MINGGU, 1 MEI 2016
LAMPUNG — Ratusan buruh pekerja jasa ekspedisi angkutan barang dan pengurus truk (petruk) melakukan aksi unjuk rasa damai dari pertigaan menara Siger hingga ke depan pintu pelabuhan Bakauheni Lampung. Massa yang menggunakan kendaraan roda dua tersebut sempat mengakibatkan kemacetan dari Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dan Jalan Lintas Timur Sumatera.

Aksi ratusan massa yang tergabung dalam Dewan Pengurus Cabang Federasi Transportasi Industri Umum dan Angkutan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPC-FTA-SBSI) Kabupaten Lampung Selatan tersebut diawali dengan melakukan aksi dari kantor DPC-FTA-SBSI yang berada di Jl.Lintas Timur Pujasera RT 02 Kampung Muara Piluk Kabupaten Lampung Selatan.
Tanggamus Hutabarat selaku ketua Dewan Pengurus Cabang Federasi Transportasi Industri Umum dan Angkutan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPC-FTA-SBSI) Kabupaten Lampung Selatan mengungkapkan anggota SBSI di wilayah Lampung Selatan yang tergabung dalam organisasi yang dipimpinnya saat ini mencapai 600 anggota.
“Kami sebagai pekerja transportasi melakukan aksi sebagai bentuk solidaritas pada hari buruh ini tentunya dengan tetap mengharapkan perbaikan nasib bagi para pekerja di sektor ekspedisi dan transportasi khususnya di wilayah pelabuhan,”ungkapnya pada Cendana News, Minggu (1/5/2015).
Para pekerja transportasi tersebut menuntut kepada PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), PT Mata Pencil, Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) untuk menghapuskan sistem pekerja kontrak, tenaga alih daya di dalam pelabuhan. Selain itu para pekerja menuntut agar perusahaan perusahaan di Pelabuhan Bakauheni menggunakan tenaga kerja asal wilayah Bakauheni karena selama ini penggunaan tenaga kerja asal Bakauheni masih sangat minim.
Hutabarat mengungkapkan, pada tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai hari Buruh (May Day) pada hari buruh tersebut para buruh pekerja pelabuhan ikut bersolidaritas dengan para buruh di tempat lain untuk menuntut kehidupan yang layak dan melakukan protes atas beberapa peraturan pemerintah dan perusahaan yang tidak berpihak pada kaum buruh.
Aksi ratusan buruh tersebut dijaga ketat oleh ratusan personil dari Polres Lampung Selatan diantaranya dari Polsek Penengahan, Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, untuk mengamankan jalan yang digunakan oleh para buruh dalam aksi di depan pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Hutabarat mengaku sengaja tidak melakukan aksi hingga ke dalam pelabuhan karena kuatir mengganggu aktifitas pelayanan di pembelian tiket Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Sementara itu kuatir aksi akan masuk ke Pelabuhan Bakauheni, ratusan anggota polisi berjaga di area Seaport Interdiction Pelabuhan Bakauheni.
Aksi yang berlangsung selama beberapa menit tersebut dilanjutkan dengan melakukan konvoi menggunakan kendaraan bermotor dan berakhir di depan menara Siger.[Henk Widi]