SELASA, 19 APRIL 2016
Jurnalis : Harun Alrosid/ Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Harun Alrosid
SOLO — Ukuran tengkorak kepala Homo Erectus yang ditemukan Setu Wiryorejo, warga Sragen, di Sungai Bojong, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, berukuran lebih kecil jika dibanding dengan tengkorak Homo Sapien atau manusia modern.
![]() |
| Perbandingan tengkorak |
Hal itu diketahui setelah petugas Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sangiran, mengukur dan membandingkan kedua tengkorak kepala tersebut, pada Senin (18/4) kemarin. Diketahui jika tengkorak kepala homo erektus mempunyai panjang 14 cm, sedangkan untuk homo sapien 18 cm. Lebar tengkorak kepala fosil yang ditemukan Setu Wiryorejo, 12 cm, sedangkan untuk manusia modern 14 cm, sementara untuk tinggi kedua tengkorak kepala itu adalah 10 cm berbanding 15 cm.
“Jika dibandingkan, perbedaannya sudah dapat dilihat. Ukuran dan besarannya juga dapat diketahui secara langsung. Perbedaan ukuran tengkorak kepala itu juga dapat diartikan sebagai tingkat kecerdasan manusia. Jika otak semakin digunakan, tulang tengkorak kepala juga bisa semakin besar,” ujarnya Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sukronedi saat ditemui Cendana News, Selasa (18/4) kemarin.
Dijelaskan Sukronedi, manusia purba jenis homo erektus arkaik yang diperkirakan hidup sekitar 1,5 juta tahun lalu. Manusia purba homo erektus jenis arkaik, merupakan jenis yang paling tua. Menurutnya, ada 3 tipe manusia purba jenis Homo Erectus, yakni Arkaik, Tipikal dan Progresif. Homo erektus jenis Tipikal diperkirakan hidup pada 800 ribu tahun lalu, sedangkan Progresif hidup 300 ribu tahun, dan Arkaik diperkirakan hidup 1,5 juta tahun lalu.
“Oleh karena itu, penemuan Pak Setu ini sangat penting dan berharga bagi Situs. Karena ini manusia purba yang paling tua yang ada di Sangiran,” jelasnya.
Menurutnya, fosil manusia purba homo erektus ditemukan pada lapisan lempung hitam formasi pucangan dan grenzbank di Sangiran. Formasi itu menunjukkan tipe yang paling arkaik dan kekar dengan volume otak sekitar 870 cc. Di situs Sangiran sangat ditemukan tipe yang Progesif, karena adanya perubahan alam, dari hutan tropis yang subur menjadi sabana yang kering. Sehingga jenis Progesif itu memilih bermigrasi ke aliran sungai Bengawan Solo, sampai di Trinil, Ngawi, dan Sragen bagian timur.
Ditambahkan Sukronedi, koleksi fosil di Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sangiran, mencapai 40 ribu fragmen fosil. Meski tergolong banyak, sebagian besar fosil merupakan fauna, karena sebelum menjadi daratan, kawasan Sangiran merupkan laut dalam, yang dihuni hewan laut dalam.
“Oleh karena itu, di Sangiran banyak ditemukan fosil hewan laun dalam, seperti gigi ikan hiu dan lainnya. Pada masa rawa-rawa juga ditemukan fosil buaya, kuda air, kura-kura dan penyu,” pungkasnya.