Kadikor Ambon: 24 Sekolah Mulai Terapkan Pendidikan Inklusif

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Kadikor) Kota Ambon, Benny Kainama
AMBON – Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Kadikor) Kota Ambon, Maluku, Benny Kainama menyatakan, 24 sekolah formal di kota Ambon sudah mulai menerapkan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Penerapan pendidikan inklusif itu setelah deklarasi dan penandatanganan MOU dengan UNESCO terkait kota inklusif pada 6 September 2014.
Dikatakan, sekolah formal untuk seluruh tingkatan mulai diterapkan, tujuannya agar penyandang disabilitas bisa menikmati pendidikan setara dengan siswa lain.
Dengan penerapan pendidikan inklusif tersebut, maka tidak ada alasan penyandang cacat ditolak di sekolah formal, dan hanya diterima di Sekolah Luar Biasa atau SLB.
“Jadi kesempatan ini kami berikan kepada anak-anak penyandang cacat yakni keterbatasan fisik dan mental untuk menikmati pendidikan di sekolah umum bersama anak normal lainnya,”  terangnya kepada wartawan di Ambon, Jumat (12/6/2015).
Kainama mengakui, inklusif bukan hanya untuk penyandang disabilitas, namun selebihnya untuk siswa berbakat istimewa, khusus, serta anak yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.
Ditambahkan pula, rapat koordinasi pendidikan inklusif telah dilakukan di Yogyakarta sebanyak 15 kota di Indonesia dimana hasilnya telah ditetapkan sebagai kota inklusif periode dua.
“Kota Ambon termasuk dalam periode satu yakni 18 kota. Harapan kami, kedepan kota lainnya juga menerapkan pendidikan Inklusif,”  imbuhnya.
Dikatakan, pemerintah memiliki kewajiban menyediakan sarana dan prasarana serta infrastruktur. Alasannya, ia bersama pihaknya tetap berupaya menyiapkan 20 persen fasilitas untuk kaum disabilitas.
“Sebagai tahap awal dengan penyediaan akses jalan, namun terkait fasilitas penunjang pendidikan masih dalam tahapan perencanaan karena keterbatasan dana APBD,” katanya.
Soal guru umum, menurut Kainama, tidak mungkin bisa melayani siswa disabilitas, sebak akan melakukan pelatihan, menyiapkan buku dan para guru akan diberikan insentif.
Kata dia, hal itu sudah berjalan sejak 2013, dimana untuk penerapan dimulai pada SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 3, serta SMPN 19 kota Ambon.
“Semua ini dimulai dengan dana rangsangan. kami berharap seluruh sekolah memiliki motivasi untuk menjalankan kota inklusif,” katanya.
——————————————————-
Jumat, 12 Juni 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...