Mewariskan Pekerjaan Ibunda, Rina Setia Membuat Lilin Prosesi

MINGGU, 27 MARET 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: ME. Bijo Dirajo / Sumber foto : Ebed De Rosary

Lilin khusus yang biasa dipakai para peziarah saat mengikuti prosesi Jumat Agung di kota Larantuka kerap diburu peziarah.Ukuran lilin ini selain lebih panjang dan lancip di bagian ujungnya, juga lebih lama mencair dan tahan hingga usai prosesi yang dimulai jam 8 malam hingga usai jam 2 atau 3 subuh.
Lilin prosesi yang dibawa jemaat saat prosesi Jumat Agung
Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh Katharina D. Fernandez. Meneruskan pekerjaan ibundanya, Rina sapaan akrabnya hingga kini tekun membuat lilin yang dalam bahasa Larantuka ataua bahasa Nagi disebut “ Lile(ng) Permesa “. 
Pembuat “ Lilin Permesa “ sejak dahulu hanya dilakukan oleh tiga orang saja di kelurahan Lokea, kota Larantuka.
Saat ini sudah banyak orang yang bergelut di usaha pembuatan lilin secara tradisonal ini.Memanfaatkan moment membludaknya peziarah dari tahun ke tahun, para pembuat lilin secara tradisional ini mulai menjamur mengais rejeki.
Di tengah teriknya mentari yang menghujam kota Reinha, Minggu ( 27/3/2016 ) siang, Cendana News berkesempatan menyambangi pembuat “ Lilin Permesa “. Ratusan batang lilin diikat di sebatang kayu bulat dan digantung di tembok rumah pemiliknya.
Katharina D. Fernandez
Sudah Dikenal
Memasak lilin yang kerap dipergunakan peserta prosesi bagi Rina sapaan akrabnya, dilakoni sejak puluhan tahun silam. Sejak kecil dirinya sudah diajari mamanya yang kerap disapa Tanta Bene untuk membantunya menuangkan lilin hingga berjalan keliling kota guna menjual lilin–lilin tersebut. Semenjak ditinggal mamanya tahun 2014  dirinya terpaksa melakoni pekerjaan ini sendiri dan kadang dibantu saudara – saudarinya serta keponakan. 
“Saya sejak kecil menemani mama masak lilin bersama sekitar tahun 1980-an.Dulu cuma mama dan dua saudari mama saja yang membuatnya tapi saat ini di kelurahan saya saja sudah ada 10 orang yang buat lilin, “ ujarnya.
Membuat lilin prosesi bagi Rina bisa buat menambah pemasukan.Apalagi saat ini tambahnya, sudah banyak peziarah yang hadir mengikuti prosesi. Lilin yang dijualnya sering laku sebab sejak dahulu mamanya sudah dikenal orang sebagai pembuat lilin prosesi.
Lilin prosesi yang dijual Rina harganya bervariasi. Yang paling murah dilepas dengan harga 5 ribu rupiah sementara yang paling mahal 20 ribu rupiah. Harga lilin tergantung besar kecilnya diameter lilin. Lilin sepanjang ± 30 sentimeter dan berdiameter  ± 2 sentimeter ini dibuat dari cairan lilin bekas dibakar. Setiap tahun Rina biasanya membuat 300 sampai 500 batang lilin prosesi.
“Kalau buat 500 batang dan laku semua saya bisa dapat uang 3 sampai 4 juta rupiah dan saya dapat untung sekitar 2 juta rupiah lebih, “ bebernya.
Biasanya lilin – lilin tersebut oleh Rina mulai dijual 3 minggu sebelum Paskah di rumahnya.Sering juga dirinya menyuruh sang anak dan keponakan atau terkadang dirinya sendiri menjualnya di pinggir jalan dekat rumahnya atau mendatangi asrama, wisma atau hotel tempat para peziarah bermalam. 
Tahan Lama
Sebelum membuat lilin, Rina harus menyiapakan bahan bakunya seperti sumbu dari benang tenun, lilin bekas dibakar dan tali plastik. Lilin dibuatkan sumbunya, terus lilin bekas tadi dimasak di dalam wajan hingga mencair dan tetap berada di atas tungku batu. Cairan lilin tersebut dituang atau disiram dari ujung sumbu atau benang. Prosesnya dilakukan berulangkali, disiram, didinginkan dan seterusnya hingga ukurannya dirasa mencukupi.
Selesai hari raya Paskah, biasanya bulan Mei Rina langsung melakukan pekerjaan tersebut. Jauh – jauh hari tutur Rina, dirinya harus sudah menyiapkan stock. Semakin lama disimpan lilin semakin kuat dan tidak mudah patah serta tahan lama, tidak cepat mencair saat dibakar.
“ Pernah ada laku sedikit dan dijual lagi tahun berikutnya.Tahun lalu saya buat 300 batang dan sisanya 80 batang.Tahun ini saya kembali buat 300 batang karena masih ada stock tahun lalu, “ beber perempuan kelahiran Larantuka, 19 September 1970.
Selama menjadi pembuat lilin dirinya tidak merasa capek karena sudah menyatu dan menjadi kebiasaan. Memang ada rasa capek juga tapi itu bukan halangan karena merasa bertanggungjawab mewariskan pekerjaan yang dahulu ditekuni orang tuanya.
Dahulu papar Rina saat belum banyak orang yang membuat lilin, saban pagi dirinya disuruh orang tuanya ke kuburan dan mencongkel lelehan lilin tapi saat ini karena sudah banyak orang yang membuat lilin, maka orang yang mencari lilin bekas pakai di kuburan juga semakin banyak. Selain itu, lilin bekas pakai juga dibeli rina di kapela – kapela dengan harga 20 ribu rupiah sekilonya meningkat pesat dari 5 ribu rupiah 10 tahun silam.
“Kalau sekilo bisa menghasilkan 10 lilin seharga 10 ribu rupiah.Saya biasa tuang lilin jam 8 atau 9 sampai jam 2 sore setelah selesai istirahat.Ini hanya pekerjaan selingan saja dan menambah penghasilan saja, “ ungkap perempuan 46 tahun ini.
Memberikan Gratis
Dewasa ini banyak pembuat lilin yang menggunakan mal dari pipa paralon plastik. Meski demikian, Rina masih tetap setia melakukannya sesuai aslinya dahulu karena baginya sejak dulu dirinya terbiasa bekerja seperti itu. Bila memakai mal atau cetakan lilin tersebut menyalanya paling sampai setengah saja sebab tidak padat bahkan sumbunya terputus di bagian tengah.
Harga bahan baku yang melonjak naik membuat Rina dengan berat hati menaikan harga jual.Lilin kecil yang dulunya dibanderol seharag 5 ribu kini dijual 7.500 rupiah. Tapi jika ada orang yang tidak memiliki cukup uang Rina selalu meniru apa yang dilakukan mamanya.
“Lilin tersebut saya berikan saja karena mereka juga sembayang buat kami itu prinsip mama saya dulu ,“ kenangnya.
Jika ditawarkan di rombongan bisa laku terjual dalam jumlah banyak, 50 sampai 100 batang. Pernah juga Rina mengalami kehabisan stock. Hal ini terjadi saat peringatan perayaan 5 Abad Tuan Ma (2010). Lilin habis terjual semua sehingga dirinya mengambil dari pembuat lilin lainnya dan membantu menjual. Rina tidak  menjual dengan harga tinggi dan hanya melepasnya dengan harga sesuai permintaan pemiliknya.
Selain membuat lilin untuk pziarah, Rina juga membuat lilin untuk dipasang di Turo. Lilin tersebut sering dipesan oleh Mardomu sebanyak 500 hingga 600 batang lilin uuran kecil. Sebatang dihargai 3 ribu rupiah. 
Biasanya lebih capek membuat lilin ukuran kecil sebab boros bahan baku dan untungnya sedikit. Kadang Mardomu yang membelinya suka menawar hingga harga 2.500 rupiah per batangnya. 
Rina berkomitmen tetap bekerja membuat lilin sampai sudah tidak sanggup mengerjakannya sebab ucapnya, tiap tahun permintaan akan lilin prosesi semakin meningkat.
“ Tahun ini semoga terjual habis, itu harapan saya. Jika tidak  habis  akan disimpan dan dijual saat prosesi Corpus Christy dan Jumat Agung tahun berikutnya “ pungkasnya mengakhiri oborlan.
Lihat juga...