat istirahat sesudah menambatkan tali kapal Duta Banten di dermaga tiga
Ia menyadari tugas sebagai seorang petugas kepil merupakan sebuah tanggungjawab yang harus diemban dan pekerjaan membutuhkan tenaga fisik yang tak sedikit. Kala puasa ia yang tetap menjalankan ibadah puasa, Rusli mengakui menjelang dua hari Idul Fitri 2016 dirinya masih ingin memberikan nafkah untuk isteri dan anak anaknya. Mengandalkan gaji dengan hasil keringatnya sendiri membuatnya siap menghadapi lebaran, meski dirinya akan mendapat cuti sekitar tiga hari setelah lebaran.
Seperti layaknya seluruh petugas dalam operasi Ramadniya Krakatau 2016 dengan harapan harapan zero accident (minim kecelakaan) dirinya tetap ikut berdoa agar aktifitas pelayanan di pelabuhan Bakauheni berjalan dengan normal dan tidak terjadi kecelakaan. Harapan dan doa semua pihak termasuk petugas kepil dan semua orang yang mudik merayakan lebaran dengan selamat di rumah masing masing setelah melalui arus mudik.
[Henk Widi]
Lihat juga...