Nelayan Keluhkan Lambatnya Pembangunan SPBN

Nelayan Sedang Mengantri BBM [Foto Cendananews – Hendricus Widiantoro]

CENDANANEWS – Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBN) di Dermaga Bom, Kalianda, Lampung Selatan Provinsi Lampung masih dalam tahap tender.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Selatan Meizar Malanesia mengatakan pembangunan SPBN di Dermaga Bom akan dimulai pada Mei 2015. 
“Ini merupakan program pusat dan Pemkab Lampung Selatan hanya menyediakan lahannya saja. Pertamina yang membangun serta menyuplai langsung bahan bakarnya,” kata dia, Jumat (13/3/2015).
Menurutnya, Pemkab Lamsel tidak mengetahui berapa anggaran yang disediakan untuk membangun SPBN karena langsung dari APBN tahun 2015.
Sejumlah nelayan mengeluhkan lambatnya pembangunan SPBN. Para nelayan mengaku masih kesulitan membeli bahan bakar di SPBU. Bahkan persoalan mendesaknya kebutuhan SPBN sudah dikeluhkan nelayan sejak beberapa tahun lalu dan belum ada realisasi.
“Dari ganti kepala dinas hingga ganti anggota DPR persoalan ini belum juga beres, tapi siapapun pejabatnya semoga harapan kami para nelayan segera direalisasikan,” ujar Maman, salah seorang nelayan di TPI Boom Kalianda.
SPBN untuk para nelayan sangat dibutuhkan untuk mengisi bahan bakar.
”Biasanya kami membeli bahan bakar di SPBU didekat sini. Kalau mau beli bahan bakar itu kami agak kesulitan karena harus membawa jerigen. Kalau bawa bahan bakar pakai jerigen Kami di sangka menimbun. Oleh karena itu, kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk keperluan melaut,” ujar dia.
Dari pantauan Cendananews.com, nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dermaga Boom Kalianda sebagian masih membeli bahan bakar di SPBU Kalianda serta SPBU Jati. Kekurangan bahan bakar masih menjadi persoalan yang dikeluhkan oleh para nelayan setempat.
Sementara itu di Kecamatan Ketapang dan Bakauheni, nelayan yang akan melaut seringkali kekurangan bahan bakar sehingga harus membeli di SPBU setempat. TPI Muara Piluk di Kecamatan Bakauheni saat ini sudah memiliki SPBN milik PT Aneka Kimia Raya (AKR) namun kapasitas yang kurang membuat nelayan masih harus membeli di luar.

———————————————————-
Sabtu, 14 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-

Lihat juga...