MINGGU, 17 APRIL 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Sembilan perempuan dewasa memasuki pelataran panggung seraya mengibaskan selendang yang dikalungkan di leher. Serempak mereka berkeliling berlenggak-lenggok mengikuti irama suling yang dimainkan. Saat bersamaan, ketiaga lelaki pun ikut menari secara atraktif. Dengan Ikun, kayu yang diberi rumbai diujungnya, ketiganya seakan tak mau kalah bergerak berputar, maju mundur sambilmengibaskan Ikundi kedua tangannya.
![]() |
| Personil Wajong Elat kelompok musik suling desa Langir |
Beberapa saat kemudian, sembilan perempuan tadi berkumpul duduk bersimpuh di depan panggung. Tempat sirih pinang (Teli) pun di letakan di lantai. Wua Ta’a ( sirih pinang) dimakan bersama ditingkahi obrolan seru diantara mereka. Usai mengnyah sirih pinang mereka kembali menari saat pimpinan kelompok musik suling berdialog bersama mereka dan memastikan semuanya sudah mendapat jatah sirih pinang.
Penonton pun diajak memasuki arena dan ikut menari bersama. Satu persatu tamu dan undangan dikalungi selendang oleh penari perempuan sementara penari lelakinya memebrikan Ikun kepada tamu sebagai pesan untuk mengajak turun melantai. Suasana pun semakin meriah ditingkahi tawa penuh kegembiraan.
“Penari tadi berasal dari sanggar Weni Wait dan ini merupakan pementasan kolaborasi antara suling dan tari,” ujar Will pembawa acara pentas budaya Langir.
Terjatuh
Ketua kelompok musik suling Wajong Elat yang tampil saat pentas budaya Langir, Jumat (15/4/2016) yang ditemui Cendana News usai pementasan mengatakan biasanya permainan suling juga diikuti dengan tarian Hegong dan Papak. Tarian tersebut kata Frans sapaannya membuat suasana akan meriah dan menarik bagi para tetamu yang hadir.
Wajong Elat diceritakan Frans merupakan kelompok musik suling tradisioanl yang ada sejak jaman nenek moyang mereka. Wajong bebernya, merupakan nama seorang warga di desa mereka. Saat nenek moyang mereka sedang berlatih memainkan seruling, Wajong yang sudah mabuk usai minum Moke (Tuak) memanjat pohon tuak dan terjatuh.
“Wajong langsung meninggal sehingga latihan pun bubar dengan sendirinya dan nama Wajong akhirnya diabadikan menjadi nama kelompok musik suling di desa Langir,” papar Frans.
Sementara Elat atau Ela sediri kata Frans artinya jatuh. Kelompok Wajong Elat ungkapnya, hingga kini masih tetap eksis dan turun temurun diwariskan kepada anak cucu di desa Langir. Semua pemain suling kelompok ini sejak dahulu terdiri dari laki-laki dan kebanyakan lelaki dewasa karena susah memainkannya.
“Sudah lama terbentuk kelompok ini saat kami juga belum lahir, sudah sekitar 3 turunan, “ sebut Frans saat ditanyai tentang waktu kelompok ini didirikan.
Dulunya ungkap Servasius salah satu personilnya, kelompok musik ini beranggotak 40 orang namun banyak pemain yang sudah tidak aktif dan meninggal dunia sehingga jumlah anggota pun terus menyusut. Sulitnya memainkan alat musik ini menyebabkan banyak warga desa Langir yang tidak mau berlatih memainkannya.
Dibuat Sendiri
Meniup suling sesuai irama lagu yang khas sesuai mars yang biasa dibawakan kelompok musik ini diperoleh anggota kelompok dengan sendirinya tanpa ada yang mengajarkannya secara khusus. Setiap anggota biasa belajar secara otodidak dengan mendengar permainan suling yang dilakukan orang tua atau kakeknya.
“Kami tidak ada yang melatih hanya mendengar orang tua kami memainkannya dan kami dengan sendirinya bisa memainkannya,” ucap Frans.
Alat musik yang dipergunakan kelompok yang saat ini beranggotakan 24 orang terdiri dari suling besar, suling kecil atau Viklot,Teren atau Dober Dumb dan dua gendang sedang serta satu gendang berukuran lebih kecil. Semua alat musik ini beber Frans dibuat sendiri oleh anggota.
Suling bambu, gendang dan Teren alat musik dari bambu bulat, ada 15 orang pemain sulit ditambah 3 pemain gendang, teren 6 orang pemain Teren atau Dober Dumb dan Viklot suling kecil. Teren merupakan alat tiup dari suling kecil yang dimasukan ke dalam bambu bulat berukuran besar sepanjang ± 30 sentimeter. Sementara itu panjang suling besar sekitar 50 centimeter dan yang kecil 30 centimeter.
“Semua alat musik kami buat sendiri karena tidak terlalu sulit dan sudah terbiasa membuatnya karena diajarkan leluhur kami,” terang Frans.
Sering Tampil
Wajong Elat sering diundang tampil di setiap acara penjemputan tamu atau pernikahan mulia. Saat pentas budaya Langir kelompok ini membawakan Mars Baobatun. Terdapat sekitar 10 Mars yang selalu dimainkan kelompok ini namun Frans tak bisa menjelaskan nama Mars maupun artinya saat ditanyai Cendana News. Dikatakan Frans, mereka hanya mendengar dari orang tua yang memainkan lalu mengikutinya.
“Kami selalu diundang bila ada penjemputan tamu penting atau orang-orang besar seperti pejabat atau menjemput pengantin. Kalau diminta memainkannya terus selepas acara penjemputan juga bisa tergantung yang undang,” papar Frans.
Selain di kedua perhelatan ini, kelompok ini juga diundang saat ada pesta adat atau pemntas seni budaya. Jika diundang tampil Frans mengakui kelompoknya dibayar 1,5 juta rupiah namun bila waktunya seharian maka biayanyapun bertambah sesuai kesepakatan bersama.
Memainkan alat musik ini dan sering pentas diakui Frans dan diamini anggota lainnya merupakan kegiatan sambilan saja, karena setiap anggota kelompok memiliki pekerjaan tetap seperti petani dan lainnya. Dulu hampir setiap dusun beber Servasius, memiliki kelompok musik suling, namun semuanya mati suri sehingga praktis hanya mereka sendiri di desa Langir bahkan di kecamatan Kangae.
“Kami tertarik mempertahankan musik suling karena ini merupakan tradisi jadi kami tetap menjaga dan melestarikannya kalau tidak pasti akan hilang,” ungkap Servasius.
Frans mewakili anggota kelompok berharap keseriusan pemerintah daerah Sikka menjaga dan melestarikan adat dan budaya di Sikka. Mereka juga bermimpi agar pemerintah daerah Sikka bisa melibatkan mereka saat menjemput tamu.
“Kami juga titip pesan agar kami dibantu seragam seperti selendang dan kain tenun. Kalau dibantu kami bersyukur, jika tidak pun kami juga tetap bersyukur,” pungkas Frans mengakhiri obrolan.