JUMAT, 29 APRIL 2016
MAUMERE – Pedagang yang sejak lama berjualan di pasar Tingkat Maumere mengeluhkan perlakuan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) kabupaten Sikka. Pasalnya, para pedagang yang menempati los tekstil yang baru diresmikan awal April 2016, harus membangun sendiri kios milik mereka yang disewa dari Dinas Perindag Sikka.

Demikian disampaikan Frans Lura dan para pedagang pasar Tingkat Maumere saat berdialog dengan anggota DPRD Sikka, Yani Making, Kamis (28/4/2016) malam.
Dikatakan Frans, saat akan dilakukan pembangunan los tekstil,para pedagang dipindahkan ke sebelah selatan bekas los pedagang pakaian bekas. Pihaknya harus membangun bangunan darurat sendiri dengan uang pribai.
Usai los tekstil dibangun, beber Frans, pihaknya pun harus membangun dinding dan pintu kios sendiri lagi. Dinas Perindag sebutnya hanya membangun tiang-tiang saja sehingga pedagang harus membuat sekat dan penutup sendiri.
“Kami harus keluar uang dua kali untuk bangun kios. Kami harus keluarkan uang puluhan juta rupiah, sementara penghasilan tidak seberapa,” ujar Frans.
Frans mempersoalkan diskriminasi yang dilakukan oleh Dinas Perindag Sikka. Dimana kios di pasar Alok yang diresmikan secara bersamaan dengan los pasar Tingkat, berbeda kondisinya. Di pasar Alok, pedagang langsung terima kunci saja. Semua fasilitas sudah disiapkan. Sementara di pasar Tingkat, pedagang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membenahi los pasar.
Semua kios di pasar Alok, berdinding tembok dan dilengkapi pintu rolling door dari aluminium. Padahal lanjutnya, harga sewa kios di dua pasar tersebut sama yakni sebesar Rp 135 ribu sebulan.
“Ini kan tidak adil, kami harus bangun sendiri dan mereka yang cuma terima kunci harus bayar uang sewa sama. Kami tidak persoalkan harga sewa asal fasilitasnya sama,” pintanya.
Frans pun meminta kepada anggota DPRD Sikka agar bisa memperjuangkan penurunan harga sewa. Tahun-tahun sebelumnya (2014) harga sewa Rp 54 ribu saja banyak yang tidak sanggup.
“Kalau di pasar kecamatan tiap minggu saat hari pasar para pedagang hanya bayar 2 ribu rupiah saja ,” terangnya.
Tidak Adil
Yani Making anggota DPRD saat dialog menyampaikan akan menanyakan persoalan terkait keluhan tersebut kepada Dinas Perindag Sikka. Seharusnya kata Yani, pedagang di pasar Tingkat juga harus mendapatkan fasilitas yang sama.
“Kalau harga sewanya sama seharusnya fasilitas yang diberikan juga sama. Nanti saya akan sampaikan keluhan ini kepada dinas agar diperhatikan,” sebut Yani.
Mengenai mahalnya harga sewa kios di pasar Tingkat jelas Yani, tentu harga tersebut sudah dihitung dan dibahas bersama. Menurut Yani, harga sewa los di pasar kecamatan atau desa tentu berbeda dengan di kota.
“Pasti harga sewanya beda karena di kota pembelinya juga tidak banyak beda dengan di kota. Tapi tentu fasilitasnya juga harus beda,” ungkap Yani.
Pantauan Cendana News,Jumat (29/4/2016) di pasar Alok dan pasar Tingkat Maumere, kondisi kedua kios di loas pasar sangat berbeda. Kios di pasar Alok semuanya sudah tertutup dan berdinding tembok dan pintunya berbahan aluminium rolling door.
Beberapa pedagang di pasar Tingkat Maumere terlihat sedang mengerjakan dinding los kios mereka masing-masing. Ada yang membuat dinding tembok sementara ada yang memakai triplek dan seng.
Saat ditanyai Cendana News mengapa membangun sendiri? Para pedagang yang takut menyebutkan nama mengatakan, karena pemerintah tidak membangun secara lengkap, sehingga pedagang membangunnya sendiri sesuai kemampuan masing-masing.
Dari puluhan kios di dua los pasar hanya los yang di bagian barat yang terlihat sudah mulai dibangun.
Disaksikan Cendana News baru sekitar 10 kios yang dibangun dan ada beberapa pedagang yang baru menyiapkan material saja untuk melakukan pembangunan. (Ebed de Rosary)