Kelenteng Ratusan Tahun di Pontianak, Penggabungan Dua Keyakinan

MINGGU, 10 APRIL 2016
Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Aceng Mukaram

PONTIANAK — Ritual yang unik dan berusia hingga ratusan tahun ditemukan di Vihara Bodhisatva Karaniya Metta itu. Salah satunya, lonceng yang berusia ratusan tahun dibawa dari tanah Tiongkok pada 1789, ketika kepemimpinan Raja Kheng Long (1736-1796). Letaknya di pinggir Sungai Kapuas Jalan Sultan Muhammad, Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.  
Berdasarkan penuturan pengurus Yayasan Vihara Bodhisatva Karaniya Metta, Lim Kwang Hie (70), kelenteng inilah yang tertua di Teng Seng Hie (1689 M) semasa Dinasti Manchu (Ching).
Ia bercerita, dahulunya kelenteng tersebut menghadap Sungai Kapuas, berseberangan dengan Masjid Jami Sultan Abdurrachman. Sisa dari Tua Pek Kong Teng Seng Hie yang diabadikan di Vihara Bodhisatva Karaniya Metta adalah tempat kayu gaharu yang dibawa dari Tiongkok pada 1673 silam.
“Kayu gaharu tersebut diletakkan di depan vihara sekarang yang melambangkan Dewa Langit. Uniknya dari Tua Pek Kong (vihara) tertua di Kota Pontianak.  Ini merupakan penggabungan dua keyakinan, yakni Konghucu dan Budha,” tutur Lim Kwang Hie,  di Vihara itu, Sabtu, 9 April 2016.  
Bangunan aslinya semua dari kayu. Namun akibat pelapukan, maka hanya tiang-tiang bangunan yang masih dipertahankan dengan teknologi tradisional, disambung tidak menggunakan paku, tetapi pasak dan diikat. Bangunan lainnya, khususnya dinding diganti semen, lantai diganti keramik dan atap genteng dari semen.
Pada bagian dalam terdapat tiga altar yang menggambarkan asal Vihara ini dan Dewi Samudra (Macou) di tengah, Dewa Tua Pekkong di kiri, dan Dewa Putri Raja (Naca) di kanan, serta dewa dan dewi serta pengikutnya.
Terlihat sebuah meja besar persis di depan halaman bangunan vihara itu. Di atasnya terdapat berbagai macam persembahan yang disebut bahan sembahyang untuk Dewa Langit sebanyak 999 buah ditambah sembilan buah emas sembahyang.
Di atas meja tersebut juga terdapat lampu Dewa Langit, kertas wangkim, bunga teratai, tengci (uang panjang), buah panjang umur, jeruk, kue keranjang, gula mua thi che, gula the liau, ka kue, buah-buahan, sayur-sayuran, kong (tempat uang), mi panjang umur, gula pasir, bunga, serta lampu nanas.
Sesajian tersebut dikelilingi lilin-lilin dalam berbagai ukuran yang terus menyala sampai kapan pun. Aroma dupa serta kayu gaharu begitu kentara ketika prosesi peribadatan sedang berlangsung tiba. Lonceng setiap saat berbunyi, seiring dengan beberapa warga melakukan ritual.
Setiap saat terlihat warga yang datang dan ada pula yang pergi, setelah beberapa saat melakukan ritual peribadatan. Pengurus yayasan mempersiapkan berbagai perlengkapan bagi warga yang ingin beribadat, untuk menjamin kemudahan mereka yang ingin merayakan hari istimewa tersebut.
Disetiap sudut di dalam kelenteng hingga di depan altar diterangi lilin-lilin berbagai ukuran yang menyala. Beberapa meja di dalam kelenteng juga dipenuhi bahan sembahyang. 
Di vihara tersebut, ada kisah yang ternyata memiliki perjalanan masa lalu yang begitu panjang. Sehingga tak sedikit warga Tionghoa dari luar Kalimantan Barat berdatangan untuk melakukan wisata religi, di antaranya dari Jakarta, Hongkong, Taiwan, Singapura dan USA sebagainya.
Apalagi, sebagai sebuah bangunan tempat peribadatan, Vihara Bodhisatva Karaniya Metta itu juga merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Kota Pontianak. Pada bagian atas gerbang masuk tertulis bahwa bangunan ini telah ada sejak 1829 silam, saat  Pontianak berada di bawah pemerintahan Sultan Syarif Osman Alkadrie kala itu. 
Tempat kayu gaharu itu kini berdiri altar persis di depan bangunan kelenteng. Hal itu menandakan sangat tua usia bangunan yang berdiri persis menghadap Sungai Kapuas itu. Bahkan usianya telah melebihi dimulainya sejarah berdirinya Kesultanan Kadriyah Pontianak pada 1771 silam.
Selain tempat kayu gaharu yang menjadi peninggalan sejarah, sebuah lonceng kuno juga masih bisa dapat dijumpai dan tergantung di dalam kelenteng itu. Lonceng ini, menurut Lim Kwang Hie, dibawa dari tanah Tiongkok pada 1789 ketika kepemimpinan Raja Kheng Long (1736-1796).
“Tak ada yang mengetahui secara persis atau catatan resmi tentang sejarah kelenteng ini. Pengurus yang ada sekarang hanya mengetahui kelenteng ini dibangun leluhur mereka yang berasal dari Tiongkok. Hanya lonceng berumur 200 tahun dan hio lou (tempat gaharu) berumur 300 tahun jadi saksi bisu tersisa,” kata Lim Kwang Hie, sembari menunjukan tempat lonceng yang berumur ratusan tahun itu. 
Kelenteng ini berdiri sejak tahun 1673 silam. Pada tahun 1906 dilakukan renovasi sekaligus menggabungkan tiga kelenteng sekaligus sehingga menjadi tiga bagian. Yakni Dewi Samudera (Macau), Tua Pek Kong, dan Putra Raja ke-3 (Naca). 
Lihat juga...