Nahkoda Kapal Brahma 12 Beberkan Drama Penyanderaan Abu Sayyaf

KAMIS, 5 MEI 2016

SOLO —- Banyak yang disebutkan oleh ABK asal Klaten, Jawa Tengah, Bayu Oktavianto, terkait drama penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok milisi Abu Sayyaf di Filipina. Mulai dari awal penyanderaan, keseharian para ABK selama 37 hari, hingga cerita makanan dan ketersediaan fasilitas ibadah bagi para sandera. Berikut kisah selengkapnya. 
Kala itu, Jumat dini hari, tanggal 25 Maret 2016, Kapal Brahma 12 yang ditumpangi 10 Anak Buah Kapal (ABK), tidak menyangka jika nasib mereka akan menjadi tawanan salah satu milisi Filipina kelompok Abu Sayyaf. Perjalanan dari Banjarmasin menuju Batangas, Filipina Selatan, awalnya berjalan dengan lancar, sampai akhirnya salah satu awak mengetahui ada kapal asing yang mendekati Kapal Brahma 12. 
Kapal Brahman 12 yang dinahkodai Bayu Oktavinto itu awalnya tidak curiga, karena dari kejauhan kapal asing tersebut terlihat tidak berbahaya. Bahkan, saat kapal asing itu kian mendekat, Kapten Kapal Brahma 12 juga tidak curiga, karena salah satu awak kapal asing itu ada yang mengangkat galon kosong. 
“Awalnya dikira mau minta air, karena mengangkat galon kosong. Saat naik kapal, kami juga tidak ada curiga apa pun,” ucap Bayu kepada Cendana News, saat ditemui di rumahnya di Dusun Meniran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, beberapa hari lalu. 
Namun siapa sangka jika niat baik ABK Brahma 12, justru menjadi petaka bagi mereka. Begitu diijinkan naik kapal, awak kapal asing tersebut tidak membawa galon kosong, tetapi senjata api laras panjang dan langsung menodongkan kepada seluruh ABK Brahma 12. Ke sepuluh ABK tidak bisa berbuat banyak, karena selain ditodong senjata api, mereka juga kalah jumlah dengan para milisi Abu Sayyaf. 
“Yang naik kapal jumlahnya sekitar 14 orang, semuanya membawa senjata api. Kita hanya bisa pasrah,” kata Bayu. 
Setelah itu, ke sepuluh ABK ditahan dan diikat, kapal selanjutnya dibawa kelompok milisi Abu Sayyaf berlayar. Ke sepuluh ABK baru diturunkan setelah Jumat malam (25/3), dan dibawa masuk ke hutan. Mereka yang membawa sepuluh ABK berseragam lengkap dengan senjata api seperti anggota keamanan. Setelah sampai di hutan, ABK dibawa dari satu lokasi ke lokasi lain. Bahkan, selama 37 hari ABK selalu berpindah tempat, mulai dari hutan ke hutan sampai dari pulau ke pulau. 
Selama dalam penyanderaan Abu Sayyaf, sepuluh ABK itu kadang dipisah menjadi dua kelompok, tapi terkadang juga dijadikan satu. Terkait kebutuhan makan minum, maupun keseharian lain, ABK mengikuti perilaku milisi Abu Sayyaf. 
“Kalau mereka makan, kami juga makan. Kalau mereka tidak makan, kami juga tidak makan. Demikian juga untuk istrahatnya,” paparnya. 
Selama dalam penyanderaan, Bayu mengaku makanan yang dimakan juga sama dengan kelompok perompak tersebut. Dalam sehari, ABK bisa makan 2 kali. “Makannya nasi dibungkus dengan daun pisang. Kadang juga dengan ketupat,” kata Bayu. 
Bayu juga mengaku tidak pernah diperlakukan kasar oleh kelompok milisi, baik dibentak maupun ditodong dengan senjata. Dalam memberikan intruksi, Bayu tidak paham bahasa mereka, karena mereka menggunakan bahasa daerah. 
“Kalau disuruh jalan, mereka hanya memberikan intruksi dengan isyarat, mereka di kanan kiri dan kita berjalan bersama-sama,” lanjutnya. 
Selain menjamin kebutuhan makan, minum dan istirahat, milisi Abu Sayyaf juga memberi kesempatan ABK untuk menjalankan ibadah. Bahkan, ada ABK beragaman non muslim, yang berpura-pura masuk islam dengan ikut sholat. 
“Ada 3 ABK yang non muslim, tapi mereka pura2 mualaf tujuannya juga biar selamat. Kalau mereka sholat, kita juga sholat,” tambahnya. 
Menurut Bayu, selama dalam sandera Abu Sayyaf, para ABK terkadang juga cemas akan keselamatan mereka. Meski begitu, dalam waktu tertentu ABK juga bisa bercanda. Mereka hanya bisa pasrah saat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Jika melakukan perjalanan siang hari, ABK diberi penutup mata, namun untuk malam hari, ABK tidak menggunakan penutup mata karena kondisi hutan gelap. Saat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain, ABK berjalan hingga menempuh waktu 4-5 jam. 
“Ini hampir terjadi setiap hari. Jadi kita terus berjalan dan berjalan,” ungkapnya. 
Menurut Nahkoda Kapal Brahman 12 itu, jumlah milisi kelompok Abu Sayyaf cukup banyak. Bayu tidak dapat memastikan, namun kisaran anggota milisi mencapai ratusan orang. Selain menggunakan seragam, milisi juga mempunyai senjata api lengkap berbagai ukuran. 
“Senjata mereka besar-besar,” cetusnya. 
Sampai akhir perjalanan ke sepuluh ABK sampai di kediaman Gubernur Abdusakur Tan Jnr, di Pulau Jolo, mereka tidak mengetahui jika dibebaskan kelompok milisi Abu Sayyaf. Sepuluh ABK hanya diminta dua personil milisi untuk naik truk kayu, dan melakukan perjalanan sekitar 4 jam. Mereka akhirnya diturunkan di kediaman Gubernur Abdusakur Tan Jnr, di Pulau Jolo, dan ditanya oleh sang Gubernur terkait asal mereka. Setelah dijamu oleh Gubernur, ABK baru tahu kalau mereka telah dibebaskan. 
“Kami tidak tahu kalau mau dibebaskan, kami hanya pasrah saja. Disuruh jalan kami jalan, nah saat itu ada dua orang yang bersenjata meminta kami naik truk kayu. Setibanya ternyata kami diantarkan ke kediaman Gubernur,” pungkasnya. 
Diyakini Bayu, dibebaskannya sepuluh ABK itu karena telah ada uang tebusan yang diterima Abu Sayyaf. Sebab, selama dalam penyanderaan, Bayu dan rekan-rekannya sempat mendapat ancaman, jika tidak ada tebusan, maka mereka akan dipenggal oleh kelompok milisi Abu Sayaf, seperti yang dilakukan kepada sandera asal negara Kanada.[Harun Alrosid]
Lihat juga...