Keberadaan Anak Buruh Migran di NTB Masih Kerap Didiskriminasikan

MINGGU, 19 JUNI 2016

MATARAM — Sikap dan perlakuan diskriminatif di Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama Pulau Lombok tidak saja seringkali menimpa perempuan istri Buruh Migran yang ditinggalkan suaminya ke Malaysia dengan sebutan janda Malaysia

Tapi perlakuan diskrimatif juga banyak menimpa dan dialami anak – anak BM, terutama anak BM perempuan korban majikan dengan panggilan tempat ibunya bekerja
“Perlakuan diskriminatif dialami anak BM perempuan korban majikan misalkan dengan memanggil anak bersangkutan, sesuai negara tempat ibunya bekerja seperti anak Arab Saudi ” kata Direktur Yayasan Tunas Alam, Suhardi di Mataram, Minggu (19/6/2016)
Perlakuan tersebut bahkan tidak saja dilakukan orang dewasa, tapi juga banyak dilakukan anak – anak melontarkan kata –  kata berkonotasi negatif tersebut dan secara tidak langsung, lama kelamaan akan berpengaruh terhadap psikologi anak
Untuk itulah, saat ini selain aktif melakukan advokasi dan pendampingan kepada anak – anak BM, pihakny terus berupaya aktif memberikan penyadaran kepada masyarakat dengan melakukan kampanye stop perlakuan diskriminatif terhadap anak buruh migran
“Proses advokasi dan pendampingan terhadap anak BM oleh Yayasan Tunas Alam sendiri masih difokuskan di di Kabupaten Lombok Timur sebagai Kabupaten dengan kanting buruh migran terbesar, yaitu Desa Lenek dan Desa Wanasaba” tutur Suhardi
Ditambahkan pihknya juga akan terus mendorong pemerintah, baik pemerintah. Kbupaten Kota maupun pemerintah Provinsi NTB supaya bisa lebih peduli terhadap anak BM, melalui prodak kebijakan yang pro anak buruh migran.(Turmuzi)
Lihat juga...