LAMPUNG — Puluhan warga di Dusun Cilamaya Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan mengeluhkan debu beterbangan dari material tanah yang terbawa angin dari kendaraan kendaraan dum truk untuk penimbunan proyek Jalan Tol Trans Sumatera di titik 4.000 meter dari titik nol Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Selain debu yang mengotori rumah warga yang tidak terdampak Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggi Besar warga juga mengeluhkan suasana bising yang ditimbulkan oleh alat alat berat pekerja proyek JTTS.
Salah satu warga di Dusun Cilamaya, Sarmin (39) yang berada sekitar 12 meter dari lokasi terdampak tol Trans Sumatera mengaku kondisi rumahnya yang berada tak jauh dari lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera bukanlah rumah terdampak dan menerima ganti rugi lahan tol Trans Sumatera. Meski tak terdampak langsung ia mengaku justru menerima langsung dampak proyek JTTS berupa debu dan bising mesin alat berat.
“Saya tinggal di sekitar proyek jalan tol Trans Sumatera meski tidak mendapat kerugian dari ganti rugi lahan dan tempat tinggal namun justru terdampak dengan kiriman debu dan bising,”ungkap Sarmin.
Akibat debu yang beterbangan, warga bahkan tidak berani membuka pintu dan jendela karena mengotori perabotan rumah tangga serta mengganggu kesehatan warga. Warga bahkan mengaku sebagian anak anak menderita penyakit Insfeksi Pernafasan Atas (Ispa) berupa batuk batuk dan flu.
Terkait bising suasana mesin alat berat yang melakukan land clearing (pembersihan lahan) oleh PT LMA yang menyediakan alat alat berat untuk proyek jalan tol trans Sumatera yang dilakukan oleh PT Pembangunan Perumahan (PP). Alat berat tersebut mulai bekerja dari pukul 08:00 WIB pagi hingga pukul 22:30 WIB sehingga mengganggu istirahat warga yang berada di sekitar lokasi terdampak tol Trans Sumatera.
Sebagian warga tersebut mengaku bukan warga terdampak lahan Tol Trans Sumatera seperti warga lain yang memiliki hak atas ganti rugi lahan Tol Trans Sumatera sesuai alas hak yang dimiliki.
Selain mengeluhkan kondisi debu dan suara bising, warga juga mulai mengkuatirkan lokasi lahan berbatu yang akan diratakan dengan metode peledakan. Warga terdampak jalan tol Trans Sumatera yang berada di radius terdekat dengan lokasi peledakan menurut kepala dusun Cilamaya, Ishar, mengaku akan melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan peledakan tersebut.
“Sebelumnya seperti di wilayah Dusun Bunut dan Way Baru terkait rumah rumah yang retak akibat aktifitas peledakan sudah dilakukan pengecekan oleh perusahaan PP dan Dahana”ungkap Ishar.
Masyarakat di wilayah Cilamaya menurut Ishar akan mendapat sosialisasi terkait aktifitas peledakan yang akan dilaksanakan. Sosialisasi dilakukan dengan memberitahu kepada warga agar tidak mendekat di lokasi peledakan terutama anak anak dan jika ada rumah warga yang terdampak dengan mengalami keretakan akan langsung disurvei.
“Survei akan dilakukan jika ada warga yang mengeluh mengalami keretakan bisa melaporkan dan jika terbukti keretakan diakibatkan peledakan maka akan direnovasi oleh perusahaan”ungkap Ishar.
Selain warga yang tidak terdampak Jalan Tol Trans Sumatera, puluhan warga terdampak Tol Trans Sumatera juga terus melakukan perjuangan untuk mendapatkan haknya. Warga kecewa kepada pemerintah, setelah ratusan warga terdampak lahan tol sudah menerima uang ganti rugi lahan, meliputi ganti rugi tanam tumbuh, ganti rugi lahan, ganti rugi bangunan, Namun dilain sisi, masih ada warga di Cilamaya Bakauheni belum menerima uang ganti rugi.
Menurut salah satu warga setempat, Marjaya, yang memiliki lahan sebagian bahkan baru menerima uang ganti rugi tanam tumbuh dengan nilai belasan juta rupiah. Salah satu persoalan kepemilikan tanah yang dimiliki warga dan bersengketa dengan pemilik lain, mengakibatkan uang ganti rugi lahan tol belum bisa dicairkan.
“Persoalan kepemilikan lahan diindikasi karena ada oknum yang terlibat dan bermain, sehingga tumpang tindih kepemilikan lahan terjadi dan berakibat sulitnya pencairan uang ganti rugi lahan tol yang seharusnya menjadi hak kami,”ungkapnya.
Pantauan Cendana News, proses penyiraman jalan berdebu hanya dilakukan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera yang dilalui kendaraan umum sementara di dekat perumahan warga debu masih terus beterbangan dan mengganggu warga.