
LAMPUNG — Hujan yang mengguyur sebagian wilayah Lampung yang terjadi saat malam hari masih belum merata. Kondisi tersebut mengakibatkan beberapa petambak tradisional belum melakukan aktifitasnya. Bahkan beberapa tambak milik warga bahkan dibiarkan kering karena keterbatasan pasokan air tawar.
Kondisi tersebut dialami oleh puluhan petambak yang berada di Desa Bakauheni, Desa Totoharjo, Desa Hatta Kecamatan Bakauheni, Desa Sumur Kecamatan Ketapang yang memiliki lahan tambak tradisional milik warga. Warga petambak yang masih belum beraktifitas bahkan memanfaatkan waktu selama musim kemarau ini dengan menjadi nelayan tangkap di Perairan Selat Sunda di sekitar Pulau Kandang Balak. Sementara warga lain bahkan menjadi kuli bangunan bahkan menjadi tukang ojek di sekitar Pelabuhan Bakauheni untuk menambah pemasukan.
“Bagaimana saya bisa melakukan aktifitas bertambak jika pasokan air tawar kurang dan biaya operasional untuk pompanisasi air tambak mahal ditambah listrik sering mati,”ungkap Wayan kepada Cendana News di lokasi tambak udang miliknya yang masih kering, Minggu (09/11/2015).
Ia beralasan biaya operasional untuk kembali menjalani usaha memelihara ikan di tambak miliknya terbilang tinggi jika tetap memaksakan diri. Ia bahkan tidak mau berspekulasi layaknya pengusaha yang memiliki modal besar dengan peralatan yang bisa menyalurkan air ke lahan tambak mereka.
“Kalau musim hujan pasokan air tawar masih cukup sehingga bisa digunakan untuk pengairan tambak tapi selama musim panas sungai sungai kering juga mata air dari bukit bukit di wilayah Bakauheni,”ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Jamhari (40) petambak yang biasa memelihara ikan bandeng serta udang, ia masih belum mempersiapkan untuk kembali melakukan aktifitas di tambak miliknya akibat curah hujan belum cukup tinggi. Meskipun Jamhari melihat beberapa petak tambak miliknya sudah diisi oleh hujan yang sempet turun namun belum cukup untuk memelihara ikan bandeng serta udang.
“Saya tak mau merugi dengan memaksakan diri untuk tetap memelihara ikan di tambak jika belum turun hujan cukup tinggi di bulan ini hingga bulan Desember nanti, “ungkap Jamhari.
Jamhari mengaku produktifitas tambak miliknya sempat mengalami kenaikan di bulan Mei namun mulai terimbas musim kemarau hingga akhirnya menurun produksi serta berhenti beroperasi. Kemarau panjang mengakibatkan sebagian besar petak tambak seluas satu hektar miliknya kering.
Kondisi yang dialami oleh dua petambak serta petambak lainnya membuat warga harus menganggur sementara waktu dan bahkan menyimpan mesin pompa, pengatur arus air tambak. Kondisi berbeda terlihat bagi pemilik tambak yang memiliki modal cukup baik.
Pantauan CDN, petambak di sekitar Desa Totoharjo bahkan masih memanfaatkan air laut dari perairan Selat Sunda dengan cara melakukan pemompaan air laut ke area tambak. Beberapa hektar lahan tambak tersebut bahkan masih beroperasi menggunakan listrik tenaga genset untuk tenaga mesin pompa.



JURNALIS : HENK WIDI
Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.
Twitter: @Henk_Widi