SELASA, 31 MEI 2016
MAUMERE – Bantuan hewan bagi kelompok tani yang selama ini diguyurkan oleh dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan baik oleh provinsi NTT maupun kabupaten selalu bermasalah.
![]() |
| Ir.Oswaldus,Msi petani sukses sekaligus anggota Komisi II DPRD NTT. |
Bantuan yang diberikan tanpa melihat infrastruktur yang tersedia di kelompok tani sehingga bantuan hewan ternak yang diberikan sering mati dan kadang dijual.
Hal ini disampaikan Ir.Oswaldus,Msi anggota Komisi II DPRD NTT saat ditemui Cendana News,Senin (30/5/2016).Dikatakan Oswaldus,DPRD NTT sudah merekomendasikan agar pengadaan sapi di instalasi pemprov NTT di tiadakan tahun 2016.
“DPRD NTT sudah rekomendasikan agar tahun 2017 mulai disiapkan infrastrukturnya dan sapinya dibagikan kepada peternak melalui sentra-sentra peternakan rakyat,” ujarnya.
Kelemahan pemerintah papar anggota DPRD Dapil NTT V ini, tidak menyiapkan infrastruktur memadai.Harusnya infrastruktur disiapkan secara baik dahulu baru ternaknya dibagikan.
“Di instalasi milik Pemrov NTT saja sapi mati karena ketiadaan pakan.Ini kan sebuah keanehan,pengerjaan tanpa perencanaan matang,” tambahnya.
Yang harus dilakukan untuk meningkatkan populasi ternak beber Oswaldus,yang pertama menjaga kualitas dari parenting stok untuk pembibitan.Pakan dan air menjadi syarat penting disamping tenaga kesehatan hewan yang menangani,baik itu di sentra peternakan rakyat atau di instalasi milik pemerintah.
“Ada kalanya diadakan sapi terlebih dahulu baru dicarikan pakannya harusnya disiapkan pakan terlebih dahulu baru diberikan bantuan sapi,” sarannya.
Populasi sapi di NTTsesalnya,sebenarnya tidak bertambah kalau hanya mengambil sapi dari satu daerah di luar NTT dan dikembangbiakan di NTT atau mengambil dari daratan Timor dan dikembangkan di Flores.
![]() |
| Sapi yang diikutsertakan dalam kontes ternak sapi tingkat provinsi NTT 2016. |
Ini tidak baik sambung Oswaldus,karena sapi butuh adaptasi.Lebih baik pintanya,datangkan sapi yang siap berproduksi.Selama ini,sapi yang dbawa kan besarnya juga tidak jauh berbeda dengan kambing.
Di Flores sebetulnya bisa jadi sentra produksi sapi karena masing-masing kabupaten mempunyaikawasan peternakan, di Sikka sendiri saja memiliki 4kawasan peternakan
“Kalau mau NTT jadi provinsi ternak,pemerintah harus mulai menyiapkan infrastrukturnya secara baik dahulu dan dipetakan secara baik potensi peternakan di NTT,” terangnya.
Oswaldus juga mempersoalkan hadiah yang diberikan kepada pemenang kontes sapi tingkat provinsi NTT dimana juara pertama hanya mendapat uang sebesar 5 juta rupiah.
Seharusnya harapnya,hadiahnya harus besar agar bisa memotivasi petaninatau peternak dan pendamping petani untuk berinovasi memelihara ternak yang sehat dan berkualitas dan bisa meningkatkan populasi ternak.
‘Kalau hadiah uangnya untuk beli seekor sapi saja tidak cukup,bagaimana kita bisa memotivasi petani dan pendamping agar cita-cita provinsi ternak bisa terwujud,” pungkasnya.(Ebed De Rosary)
