BANDUNG — Penyusunan hak siar pertandingan sepak bola domestik seakan memihak kepada tim mapan, dimana porsi tayang tim berkembang di layar kaca cenderung sangat minim. Hal tersebut tampak pula di turnamen Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 garapan PT. Gelora Trisula Semesta (GTS).
Misalnya saja laga Persib Bandung, yang notabene salah satu tim besar di Indonesia selalu memiliki jatah siar di waktu yang strategis, yakni berada di akhir pekan.
Direktur Kompetisi dan Regulasi PT. GTS, Ratu Tisha Destria tak ingin kondisi tersebut disebut monopoli hak siar. Ia mengklaim, pihaknya berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan industri dengan tumbuh kembang setiap tim.
“Jangan dibilang monopoli, itu tidak bisa. Kita tidak mau juga mengembangkan liga kita,” ujar Tisha.
Di TSC 2016, jadwal pertandingan dan siaran langsung menjadi salah satu pertimbangan pendapatan untuk klub. Namun selain rating televisi ada pula acuan lainnya, yakni prestasi tim itu sendiri.
“Klub lain harus belajar sesuatu jika ada komposisi yang demikian. Karena komposisi itu tidak diambil hanya semata gara-gara TV, tapi gara-gara (prestasi) klub,” paparnya.
Ia tak menampik, sepak bola di negeri ini sudah menjadi industri, dimana ada kebutuhan kepentingan dari segi komersil. Tim yang sedang berkembangi seharusnya bisa terpacu mengimbangi dengan prestasi.
“Kalau memang ada yang kurang mari diperbaiki. Jangan melihat ini kesenjangan tapi aspek keolahragaan salah satu aspek keolahragaan adalah menerima kekalahan dan menghargai kemenangan, berbesar hati untuk ke depan lebih baik,” katanya.
Tisha optimis, gelaran sepakbola di Indonesia tak hanya memihak kepada tim mapan saja. Mengingat acuan dari rating televisi pun bobotnya akan dilimpahkan kepada dua tim yang bertanding.
“Karena kan tidak tahu yang menonton itu suporter dari tim yang mana,” pungkasnya. (Rianto Nudansyah)