Luapan Kesembuhan Diwujudkan Lewat Prosesi Keliling Kampung

MINGGU, 22 MEI 2016

LARANTUKA — Tanggal 13 Mei merupakan hari spesial bagi warga desa Lewolaga kecamatan Tite Hena kabupaten Flores Timur. Setiap tanggal tersebut, warga yang mayoritas memeluk agama Katolik melakukan ritual prosesi keliling kampung. Prosesi ini dilakukan guna mengenang wabah penyakit yang melanda wilayah ini tahun 1957 silam. Ikuti kisahnya berikut ini.

alah satu amida yang dibuat menyerupai pondok di tengah kebun, saat prosesi 13 Mei di Lewolaga

Desa Lewolaga terletak sekitar 35 kilometer arah barat kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur. Menjawab rasa penasaran Cendana News pun menyambangi kampung ini saat warga kampung sibuk mempersiapkan diri menggelar ritual.

Dijumpai di sela – sela waktu istirahat selepas membuat Armida ( tempat perhentian saat prosesi ) kepala desa ( Kades ) Lewolaga, Frans Nikolaus Beoang ( 46 ) yang ditemui Jumat  (13/5/2016) menuturkan, setiap tahun di tanggal tersebut warga desa Lewolaga rutin menggelar prosesi yang bukan hanya diikuti warga desa Lewolag tetapi beberapa tahun belakangan dihadiri juga oleh warga desa sekitar bahkan warga dari kabupaten Sikka.

“Tahun ini koor ditanggung paduan suara dari Maumere. Kebetulan pemimpinnya tahun lalu mengikuti ritual ini dan ujud doanya terkabul sehingga kembali hadir membawa anggotanya,“ ujar kades Niko.

Wabah Penyakit

Prosesi setiap tanggal 13 Mei digelar sejak sebelumnya di tahun 1957 desa Lewolaga, Gerong dan Tenawang dilanda wabah penyakit. Dalam sehari 4 hingga 5 orang meningal dunia secara mendadak. Minimnya obat dan dokter menjadikan warga tidak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah. Ritual adat pun jadi pilihan. Meski sudah menggelar ritual adat, kejadian kematian beruntun tidak kunjung reda.

Fransiskus Iku Klasa ( 49 ) saksi hidup peristiwa ini kepada Cendana News menuturkan, saat dirinya sedang bersekolah di Sekolah Rakyat ( SR ) kelas 4 tahun 1958, sepulang sekolah dirinya selalu mendengar berita tentang kematian. Ada yang sakit lalu meninggal, sementara ada yang saat berjalan merasa pusing kepala lalu kembali ke rumah dan meninggal tak lama kemudian.

Frans pun mengalami hal serupa. Waktu itu sebut Frans dirinya merasakan panas dan dingin di sekujur tubuhnya datang silih berganti. Oleh sang ibu tubuhnya diolesi daun bunga Terompet yang sudah dihaluskan. Saat diolesi ramuan ini, Frans merasakan panas yang luar biasa hinggap di tubuhnya namun selang 4 hari kemudian dirinya merasakan kesembuhan. Kejadian waktu itu ucap Frans sangat tragis dimana setiap orang dihinggapi ketakutan luar biasa.

“ Kalau sudah sore orang tua tidak berani membiarkan anaknya keluar rumah. Orang yang mau datang sembahyang di rumah duka juga takut “ katanya mengenang.

Petrus Reo de Ornay ( 96 ) seorang guru SR di Larantuka, seorang anaknya yang berumur setahun turut jadi korban. Bapak Reo sapaan akrabnya saat disambangi Cendana News di kediamannya menceritakan, saat itu dirinya bersama keluarga berlibur ke Lewolaga. Tiba – tiba anaknya pun mengalami sakit dan meninggal. Dirinya tidak tahu penyakit apa yang merenggut nyawa anaknya sebab kejadiannya sangat singkat dimana sehari sebelumnya ankanya masih sehat. Anak pak Reo pun baru 4 hari berada di Lewolaga guna berlibur.

Wabah penyakit ini sebut bapak Reo bukan hanya melanda anak kecil tapi juga orang dewasa. Orang yang baru selesai mengikuti penguburan orang yang meninggal pun setelah pulang ke rumah tak lama kemudian kena sakit dan meninggal. Karena dokter juga susah maka diputuskan bahwa kita harus berserah diri pada Tuhan.

Novena dan Prosesi

Dikisahkan Frans dan bapak Reo, almahrum bapak Anton de Ornay ketua Konferia di Lewolaga bertemu pastor  Theodorus Rosing, SVD di Larantuka menyampaikan hal itu. Oleh pastor dikatakan kalau umat mau prosesi dan membuat penyerahan kepada Bunda Maria silahkan saja. Keuskupan pun mengirim lambang lingkungan dengan tulisan dilambangnya yang kini dipakai menjadi nama lingkungan. Saat malam Natal, semua umat berdoa di kandang Natal membuat perjanjian dengan Kanak Yesus. Jika wabah ini hilang maka kami akan mengadakan prosesi.

“ Sebelum prosesi dibuat Novena dan ajaibnya penyakit itu hilang dengan sendirinya sehingga ditentukan setiap tanggal 13 Mei diadakan prosesi keliling kampung,“ tutur mantan anggota dewan di Flores Timur ini.

Terdapat 5 Riang ( dusun ) yang juga dijadikan lingkungan atau wilayah dalam hirarki gereja Katolik di Lewolaga. Nama Riang dan Lingkungan pun tidak berubah dimana riang Bao lingkungan Bunda Rahmat dan riang Tepi Sungai lingkngan Ratu Damai. Juga riang Genderasi yang dinamakan lingkungan Pohon Suka Cita, riang Budi ling Bintang Laut, serta riang Tobi lingkungan Bunda Tercinta diwajibkan menyiapkan armida. Tahun 1957 Lewolaga terdiri dari dua desa yakni Gaya Lama dan Lawerang.

Sehabis prosesi beber Frans, semua umat berkumpul di gereja dan setiap lingkungan membawa makanan dan minuman untuk dikonsumsi bersama. Ada juga Rengki (ayam bakar utuh yang biasanya diletakan sebatang rokok di mulutnya) yang merupakan makanan adat yang kerap disediakan sebagai penghargaan atau penghormatan.

Umat sedang mengikat lilin di Turo ( pagar bambu ) yang dipasang jalan rute prosesi


Armida Unik

Dalam prosesi ini setiap lingkungan dibebaskan berkreasi meluapkan kegembiraan yang diwujudkan dalam pembuatan armida. Ada armida yang dibuat dari traktor bekas dan ada juga armida yang dibuat menyerupai pondok di kebun beratapkan daun kelapa. Di dalam pondok ini diletakan hasil kebun, kendi berisi air, alat bertani dan pohon pisang dan singkong yang ditanam di depan pondok.

Romo Yasintus Liberatus Suyono Lein, MSF, pastor di gereja Lewolaga kepada Cendana News menyebutkan, makna religi prosesi ini, umat diingatkan akan kasih Tuhan yang senantiasa melindungi mereka dalam siatuasi apapun, baik dalam suka maupun duka. Moment seperti ini ungkap romo Yano umat diingatkan bahwa berkat doa dan sakramen Maha Kudus yang diarak keliling kampung, Tuhan membebaskan mereka dari musibah ini.

“Ritual ini sebuah warisan yang luar biasa asalkan semua orang merasakan demikian. Jangan sampai hal – hal yang tidak baik timbul lagi usai prosesi. Ini yang selalu kita tekankan saat kegiatan tersebut,”ungkapnya.

Setiap tahun sebelum hari puncaknya ada rangkaian kegiatan rohani seperti Novena 9 hari, tridum 3 hari sebelumnya, rekoleksi, lomba koor antar basis dan hiburan serta olahraga. Ritual dimulai dengan perayaan ekaristi jam 6 dan jam 7.30 dimulai dengan doa di gereja dan dilanjutkan dengan prosesi perarakan Sakramaen Maha Kudus dan patung Bunda Maria hingga bisa sampai jam 12 malam.

“Ada bermacam moment sederhana yang mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu bersama dengan kita, apapun terjadi keyakinan kita tetap teguh. Jangan tiap ada moement seperti ini saja kita mendekatkan diri kepada Tuhan tapi setiap saat kita merasa dekat dengan Tuhan,”pesannya.

Kesembuhan dan mujizat yang diterima menyebabkan Frans dan beberapa warga Lewolaga yang selamat saat musibah tersebut tetap percaya bahwa Tuhan merupakan pusat pengharapan dan dapat membantu umatnya yang sedang dilanda musibah.

“ Setelah sembuh saya merasa bersyukur bisa hidup. Setiap tahun ada prosesi saya selalu sedih dan menangis mengingat kejadian saat itu “ kata Frans menahan sedih.
[Ebed De Rosary]

Lihat juga...