MINGGU, 22 MEI 2016
ENDE — Warga masyarakat kota Ende dan beberapa wilayah seputar kota Ende merasa kecewa dengan perilaku pemerintah kabupaten Ende dan EO Tour de Flores yang mengadakan gala dinner atau jamuan makan malan yang terkesan eksklusif.

Jamuan makan malam yang sedianya diperuntukan bagi rombongan peserta Tour de Flores (TdF) yang dilaksanakan Jumat (20/5/2016) di Museum Tekstil Ende hanya dihadiri Menteri Perindustrian RI, Saleh Husein; Bupati Ende, Marsel Petu dan jajajaran pimpinan SKPD dan Forkopimda.
“Kami mau nonton acara yang ditampilkan juga tidak bisa karena tempatnya tertutup. Ini pakai dana APBD tapi kenapa masyarakat tidak dilibatkan menonton acara ini,” ujar Ferdinandus Kare warga Ende saat ditemui Cendana News, Sabtu (21/5/2106) sore.
Dikatakan Ferdi sapaannya, Pemkab Ende terkesan hanya menghaburkan uang saja untuk menjamu pejabat. Hal ini berbeda dengan kabupaten Sikka dan Flotim seperti diceritakan saudaranya, dimana masyarakat sebut Ferdi ikut terlibat dan menikmati acara pentas seni dan menyantap makanan lolak yang disediakan.
“Di Maumere dan Larantuka acaranya dibuat di tempat terbuka sehingga masyarakat juga bisa menonton. Kenapa di Ende dibuat di museum tekstil yang tempatnya dikelilingi tembok dan masyarakat dilarang masuk menyaksikannya,” tuturnya.
Ferdi pun berharap agar Pemkab Ende harus mempertanggungjawabkan dana yang dipakai untuk kegiatan TdF yang begitu besar. Ferdi mendapat informasi dari temannya di Moni, ternyata hanya 15 orang dalam rombongan TdF mengunjungi Kelimutu.
“Katanya akan berdampak bagi masyarakat tapi kenyataannya lain. Kunjungan ke tempat wisata dibatalkan padahal masyarakat sudah siap menyambut pembalap,”sesalnya.
Maria Sisilia warga Ende lainnya yang ditemui di Taman Bung Karno di hari yang sama juga menyesalkan kerja panitia yang tidak profesional. Dikatakan Maria, jika dilihat acaranya bagus dan positif bagi promosi Flores tapi kerja panitia tidak berbobot.
“Kan lihat sendiri, pebalap sudah masuk finis baru panggungnya dikerjakan. Acara lainnya juga tidak ada paling hanya makan-makan pejabat saja,” kritiknya.
Cendana News yang meliput even ini pun bingung. Konferensi pers di Ende bersama pebalap dimanfaatkan masyarakat untuk berfoto bersama pembalap. Wartawan kesulitan mengambil gambar dan wawancara karena panggung belum dikerjakan dan podium pun tidak ada.
Sebuah podium darurat yang disiapkan bagi pembalappun sangat pendek. Yang lebih mengenaskan, dua jam usai pebalap finis, ruangan media center di tiadakan, kabel listrik, internet dan perabotan dikemas dan dibawa pergi.
“Kami media lokal juga bingung mau tanya informasi dimana terkait TdF karena media center tidak berfungsi,” kata Simon Welan rekan wartawan lokal.
Selama meliput TdF sejak dari Larantuka hingga Bajawa, Cendana News menyaksikan antusias dan keterlibatan masyarakat hanya terlihat di kabupaten Sikka dan Flotim. Saat pembukaan di Flotim, masyarakat bebas makan kuliner yang disiapkan sepanjang jalan sejauh 2 kilometer tanpa membayar.
Selain keluhan pebalap soal hotel dan sopir mobil rombongan yang tidak mendapat makan saat di Larantuka, Cendana News mencatat, pengamanan jalur lintasan sejak dari Larntuka hingga Maumere amburadul.

Media lokal di Sikka sempat bersitegang dengan EO pusat karena tidak diperkenakan meliput kegiatan. Media lokal di NTT yang meliput pun tidak di data secara pasti dan dilibatkan dalam kegiatan ini.
[Ebed De Rosary]