Pabrik Plafon PCV di Sentolo Diharapkan Serap Tenaga Kerja Lokal

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA, Cendana News – Pabrik plafon PVC berkapasitas 100 ribu ton per bulan akan segera dibuka di wilayah kabupaten Kulon Progo.

Keberadaan pabrik di kawasan industri Sentolo, Kulon Progo, tepatnya di desa Sukoreno ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal.

Salah seorang kepala desa setempat, Dani Kristiawan menyebut saat ini sudah ada 200an orang warga sekitar yang terserap sebagai karyawan pabrik di PT Indonesia Plafon Semesta atau PT Indofon.

Meski begitu, dia berharap jumlah serapan tenaga kerja lokal itu akan semakin meningkat seiring peningkatan kapasitas produksi pabrik di masa mendatang.

Dia mengatakan, PT Indofon menjadi pabrik besar kedua yang berdiri di desa Sentolo.

“Sehingga harapannya bisa semakin banyak menyerap tenaga kerja lokal warga sekitar yang menganggur akibat pandemi,” ungkapnya dalam acara soft opening PT Indofon, Minggu (7/8/2022).

Dani juga mengatakan, selama ini pihaknya telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pabrik di kawasan industri Sentolo untuk memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal.

Di samping bisa mengurangi angka pengangguran, harapannya juga bisa menggerakkan perekonomi kawasan sekitar yang mayoritas penduduknya masih cukup tertinggal.

Dia mengatakan, bahwa warga setempat kebanyakan hanya bekerja sebagai pekerja harian atau buruh tani.

Dengan semakin banyak pabrik, harapannya perekonomian desa sekitar juga semakin terangkat.

“Karena akan banyak warga memiliki kesempatan membuka usaha seperti warung makan, kos-kosan dan sebagainya,” ungkapnya.

PT Indonesia Plafon Semesta atau PT Indofon sebagai perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan distribusi material building berupa plafon berbahan PVC resmi membuka cabang di Kulon Progo.

Perusahaan yang berpusat di Bogor, Jawa Barat ini milik seorang anak muda asal Sleman, Yogyakarta, Adit Setiawan.

Selaku Direktur Utama, Adit mengatakan pabrik Plafon PCV di Sentolo merupakan satu-satunya pabrik produsen Plafon PCV di DIY.

Pabrik ini ditargetkan akan memproduksi sekitar 1 juta meter atau 1000 ton plafon PCV per bulan dengan memanfaatkan 8 unit mesin produksi.

Lalu, secara bertahap meningkat menjadi 4 kali lipat dengan memanfaatkan 30 unit mesin produksi di tahun-tahun berikutnya.

Menurutnya, pabrik ini untuk mendukung migrasi penggunaan plafon dari gypsum ke PVC.

“Selain menjadi syarat bagian rumah tahan gempa, plafon berbahan PVC ini juga lebih praktis dan aman dari zat berbahaya,” katanya.

Sementara itu kebutuhan pasar terhadap plafon PCV  saat ini menurut Adit masih sangat besar.

Pasalnya, di Indonesia pabrik produsen plafon PCV sampai saat baru ada tujuh unit. Dan, seluruh pabrik tersebut hanya mampu memenuhi 25 persen kebutuhan plafon PVC nasional.

Adit mengatakan, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar dan distribusi di wilayah DIY dan Jateng, harapannya pabrik ini juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Baik di wilayah Kulon Progo maupun di DIY pada umumnya,” pungkas Adit.

Lihat juga...