Puluhan Tahun Dianaktirikan, Pemerintah Janji Majukan Flory Culture di Indonesia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Meski memiliki potensi luar biasa besar, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengakui perhatian pemerintah terhadap usaha budidaya tanaman hias atau populer disebut flory culture di Indonesia selama beberapa dekade terakhir masih minim.

Hal tersebut tak lepas karena selama ini pemerintah masih fokus pada pengembangan dan pembinaan usaha budidaya tanaman pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.

Meski begitu, Pemerintah mengklaim, hal semacam itu sudah mulai berubah sejak beberapa tahun terakhir. Kementerian pertanian melalui Direktorat Jenderal Holtikultura menyatakan sudah mulai melirik tanaman hias untuk dikembangkan di masa yang akan datang.

“Mungkin selama ini perhatian pemerintah terhadap tanaman hias masih kurang. Namun saya pastikan, saat ini hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Ini tak lepas karena potensi Flory culture sangat besar. Bahkan nilai Ekspornya terus meningkat. Karena itulah Kementan tergugah untuk membangkan Flory Culture di Indonesia,” kata Bambang Sugiharto, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Holtikultura, Kementerian Pertanian RI, di sela kegiatan Pameran, Sarasehan dan Kontes Algonema, di Yogyakarta, Jumat-Minggu (10-12/12/2021).

Bambang pun mencontohkan, betapa luar biasanya potensi ekonomi yang bisa dicapai dari usaha budidaya tanaman hias atau flory culture ini. Ia menyebut, dalam acara promosi potensi flory culture di 19 negara beberapa waktu lalu, hanya dalam waktu satu hari, Indonesia tercatat mampu mendapatkan nilai kontrak mulai dari Rp200 milyar hingga Rp7 trilyun.

Melalui Dirjen Holtikultura, Kementerian Pertanian, Bambang mengatakan mulai 2021 hingga 2024 mendatang pihaknya telah menyiapkan program pengembangan budidaya tanaman hias di Indonesia. Antara lain adalah dengan membangun kelompok-kelompok flory culture di kampung-kampung maupun desa-desa yang tersebar di seluruh daerah.

“Kelompok-kelompok flory culture ini akan kita konsep dengan model smart farming. Sehingga budidayanya menggunakan penerapan teknologi tinggi. Tentu ini menjadi kesempatan bagi para petani tanaman hias untuk bisa mengembangkan usaha budidaya di daerah masing-masing,” katanya.

Di antara berbagai jenis tanaman hias, Algonema sendiri, dikatakan Bambang memiliki potensi sangat tinggi untuk dikembangkan di Indonesia. Ia berharap para petani dapat terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya agar tidak kalah bersaing dengan petani lain asal luar negeri.

“Saya berharap algonema ini jangan sampai jatuh ke negara lain. Karena saya kemarin sempat melakukan kunjungan ke Belanda. Ternyata mereka sudah memiliki banyak koleksi tanaman asal Indonesia. Termasuk jenis monstera yang sudah dikembangkan dengan teknologi tinggi sehingga harganya bisa murah. Tentu ini menjadi tantangan,” ungkapnya.

Pemerintah sendiri mengaku siap mendukung petani tanaman hias yang ada di Indonesia untuk bisa terus berkembang dalam rangka memajukan usahanya. Bambang juga berharap agar setiap komunitas tanaman hias bisa memiliki asosiasi, sehingga memudahkan dalam hal koordinasi dengan pemerintah, baik itu di tingkat daerah maupun pusat.

Lihat juga...