MINGGU, 26 JUNI 2016
LAMPUNG — Puluhan perempuan bersama anak-anaknya tampak sibuk mengadoni tepung bahan kemplang, mencetak, mengukus, memanggang hingga memasukkan kemplang dalam kemasan plastik di usaha pembuatan camilan tradisional kerupuk kemplang ikan milik Sulistyono (45). Usaha yang ditekuni oleh Sulistyono dan sang Isteri, Yani (40) tersebut ditekuni keluarga tersebut sejak belasan tahun lalu.

Sulis, demikian ia akrab dipanggil mengungkapkan, pembuatan kerupuk kemplang menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran setiap tahun memang mengalami peningkatan hampir sekitar 50 persen. Permintaan akan camilan tradisional sebagai oleh oleh saat arus mudik dan arus balik lebaran sangat tinggi. Tak mengherankan produksi yang dilakukan oleh industri rumahan di Dusun Karanganyar, Desa Klaten Kecamatan Penenengahan tersebut bergairah dan memberi sumber penghasilan bagi warga sekitar.
Disebutkan, saat hari biasa, kerupuk kemplang yang dijajakan lengkap dengan sambal tomat tersebut rata rata memproduksi sekitar 400-500 ball sebulan, namun saat memasuki bulan Ramadhan pekan kedua, permintaan dari sejumlah pedagang pengecer dan toko memaksanya memproduksi lebih banyak kerupuk kemplang.
“Dua pekan sebelum lebaran, permintaan oleh pedagang di sekitar Provinsi Lampung di Pulau Sumatera dan Provinsi Banten di Pulau Jawa terus berdatangan,”ungkap Sulis sambil melakukan proses pencetakan kerupuk kemplang saat ditemui Cendana News di rumah sekaligus tempat usahanya, Minggu (26/6/2016).
Dijelaskan, proses pembuatan mulai dari pencampuran adonan, pencetakan, pengkusan, penjemuran hingga pemanggangan dan pengepakan pun rata rata dikerjakan kaum perempuan.
“Perempuan di sekitar sini rata-rata petani dan saat ini belum musim tanam sehingga bisa bekerja membuat kemplang, cukup membantu dan mereka memperoleh penghasilan tambahan untuk persiapan lebaran,”ungkap Sulis.
Melalui distributor serta pedagang pengecer, kerupuk kemplang buatan Sulis tak hanya merajai penjualan di sejumlah tempat oleh oleh di Lampung dengan merk dagang, “Kemplang Ikan Belida” meski bahan baku pembuatan bukan ikan belida.
Ia mengaku produksi camilan tersebut memakan waktu tiga hari mulai dari pengadonan hingga siap dipanggang terutama pada musim kemarau proses penjemuran akan semakin cepat. Saat hari biasa Sulis mengaku membutuhkan tepung untuk pembuatan kerupuk kemplang sebanyak 50-60 kilogram sementara selama Ramadhan dengan adanya banyak pesanan ia menyiapkan adonan sebanyak 80-100 kilogram dan langsung dicetak hingga dijemur.
Tingginya permintaan berdampak pada kenaikan harga, satu bungkus yang berisi rata rata 15-18 kerupuk kemplang semula seharga Rp2.500 menjadi Rp3.500. Peningkatan harga tersebut Sulis merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.
“Saya tentunya harus memperhatikan kesejahteraan karyawan mendekati hari raya dengan memberi tunjangan hari raya dan melihat harga di pasaran makan saya berhitung untuk memberi keuntungan bagi pekerja juga,”ungkap Sulis.
Selain hal itu ia mengakui harga harga bahan baku selama bulan suci ramadhan juga mengalami kenaikan sehingga mau tak mau dirinya harus meningkatkan harga. Selain menangani para pekerja ia juga langsung menangani proses pembuatan adonan untuk mempertahankan kualitas cita rasa kemplang buatannya.
Modal produksi yang ia siapkan terutama untuk pembelian bahan baku diakui Sulis juga menggalami peningkatan dari biasanya Rp.1,5 juta menjadi Rp.3juta mulai dari pembelian tepung, ikan sarden serta pembelian anglo dan arang yang harus disiapkan lebih banyak menjelang lebaran seiring dengan peningkatan produksi dan pesanan.
Cita rasa yang khas dari kerupuk kemplang ikan buatan industri rumahan Sulis tak diragukan terutama proses pembuatan kemplang yang dibakar menggunakan cara manual. Beberapa perempuan menjepit kemplang yang sudah kering dari penjemuran, memangganngnya di atas bara api menyala hingga kerupuk mengembang dan akan dipukul menggunakan kayu untuk lebih mengembangkan ukuran kerupuk.

UKM Perlu Mendapat Perhatian Pemerintah
Tingginya permintaan akan camilan tradisional di dusun Karanganyar tersebut membuat beberapa perempuan yang sehari hari tidak memiliki pekerjaan tetap bisa mendapat penghasilan tambahan. Pengamat Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Lampung Selatan, Siti Maimunah (39) mengakui sektor usaha kecil yang mempekerjakan perempuan saat ini merupakan usaha yang terus eksis dan bertahan.
Berdasarkan pengamatan dan pendataan yang ia lakukan, khusus di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Penengahan, sektor usaha tersebut banyak digeluti oleh kaum perempuan diantaranya usaha pembuatan keripik pisang, usaha pembuatan keripik jagung, usaha pembuatan kerupuk kemplang, usaha pembuatan kerajinan kain perca.
“Usaha usaha semacam tersebut kerap kurang diperhatikan padahal sektor UKM sangat memiliki andil dalam peningkatan ekonomi keluarga dan itu tak bisa disangkal, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari hari juga bisa untuk ditabung,”ungkap Siti.
Aktifitas kaum perempuan tersebut bahkan meningkat saat menjelang lebaran dan hal tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan produk panganan lokal keluar daerah. Ia bahkan mengungkapkan beberapa toko penjualan oleh oleh di Lampung yang berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) merupakan sebuah pasar terbuka yang memberi kesempatan kepada kaum perempuan untuk memasarkan hasil produksi pertanian, perkebunan lokal dalam bentuk olahan. Siti mencontohkan, keripik pisang, kopi bubuk, berbagai produk panganan olahan merupakan hasil pertanian dan perkebunan asli Lampung yang bisa dijual untuk peningkatan ekonomi kreatif.
“Tapi sebagian pemilik usaha kecil mengaku bantuan dari pemerintah masih bersifat terputus dan untuk mendapat pinjaman lunak dari bank atau pemerintah pun mereka kesulitan untuk pengembangan usaha tersebut,”ungkap Siti.
Ia mengakui dengan banyaknya waralaba yang menjamur di sejumlah daerah membuat produsen camilan pabrikan marak di pasaran. Namun bagi masyarakat apalagi menjelang lebaran permintaan yang tinggi dari konsumen membuat kesempatan untuk menyajikan pilihan beragam dan unik serta khas bagi pengrajin makanan tradisional.
“Tampilan yang menarik dan unik suatu daerah pasti akan diminati terutama saat pemudik akan pulang kampung oleh oleh khas kemplang salah satunya seolah menjadi produk khas daerah Lampung,”ungkapnya.
Peluang usaha tersebut yanbg dilirik oleh pemilik usaha kecil menengah dengan menyasar konsumen dari luar pulau dan pemudik dari kota kota besar lain dipastikan mengingingkan makanan yang khas yang tak ditemukan di daerahnya dan di tempat lain. Akibatnya bagi masyarakat yang kreatif seperti Sulistyono dan keluarganya bisa mendongkrak produksi camilan jenis kemplang tersebut.

Pantauan Cendana News nyaris di sejumlah warung pinggir jalan dan toko oleh oleh, camilan berbagai jenis hasil kretifitas masyarakat Lampung terutama hasil perkebunan dan olahan tradisional terpajang. Selain pada hari biasa, jumlah produk yang dipajang saat menjelang Ramadhan membanjiri toko toko tersebut yang siap dibeli oleh pemudik yang akan kembali ke Pulau Jawa dan membawa oleh oleh dari daerah Lampung. Gairah produksi usaha kecil menengah pun mulai menunjukkan peningkatan seiring dengan semakin dekatnya lebaran. Sulis yang semula hanya memproduksi 400-500 bal kerupuk kemplang bahkan kewalahan memenuhi permintaan yang nyaris tembus 1000 ball sebelum lebaran.
[Henk Widi]