Apresiasi Film Pendek, Kine Klub UMM Gelar Mafi Fest

JUMAT, 8 APRIL 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq

MALANG — Kelompok Studi Sinematografi Universitas Muhammadiyah Malang (Kine Klub UMM) kembali menggelar Malang Film Festival (Mafi Fest) yang ke-12 kalinya di Theater Dome UMM tanggal 6 hingga 9 April 2016. Hal tersebut sebagai ajang apresiasi  film pendek dari seluruh Indonesia.
Mafi Fest ke-12
“Apresiasi film yang di perlombakan yaitu film dokumenter pelajar dan mahasiswa serta film fiksi pelajar dan mahasiswa,”jelas Manajer Festifal, Ferli Februarianto kepada Cendana News, Jumat (8/4/2016). 
Ia menambahkan, sejak tahun 2004 dalam penyelenggaraan Mafi Fest selalu ada sesi lokal yaitu sesi “Nawak Ngalam” yang berisikan film-film yang mengangkat kebudayaan di Malang tapi bukan untuk di perlombakan.
Disebutkan, Mafi Fest merupakan program kerja dari salah satu divisi yang ada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub UMM, dan tema yang diusung tahun ini adalah “Keluarga”dengan ikon “Toples”.
“Kami inginnya dengan menganggkat tema keluarga, Mafi Fest yang ke-12 ini bisa mengumpulkan semua komunitas, semua pendiri Kine klub dan semua pendiri Mafi Fest,”terangnya.
Menurutnya, minat anak muda untuk membuat sebuah karya film pendek cukup besar. Hal ini dapat dibuktikan dari semakin bertambahnya jumlah film-film pendek yang di ikutkan dalam ajang Mafi Fest setiap tahunnya.
” Sejak dibuka pendaftaran karya pada bulan November 2015 sampai dengan pertengahan bulan Februari 2016, total Mafi Fest sudah menerima 278 karya film pendek yang terdiri dari 69 Film Fiksi Pelajar, 148 Film Fiksi Mahasiswa, 28 Film Dokumenter Mahasiswa dan 33 Film Dokumenter Pelajar. Jumlah ini meningkat sekitar 40 persen dari jumlah film yang diterima tahun lalu yakni 194 film pendek,”ungkapnya.
Ferli juga mengatakan, dari total 278 film pendek yang diterima di Mafi Fest kemudian diseleksi kembali hingga menyisakan 48 film pendek untuk kemudian dijurikan dan jadikan beberapa pemenang.
“Untuk juri ada enam orang, beberapa kami datangkan dari Jakarta dan beberapa dari Malang. Keenam juri tersebut yakni Adrian Jonathan, Akbar Yummi, Jason Iskandar, Astu Prasidya, Budi Irawa dan Taufan Agustyan yang juga merupakan sutradara film Darah Biru Arema,”terangnya.
Ferli menyampaikan bahwa di jaman sekarang tidak susah untuk membuat sebuah film. Mereka cukup menggunakan handphone (HP) yang kini hampir semua dilengkapi perekam video untuk membuat film.
“Membuat film itu seperti narkoba, sekali membuat pasti langsung ketagihan, apalagi filmnya banyak mendapat apresiasi,”pungkasnya.
Lihat juga...