RABU, 1 JUNI 2016
MAUMERE — Anggota badan anggaran (Banggar) DPRD Sikka mempersoalkan dana untuk kegiatan Tour de Flores (TdF) yang dikatakan kurang. Padahal Pemkab Sikka dan DPRD Sikka sudah anggarkan dana sebesar 1,5 miliar rupiah. Persoalan ini disinggung Afridus Aeng, anggota Banggar DPRD Sikka saat ditemui Cendana News, Rabu (1/6/2016).

Dikatakan Afridus, ketika dirinya membaca di media sosial salah satu panitia dari dinas pariwisata dikatakan anggaran yang dikucurkan sebesar 1,2 miliar rupiah masih kurang.
“Saya akan pertanyakan dana pribadi sebesar 250 juta yang katanya dipakai untuk membiayai kegiatan TdF di Sikka,” kata Afridus.
Dari beberapa item kegiatan yang dianggarkan banyak yang tidak dilaksanakan, tetapi kenapa masih terdapat kekurangan anggaran. Kalau sesuai logika harusnya ada dana sisa.
“Seharusnya ada sisa dana, tapi dikatakan kurang. Ini yang kami di dewan juga pertanyakan dan heran, kenapa masih kurang. Tidak masuk akal sama sekali,” kritik ketua fraksi PKPI ini,
Disebutkan, banyak item anggaran syang mubazir dan tidak terpakai, misalnya anggaran bagi peserta TdF mengunjugi tempat wisata. Kenyataannya kegiatan ini tidak terjadi.
Yang kedua, item kegiatan transportasi, banyak kendaraan yang dikatakan akan disewa dari masyarakat di Sikka. Ternyata beber Afridus, ada juga aksi dari sopir travel terkait tidak dipergunakannya kendaraan mereka dan hanya satu dua saja yang dipakai.
“Ini menjadi pertanyaan kita, kemana saja anggaran yang sudah dialokasikan,” ungkapnya berang.
Pemakaian anggaran sebutnya tidak sesuai, seharusnya dana yang dikeluarkan bisa terserap oleh masyarakat Sikka tapi nyatanya tidak. Dana APBD Sikka dipergunakan membayar mobil dari luar daerah sementara masyarakat Sikka juga memiliki mobil.
Yang kedua, item anggaran untuk penyediaan umbul-umbul dimana sudah dianggarkan tapi selama TdF yang dilihat hampir tidak ada umbul-umbul TdF milik panitia lokal.
“Umbul-umbul yang ada hanya milik masyarakat, instansi pemerintah dan swasta saja yang secara sukarela memasangnya sepanjang jalur lintasan,” ungkapnya.
Ini juga yang jadi pertanyaan anggarannya lari kemana. Selain itu tentu masih ada juga item kegiatan dan anggaran yang secara teknis tercecer dan menimbulkan kesan kurang baik.
[Ebed De Rosary]