![]() |
| Direktur Eksekutif Solidaritas Perempuan Mataram, Zulhiatina |
75 Persen BMP Masih Berpendidikan Sekolah Dasar
Sementara itu, Ketua Divisi Perlindungan Buruh Migran Perempuan (BMP), Solidaritas Perempuan (SP), Nusa Tenggara Barat (NTB), Fajri Misriati menyebutkan, 75 persen BMP yang bekerja di luar negeri bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) sebagian besar pendidikan hanya sampai tamat Sekolah Dasar.
“Salah satu penyebab banyaknya kasus kekerasan terhadap BMP saat bekerja di negara tujuan, selain karena regulasi pemerintah bidang perlindungan masih lemah, juga karena tingkat pendidikan. BMP yang rendah dan tidak memiliki keterampilan,” kata Fajri.
Keterampilan minim dan pendidikan rendah itulah yang menyebabkan para BMP juga tidak memahami hak – haknya, yang penting diberangkatkan kerja dan ketika ada masalah hanya bisa pasrah.
Karena itulah dalam rangka melakukan advokasi dan mendorong perlindungan terhadap BMP, SP bersama relawan paralegal yang diambil dari mantan BMP maupun kelompok masyarakat sipil lain yang peduli terhadap BMP memberikan pendidikan tentang bagaiman menjadi BMP.
“Selain pendidikan tentang hak – hak sebagai Buruh Migran, SP juga melakukan pendampingan terhadap BMP yang. Menjadi korban penyiksaan, pelecehan seksual mapun yang gajinya tidak diberikan oleh majikan.” ungkapnya.