Dosen Indonesia Banyak, Tapi Publikasi Jurnal Ilmiah Masih Rendah

SABTU, 23 APRIL 2016
Editor : Rustam Djamaluddin
SURABAYA –  Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti),  Ali Ghufron Mukti,  berharap agar perguruan tinggi di Indonesia meningkatkan jumlah publikasi jurnal ilmiah internasional.


Hal ini disampaikan Ali Ghufron di hadapan sivitas akademika yang hadir dalam rangka memperingati  hari jadi ke 5 Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UWKS), Sabtu (23/4/2016).
“Di ASEAN, jumlah produksi publikasi ilmiah internasional Indonesia paling rendah setelah Malaysia, Singapore, Thailand. Padahal jumlah dosen kita paling banyak,” paparnya.
Itulah sebabnya,  pemerintah mewajibkan syarat publikasi jurnal ilmiah internasional untuk mendapatkan gelar profesor.  Ini bukan masalah nasionalisme  ataupun  jurnal nasional  dinilai kurang baik, namun penelitian ilmiah itu harus  diakui secara lebih luas, agar bisa menolong lebih banyak orang.
Di hadapan sivitas akademika Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya,  Ali Ghufron berbicara tentang  rencana strategis penyediaan sumber daya tenaga kesehatan,  dalam menghadapi era kompetisi global.
 Acara dihadiri ini  para dosen dan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya  dari Fakultas Kedokteran, Farmasi, Psikologi, Keperawatan, profesi dokter, profesi ners, profesi apoteker. 
“Tentu saja para mahasiswa jenjang program S1 sangat antusias untuk dapat hadir pada kesempatan langka ini, agar dapat bertemu secara langsung dengan Bapak Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kemenristekdikti,”  ujar Kuncoro Foe, Rektor UKWMS di lokasi, Sabtu (23/4/2016).
Menyampaikan materi  Sinergitas Academic Health System,  Ali Ghufron mengawali dengan sedikit nostalgia, “Saya sudah tidak asing lagi dengan Dekan FK UKWMS, Prof. W.F. Maramis, karena waktu saya KoAs dulu juga buku acuan yang digunakan adalah karya beliau, kita harusnya bisa mencontoh beliau supaya nantinya menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan Kesehatan yang sehat dan berkarakter,” ungkapnya. 
Ali Gufron kemudian menguraikan,  sebelum era sekarang ini,  perguruan tinggi umumnya bergerak sebagai agen pendidikan. “Saat ini kami mulai mengarahkan agar perguruan tinggi mulai bergerak sebagai agen pembangun budaya, budaya bekerja dengan ikhlas, budaya bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas dan lain sebagainya. Kita harus membangun SDM yang punya kualitas daya saing tinggi sebagai bagian dari bangsa ini. Unggul, sehat, produktif, berdaya saing tinggi, dan berkarakter baik,” tandasnya.
Ia menyayangkan, saat ini Indonesia belum memiliki rencana induk pembangunan manusia iptek yang tepat. Harusnya pembukaan program studi baru haruslah berdasarkan desain induk tersebut. Saat membuka program studi, universitas tidak boleh hanya melihat apa yang dimiliki atau apa yang sedang menjadi tren. Kalau hanya itu yang diperhatikan,  tidak heran kalau lulusannya banyak menganggur, karena tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat.
Pembelajaran lintas ilmu, seperti yang kini juga sedang digadang-gadang di UKWMS sangatlah diperlukan dalam membangun dan melaksanakan pembenahan akademik sistem kesehatan. “Ironis sekali bila ada suatu daerah yang punya Rumah Sakit (RS), punya universitas dengan Fakultas Kedokteran,  tapi kemudian Puskesmasnya kosong, tidak ada dokternya. Kadang masalahnya tidak sederhana, banyak FK universitas swasta yang susah mendapat tenaga pengajar,” papar Ali Ghufron. 
Masalah itu dicarikan solusi oleh pemerintah dalam bentuk  Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK). Jadi mereka yang bekerja di RS bisa mengajar dan diakui keilmuannya, bisa mengajukan untuk gelar profesor hingga usia 79 tahun. 
Melalui kepemilikan NIDK, mereka berhak mendapatkan pengembangan dan pengakuan akademik maupun structural. Bahkan bisa menjadi dekan. “Pengurusan gelar profesor yang dulu makan waktu bisa sampai 6 hingga 13 tahun, saat ini kami usahakan menjadi 2 bulan, karena sudah online maka tidak perlu harus ke Jakarta,” ujarnya. 
Pemerintah pun saat ini mengoptimalkan kerjasama dengan pihak luar negeri, dalam rangka peningkatan SDM pendidikan kesehatan. (Charoline Pebrianti)
Lihat juga...