SENIN, 16 MEI 2016
MAUMERE — Puluhan sopir travel yang sehari-hari bertugas melayani penumpang di bandara Frans Seda Maumere melakukan protes kepada Kadis Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Sikka dan EO Alsemak dari pusat karena tidak dilibatkan mengangkut penumpang.

Para sopir mengaku kesal karena sebagai pengemudi yang setiap hari mengangkut wisatawan maupun penumpang dari bandara ke hotel, angkutan milik mereka tidak satu pun dipakai panitia.
“Panitia hanya memakai kendaraan gtravel baik bus maupun mobil pribadi dari kabupaten lain di luar Sikka sementara kami sebagai tuan rumah tidak dilibatkan,” ujar Bonavensius.
Bonavensius dan puluhan sopir lainnya mengaku tidak mendapat penghasilan sama sekali saat kedatangan peserta TdF dan mengaku sangat kecewa terhadap pemerintah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga tidak ada konfirmasi lagi padahal minggu lalu tutur Bonavensius pihaknya disuruh siapkan mobil dan akan disewa.
“Event ini sangat besar tapi dampaknya buat kami tidak ada, jadi kami sangat kecewa,” kata Bonavensius kesal.
Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka, Kensius Didimis saat ditanyai Cendana News di saat bersamaan mengatakan, penyewaan mobil merupakan komitmen yang dilakukan EO dari pusat. Persoalan hari ini sambungya menjadi pembelajaran ke depannya.
Soal transportasi seharusnya dipergunakan kendaraan lokal dahulu tapi dirinya mengaku langkah yang ditempuh EO tanpa dikonfirmasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sikka. EO pusat hanya menyampaikan bahwa ada share dana untuk penyewaan mobil ini.
“Saya tidak ikuti soal penyewaan mobil ini, jadi intinya keprihatinan para sopir taksi airport menjadi keprihatinan saya juga. Kami juga sudah siapakn 45 unit kendaraan yang akan digunakan dan itu semua kendaraan yang ada di Maumere harusnya teman-teman sopir dan pemilik kendaraan di Maumere yang harus dilibatkan,” sebut Kensius.
Robert Ketua Protokol dan Seremoni Panitia Tour de Flores pusat dalam dialog bersama pengemudi di bandara menjelaskan, karena panitia mendapat sponsor dan ditentukan harus menggunakan mobil merek sponsor.
Situasi ini sambung Robert membuat panitia pusat harus mengambil kendaraan dari daerah lain karena mobil travel merek ini yang ada di Maumere sangat kurang. Yang kedua, UCI dan Indonesia Grand Prix konsultan penyelenggara mengatakan semua kendaraan harus sesuai standar internasional.
“Kami juga panik karena waktu sangat terbatas sehingga kami terpaksa mengambil kekurangan dari daerah lain. Bus yang diambil juga kami datangkan dari daerah lain karena bus di Maumere warnanya tidak seragam. Persiapan kami juga Cuma 8 bulan dan ini blessing in disguise buat kami,” sebut Robert.
[Ebed De Rosary]