Empat Zaman, Masjid Laweyan Jejak Penyebaran Islam di Solo

KAMIS, 9 JUNI 2016

SOLO — Penyeberan Agama Islam di Kota Solo, Jawa Tengah tak lepas dari keberadaan sebuah kampung Laweyan, yang merupakan daerah di pinggir Sungai Jenes, anak sungai yang terhubung dengan Sungai Bengawan Solo. Siapa sangka masjid yang saat ini masih kokoh berdiri menjadi satu-satunya bukti awal mula penyebaran Islam.
Inilah sisa-sisa jejak penyebaran agama Islam di Kota Solo. Masjid  Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 masehi ini awal mulanya merupakan pura atau tempat ibadah umat Hindu Jawa. Masjid Laweyan yang terletak diperbatasan Kota Solo dengan Kabupaten Sukoharjo, menjadi masjid tertua ke dua di Jawa Tengah, setelah Masjid Agung Demak.
Masjid ini didirikan pada masa Pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang. Yakni jauh sebelum berdirinya masjid Agung Solo, pada tahun 1763, dan 300 tahun sebelum berdirinya Kota Solo sendiri. Hebatnya, hingga kini, bangunan masjid ini tampak masih kokoh berdiri, bahkan beberapa ornamen masjid juga masih terjaga dengan baik.
Ketua takmir Majis Laweyan, Achmad Sulaiman kepada Cendana News banyak bercerita tentang sejarah bangunan serta awal mula penyebaran Islam di Solo. Disebutkan, Sebelum berdiri, di lokasi tersebut sudah berdiri Pura, karena saat itu masyarakat setempat masih banyak yang memeluk agama Hindu.
Kisah persahabatan terjadi di daerah ini, antara pendeta hindu yang memiliki Pura, bernama Ki Ageng Beluk, dan Pemuka Agama Kerajaan Pajang, Kiai Ageng Henis, yang masih merupakan cucu dari Prabu Brawijaya ke V.
“Singkat cerita karena kebaikan dan akhlak yang baik yang ditunjukkan oleh Kiai Ageng Henis mendorong Ki Ageng Beluk, masuk agama islam. Setelah itu Pura Hindu diubah menjadi Langgar atau Masjid kecil oleh Ki Ageng Beluk. Hingga akhir hayatnya, Kiai Ageng Henis tetap merawat dan menjaga Masjid Laweyan, tersebut,” ceritanya.
Keberadaan Masjid Laweyan yang berada tepat dipinggir Sungai Jenes, menjadi lokasi yang strategis. Sebab, jauh sebelum ada transportasi darat, transportasi air merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan Solo dengan daerah sekitarnya sampai wilayah Gresik, Jawa Timur, hingga ke Laut Jawa.
“Kalau orang dulu menyebutnya Bandar, sejenis Dermaga yang menghubungkan Solo Raya, sampai ke Gresik. Ini merupakan jalur perdagangan, sehingga banyak saudagar dari berbagai negera yang masuk ke Solo. Termasuk saudagar islam yang turut menyebarkan Islam di Solo,” terangnya.
Tak heran jika Masjid yang bangunan intinya hanya seluas 162 meter persegi ini menjadi saksi sejarah banyaknya saudagar dari berbagai negera yang masuk ke Solo. Masjid inipun sudah melalui empat masa Kerajaan, yakni Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Kartosuro dan Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
“Baru jauh setelah itu, di Laweyan ini muncullah tokoh KH Samanhudi, yang lahir pada 1868 dan mendirikan Sarekat Dagang Islam, dan pada 1912 diubah menjadi Sarekat Islam,” jelasnya.
Selain Masjid Laweyan, keberadaan makam-makam kerabat dari empat kerajaan yang pernah berkuasa serta makam Kiai Ageng Henis, yang berada tepat disamping Masjid Laweyan juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung akan semakin banyak  berdatangan, terutama pada sepuluh hari menjelang lebaran. Kebanyakan dari mereka melakukan iktikaf dan tadarus alquran, atau mendoakan para pendahulu dan pendiri yang telah meninggal dunia.
“Jadi masjid ini berdiri kokoh hingga Solo menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masjid inipun masih dijaga hingga saat ini dan menjadi masjid yang pengelolaanya dilakukan oleh Negera,” pungkasnya. 
[Harun Alrosid]
Lihat juga...