Bernhard Bart, 10 Tahun Tekuni dan Ajarkan Tenun Songket Koto Gadang

Bart bersama Istrinya, Erika
CENDANANEWS (Agam/Sumbar) – Puas mengunjungi puluhan Negara, salah seorang Bule asal Eropa, Bernhard Bart bersama Istrinya, Erika, akhirnya memilih Indonesia sebagai pelabuhan terakhirnya demi lebih mengenal budaya lokal pembuatan Songket Tradisional. Bahkan, Ia beranggapan bahwa tenun khas Minangkabau yang berasal dari Koto Gadang merupakan tenunan tangan paling halus didunia.
Awalnya, Ia adalah seorang arsitek. Namun, kecintaannya pada seni tenun tradisional memaksanya untuk terjun menekuni dunia yang sudah mulai luntur dikembangkan oleh masyarakat tradisional.
Menjadi Penenun sudah lama ditekuninya. Sepuluh tahun silam, atau tepatnya tahun 2005, Bart dengan dibantu beberapa koleganya dari Indonesia mendirikan studio tenunan Sumatera Loom yang menghasilkan songket khas Minangkabau berkualitas wahid di Jorong Panca, Batu Taba, Agam. 5 Km sebelah timur Kota Bukittinggi.
Kini, studio yang dikembangkan Bart bersama istrinya, Erika, sudah mampu dan berhasil melatih generasi muda lokal untuk menenun kain berkualitas nomor 1 layaknya era keemasan songket berpuluh tahun silam. Dalam pembuatan tenun itu, Bart dibantu oleh 10 orang anak didik yang diasuhnya hingga mahir membuat berbagai motif rumit pada berbagai desain.
Dalam satu bulan, rata-rata setiap anak didiknya mampu menghasilkan satu tenunan.
“Ada tenunan yang bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan, tiga minggu dan ada yang lebih lama. Tergantung kerumitan dan kehalusan kainnya,” kata Bart di Agam, Senin (6/7/2015).
Saat ini,  studio tersebut mampu menghasilkan 25 macam selendang tradisional dari beberapa tempat tenunan. Beberapa hasil songket tersebut juga ada yang berasal dari desain motif yang diangkat dari motif ukir pada pakaian arca Syamatara dan arca Shiva-Nandiswara (abad ke-13) dan arca Bhairawa-Buddha (abad ke-14). Motif-motif itu sangat mirip dengan yang dikenal secara luas pada masa kini.
Selain songket dan selendang, Studio Bule ini juga memproduksi sarung, sisamping, ikat pinggang, hiasan dinding, dan kain kecil untuk souvenir. Semua produk itu benar-benar buatan tangan, ditenun dengan sutra ulat dan benang logam emas serta perak.
“Sejak tahun 1996, Saya sudah meneliti songket Minangkabau dan mengumpulkan data untuk pengembangan motif-motif tradisional,” ujar Mr. Bart dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih pada CND.
“Saya cinta sekali dengan tenunan ini, karena melambangkan dinamika dan tatanan sosial kehidupan bermasyarakat. Apalagi yang berasal dari Koto Gadang. Bahkan sebelum tinggal di sini, Saya juga berniat tinggal di sana, namun tak kesampaian,” lanjut Kakek asal Bern, Swiss ini.
Saat ini, tenunan berkualitas yang dihasilkan oleh studionya, telah dijual ke berbagai negara. Namun, Ia lebih memprioritaskan penjualan produknya kepada orang Minangkabau. Hal ini dimaksudkan Pria kelahiran tahun 1947 itu agar masyarakat Minangkabau lebih peduli dengan tenunan asli Minangkabau itu.
Kendati  sudah lama melanglang buana di Tanah Air, namun status Bart masih seorang turis. Ia berharap atas perjuangan tersebut, Ia dapat memperoleh KITAS sehingga tak repot mengurus perizinan.
Soal perjuangannya meraih KITAS, Bart mengaku telah menceritakan persoalan ini kepada Gubernur Sumatera Barat terdahulu, Gamawan Fauzi. Tapi tak membuahkan hasil.
”Meski birokrasi disini kaku dan susah, namun kami akan tetap berusaha ” keluh Pria yang tak suka dengan makanan pedas ini.
——————————————————-
SENIN, 06 Juli 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : istimewa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...