Budidaya Cengkih di Kulon Progo Hadapi Sejumlah Kendala
Editor: Makmunu Hidayat
YOGYAKARTA — Pada bulan-bulan ini hasil panen cengkih petani di kawasan Samigaluh, Kulon Progo, bisa dibilang kurang maksimal. Faktor cuaca yang tak menentu mengakibatkan hasil panen cengkih tak bisa seperti yang diharapkan. Semakin minimnya jumlah pohon cengkih, juga ikut mempengaruhi jumlah hasil panen cengkih para petani.
“Karena banyak pohon yang mati, dan kurang terawat maka hasil panen cengkih petani sekarang ini tak bisa seperti dulu lagi. Dulu satu pohon bisa menghasilkan sampai 3 kuintal pohon cengkih setiap musim. Tapi sekarang paling hanya separuhnya saja. Beruntung petani bisa menyimpan cengkih hasil panen dan dijual saat harga tinggi. Karena semakin lama disimpan, kualitas cengkih akan semakin bagus,” ungkap salah seorang petani cengkih asal Dusun Palihan, Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo, Kelik, Senin (16/8/2021).
Menurut Kelik, menurunnya minat petani menanam dan merawat pohon cengkih lebih disebabkan karena ketidakstabilan harga jual cengkih di pasaran selama ini. Di mana harga cengkih kerap jatuh sehingga dianggap tidak memberikan keuntungan bagi para petani. Akibatnya banyak petani yang beralih menanam komoditas lain seperti kopi, kakau, dan sebagainya.
Kawasan perbukitan Menoreh di bagian sisi barat Kabupaten Kulon Progo selama ini memang dikenal sebagai sentra penghasilan cengkih. Sejak lama, warga di daerah ini biasa menanam cengkih untuk dijual kepada produsen rokok di berbagai daerah di tanah air. Sayangnya pembatasan produksi rokok lokal, akibat gencarnya kampanye antirokok membuat industri ini semakin menurun. Yang tentu berdampak pada penyerapan bahan baku rokok, seperti tembakau ataupun cengkih para petani.
Di tengah situasi pandemi yang tak kunjung usai, sejumlah petani cengkih saat ini bisa sedikit bernapas lega. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu sekitar dua bulan terakhir harga jual cengkih di tingkat petani diketahui meningkat drastis hingga mencapai 40 persen lebih.
Hal itu membuat para petani cengkih di kawasan sentra penghasil cengkih Kulon Progo seperti Kokap, Girimulyo dan Samigaluh berbondong-bondong menjual simpanan hasil panen cengkih mereka di tahun sebelumnya untuk dijual kepada para pengepul.
“Saat ini harga cengkih mulai merangkak naik. Jika pada bulan Mei lalu harga cengkih kering berkisar di harga Rp75 ribu, pada bulan Agustus ini harganya sudah mencapai Rp 100-110 ribu per kilogram. Karena itu banyak petani mengeluarkan cengkih simpanan mereka,” ujar Kelik.
Sementara itu, Setiyoko, salah seorang perangkat Desa Pagerharjo yang juga menjadi daerah penghasil cengkih di Kecamatan Samigaluh Kulon Progo, menyebut terus berupaya mendorong warganya untuk mempertahankan pohon cengkih di ladang-ladang mereka. Selain memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, cengkih juga dinilai mampu menjadi tabungan warga di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini.
“Memang setiap tahun ada tren penurunan minat masyarakat untuk membudidayakan cengkih. Namun kita pemerintah desa terus berupaya mendorong warga khususnya generasi muda untuk tetap mempertahankan pohon cengkih ini. Karena meski harganya kerap tidak stabil, namun potensi keuntungan budidaya cengkih masih cukup tinggi. Apalagi kelebihan cengkih ini bisa disimpan dan dijual saat harga sedang tinggi, sehingga bisa menjadi simpanan atau tabungan warga,” katanya beberapa waktu lalu.