
LAMPUNG — Kunjungan wisatawan di Gunung Anak Krakatau (GAK) tak serta merta menjadi sebuah nilai positif bagi warga Pulau Sebesi, pulau di dekat Gunung Anak Krakatau yang menjadi lokasi transit terdekat dengan gunung aktif di Selat Sunda tersebut. Kondisi alam Krakatau yang menjadi daya tarik wisatawan pun tak kalah merananya dengan Pulau Sebesi terkait jumlah sampah yang dihasilkan oleh para wisatawan.
Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi Syahroni saat dikonfirmasi mengungkapkan, jumlah kunjungan wisatawan ke Gunung Anak Krakatau dari tahun ke tahun meningkat. Meningkatnya kunjungan wisatawan tersebut terutama pada akhir pekan mulai Jumat hingga Minggu dan pada hari hari libur panjang. Berbagai komunitas dalam negeri dan sebagian wisatawan mancanegara bahkan terlihat mengunjungi Krakatau.
Sebagai desa terdekat dengan Krakatau, Pulau Sebesi menjadi pilihan untuk menginap. Wisatawan bahkan menginap di rumah warga, sebagian mendirikan tenda di lokasi yang berdekatan dengan mess Pemda Lampung Selatan yang juga menyiapkan rumah singgah untuk wisatawan.
Sebanyak 35 rumah di Desa Tejang Pulau Sebesi bahkan digunakan oleh warga sebagai homestay untuk para wisatawan. Banyaknya homestay untuk menginap para wisatawan tersebut menjadi nilai positif bagi warga dengan memperoleh hasil dari uang sewa serta sebagian menjadi nelayan pengantar wisatawan ke Krakatau.
Namun menurut salah satu pemerhati lingkungan, Adiyana, kebersihan pulau dari sampah masih perlu diperhatikan. Sebagian wisatawan pada hari hari liburan meninggalkan sampah cukup banyak di sekitar dermaga tradisional Pulau Sebesi karena tak diletakkan di kotak sampah yang disediakan.
“Saya dan beberapa kawan pegiat lingkungan merasa prihatin dengan volume sampah yang ada di pulau dan rata rata ditinggalkan oleh wisatawan apalagi kesadaran wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya sangat kurang,”ujar Adiyana kepada media Cendananews.com Jumat (21/8/2015).
Meski prihatin namun ia berharap ada sebuah tim khusus yang dibentuk oleh desa setempat yang dibentuk sebagai petugas kebersihan atau tepatnya kader kader kader kebersihan. Para petugas juga kader kebersihan tersebutlah yang akan membawa sampah sampah tersebut ke tempat yang sudah disiapkan sehingga sampah tidak berserakan sembarangan.
Kesadaran para wisatawan untuk membawa sampah hasil dari bungkus makanan kembali ke daratan dan tak membuangnya baik di lautan, di Gunung Krakatau serta di Pulau Sebesi menurutnya harus diberikan oleh para agen agen perjalanan wisata. Sebab ia menilai saat ini petualangan ke Krakatau dilakukan oleh wisatawan yang hanya ingin “pernah” berada di Krakatau dengan bukti foto foto bukan murni wisatawan yang mencintai petulalangan sehingga kesadaran akan menjaga kebersihan masih kurang terutama sampah yang dibuang sembarangan.
Sementara itu kepala Desa Tejang Pulau Sebesi, Syahroni mengungkapkan dengan jumlah yang banyak, sementara petugas kebersihan minim, untuk menjaga kebersihan pulau dari wisatawan transit yang membuang sampah sembarangan sangat mengandalkan kesadaran tinggi dari wisatawan yang datang. Ia pun tak menyebut data pasti jumlah kunjungan wisatawan yang menginap di Pulau Sebesi untuk pergi ke Gunung Krakatau karena jumlah pastinya ada di BKSDA yang memiliki kawasan wisata Gunung Krakatau.
“Sebetulnya sudah kita berikan pelatihan kepada pemilik homestay terkait kebersihan kamar mandi, penyediaan tempat sampah, namun kesadaran wisatawan masih kurang sehingga membawa sampah dan membuangnya di dermaga,”ungkap Syahroni.
Pantauan Cendana News, kotak sampah yang ada di tepi dermaga sebagian sudah penuh namun beberapa diantaranya ditinggalkan wisatawan berupa sampah sampah plastik. Dermaga Pulau Sebesi yang sudah rusak tersebut bahkan masih harus ditinggali beban sampah dari para wisatawan.


JUMAT, 21 Agustus 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo