Sottal, Alat Tradisional Penangkap Udang yang Masih Dilestarikan

SENIN, 4 APRIL 2016
Jurnalis: M. Fahrul / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: M. Fahrul

SUMENEP — Meningkatnya perkembangan di zaman modern rupanya tidak sepenuhnya mampu mengikis kebiasaan masyarakat Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dalam melakukan penangkapan udang dengan alat tradisional ‘Sottal’.
Salah seorang warga sedang menangkap udang dengan alat tradisional Sottal
Meskipun dari tahun-tahun ke tahun penggunaan alat tradisional Sottal di daerah ujung timur Pulau Madura ini semakin sedikit, tetapi bagi warga desa tersebut rupanya masih belum berpengaruh, sehingga ketika melakukan penangkapan udang mereka tetap menggunakan alat tradisional yang sudah turun temurun.
“Pada umumnya masyarakat disini jika melakukan penangkapan udang masih tetap menggunakan alat tradisional Sottal, karena ini peninggalan nenek moyang yang harus kita lestarikan,” kata Izzatul Arifin (30) salah seorang warga Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Minggu (3/4/2016).
Disebutkan, bahwa kebiasaan lama masyarakat desa ini dalam melakukan pengkapan ikan masih sulit diubah, meski saat ini sudah banyak alat modern yang lebih canggih untuk menangkap udang tidak sepenuhnya diterima. Ketika ingin memiliki alat tersebut juga membutuhkan biaya besar, sehingga masyarakat lebih memilih tetap menggunakan alat tradisional Sottal.
“Masyarakat kalau melakukan penangkapan udang kan musiman, makanya mereka jarang menggunakan alat modern, kalau alat yang tradisional ini kan tidak membutuhkan biaya besar,” jelasnya.
Dalam menggunakan Sottal pada saat melakukan penangkapan udang tidaklah mudah, sebab alat terbuat dari bambu dan kain jaring yang berbentuk segitiga tersebut harus didorong sambil berenang supaya bisa mendapatkan udang, namun jika tidak beruntung mereka terkadang pulang dengan tangan hampa.
“Kalau sedang beruntung ya dapatnya bisa banyak, tetapi itu tidak tentu, kadang meskipun sudah setengah hari tidak dapat apa-apa, karena kami tidak bisa memprediksi dimana air yang banyak udangnya, tetapi hanya bermodalkan kebiasaan saja dimana tempat tersebut sering menjadi tumpuan udang,” pungkasnya.
Lihat juga...