JUMAT, 18 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Miechell Koagouw
JAKARTA TMII —- Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki tiga surga, yaitu: Papua ‘surga kecil yang jatuh ke bumi’, Bali ‘surga tempat para dewata atau disebut juga pulau dewata, dan Gorontalo ‘surga yang tersembunyi’.
| Bangunan utama rumah adat Malihe dengan diorama patung Penari Saronde di Anjungan Provinsi Gorontalo TMII |
Berdasarkan UU No.38 Tahun 2001, wilayah Gorontalo ditetapkan sebagai Provinsi, lepas dari Provinsi Sulawesi Utara. Dengan Kota Gorontalo sebagai Ibukota Provinsi, maka provinsi ke 32 di Indonesia ini diapit Laut Sulawesi di sebelah utara, Provinsi Sulawesi Utara di timur, Teluk Tomini di selatan, dan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah barat, dengan luas wilayah 12.214,45 kilometer persegi.
Provinsi Gorontalo terbagi atas empat kabupaten dan satu kotamadya yaitu : kabupaten Boalemo, Bone Bolango, Gorontalo, Pohuwanto dan Kotamadya Gorontalo.
Kota Gorontalo yang merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Makassar, Pare-pare dan Manado, menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur selain Ternate dan Bone. Oleh karena itu, kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo sangat kental dengan nuansa adat dan agama.
Ciri khas dari aspek-aspek budaya adalah seperti makanan khas, rumah adat, kesenian, dan kerajinan tangan seperti kain sulam Kerawang maupun anyaman kopiah keranjang (upiya karanji) yang terbuat dari rotan.
Masyarakat juga mengenal berbagai upacara, seperti membuka ladang (Momou Oayuwa), kesuburan tanah (mopoahuta) dan meminta hujan (mohiledidi). Selain itu, upacara daur hidup yang khas misalnya sunat dan Buhutalo (upacara menyambut haid pertama seorang gadis di kalangan bangsawan Gorontalo).
Anjungan Provinsi Gorontalo di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dibuka secara resmi oleh Gubernur Gorontalo kala itu, Gusnar Ismail pada tanggal 23 Maret 2011. Tujuan dari pembangunan sekaligus pembukaan anjungan provinsi gorontalo adalah untuk mempromosikan potensi wisata daerah tersebut kepada seluruh masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.
Anjungan Provinsi Gorontalo mengambil bentuk bangunan utama dengan replika rumah adat masyarakat gorontalo pada umumnya yang bernama Malihe atau Mahligai (dalam bahasa indonesia) dikombinasikan dengan bentuk rumah adat Dulohupa. Jika rumah adat Malihe adalah rumah rakyat, maka rumah adat Dulohupa adalah tempat permusyawaratan keluarga kerajan untuk penentuan hukum adat bagi yang melakukan pelanggaran. Ciri khas rumah adat Dulohupa adalah memiliki tangga kembar bernama Tolitihu yang terletak di pintu masuk sisi kiri dan kanan.
Dengan demikian, karena penggabungan bentuk dua rumah adat tersebut maka rumah adat yang menjadi bangunan utama anjungan provinsi gorontalo ini memiliki nilai artistik yang sangat tinggi. Berbentuk Potiwoluya atau rumah panggung berbentuk bujur sangkar yang berdiri diatas tiang-tiang penyangga setinggi empat meter. Atapnya (watopo) berbentuk persegi panjang, berbahan atap daun rumbia, dengan dinding rumah berbahan bambu yang dibelah dan dianyam.
Bagian-bagian rumah mirip dengan tatanan estetika rumah melayu yakni memiliki jendela di tiap kamar, serambi, ruang tamu, dan dapur. Tidak lupa pada rumah tertentu seringkali masyarakat mengukir bagian atas pintu terdepan dengan ukiran-ukiran khas bermakna religi atau seni budaya lokal.
Pada masa tempo dulu, masyarakat Gorontalo mengenal tiga alur sidang permusyawaratan bagi para pelanggar adat, maupun penghianat negara, yakni melalui sidang Buwatulo Bala (alur sidang menggunakan hukum pertahanan/keamanan negara), Buwatolu Syara (alur sidang menggunakan hukum agama Islam/syariat Islam), dan Buwatolu Adati (alur sidang menggunakan hukum adat).
Di dalam Rumah Adat Gorontalo di TMII, dapat disaksikan pameran dan peragaan aspek budaya. Halaman masuk rumah adat sudah ditempatkan diorama patung sepasang penari Saronde, yakni sejenis tarian adat yang dilakukan sepasang penari dewasa pada acara pesta perkawinan.
| Replika Puade (pelaminan) yang diapit diorama busana adat Wolimomo dan Biliu |
Di bagian ruang tamu terdapat Puade (pelaminan) yang biasa digunakan untuk pengantin sunat maupun upacara Buhutalo, yaitu upacara menyambut haid pertama anak gadis di kalangan bangsawan.
Selain itu, di sisi kiri dan kanan pelaminan ditempatkan pula diorama busana adat pengantin untuk pernikahan (wolimomo) dan setelah akad nikah (biliu). Bagian kamar tidur ditempatkan ranjang pengantin beserta berbagai benda budaya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Sebagai provinsi yang diapit Selat Sulawesi dan Teluk Tomini, Gorontalo memiliki potensi wisata bahari yang mengagumkan. Dimulai dari Taman laut Olele di desa olele, bone balango, yang menjanjikan sensasi menyelam bersama ikan lumba-lumba dan ikan paus, pemandangan bunga karang raksasa, dan terumbu karang yang sehat, padat, serta indah.
Berikutnya adalah Pulau Saronde, yang sangat dikenal khalayak luas di era 80-an. Meski sempat tenggelam pamor wisatanya namun kembali dibenahi pada tahun 2007. Dan saat ini Pulau Saronde di Gorontalo Utara siap menyongsong wisatawan dalam dan luar negeri dengan pantai pasir putihnya yang menawan.
Pantai Bolihutuo juga tidak kalah dengan Pulau Saronde. Pantai berpasir putih dengan air laut yang tenang dapat dinikmati dengan berperahu menyusuri pesisir pantai dengan pemandangan pepohonan kelapa serta hutan pinus yang menggetarkan hati. Terkait hutan pinus, pantai bolihutuo hampir mirip dengan pantai libuo namun di pantai libuo, pengunjung akan takjub dengan gugusan hutan pinus raksasa yang menjadi ciri khas pantai tersebut.
Untuk wisata ke pedesaan, maka Perkampungan Nelayan Suku Bajo di desa Bajo dan desa Toroslaje (keduanya di kabupaten Boalemo) merupakan tujuan wisata yang bisa diandalkan Provinsi Gorontalo. Suku Bajo itu sendiri terkenal karena keunikan mereka yang tinggal di rumah-rumah panggung diatas air.
Setali tiga uang dengan keunikan berwisata ke desa Bajo, maka desa Lombongo kecamatan Suwawa, Gorontalo menawarkan wisata pemandian mata air kembar (dua mata air) yakni mata air panas dan mata air dingin.
Wisata sejarah dapat pula dijadikan tujuan wisata jika mengunjungi Provinsi Gorontalo. Dermaga Iluta di danau Limboto, sekitar sepuluh kilometer dari pusat Kota Gorontalo merupakan saksi bisu mendaratnya pesawat amphibi Katelina yang ditumpangi Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno. Lebih dari itu, Danau Limboto juga menyimpan kekayaan alam berbagai macam habitat ikan air tawar yang tidak terdapat di daerah lain.
Akhirnya, perhentian terakhir wisata sejarah dapat dilakukan di Benteng Otanaha di puncak bukit Dembe Kota Gorontalo yang dibangun tahun 1522, dengan total jumlah anak tangga sebanyak 348 buah, dimana jumlah anak tangga di setiap persinggahan benteng tidaklah sama.
Betapa pengalaman di ‘surga tersembunyi’ akan terasa lengkap jika dilakukan sambil menikmati hidangan jagung rebus atau jagung bakar dengan air kelapa muda khas Boalemo sambil melayangkan pandangan ke laut lepas diiringi semilir angin pantai. Indonesiaku memang tiada duanya.