Gunung Kapur Klapanunggal Kini Ramai Pengunjung
Editor: Makmun Hidayat
BOGOR — Jalanan rusak dan panas yang menyengat selama perjalanan menuju kawasan Gunung Kapur Klapanunggal yang merupakan area bekas pertambangan kapur untuk kepentingan pabrik semen, sepertinya tak menyurutkan para wisatawan untuk memenuhi rasa penasaran akan keindahan area wisata tersebut.
Jalanan yang harus dilewati pun, tidak terlalu mulus, jika tidak ingin disebut rusak. Walaupun pada sebagian titik sudah diletakkan batu, agar lubangnya tidak mengganggu pengendara yang melewatinya.
Andri, yang menjaga wilayah ini menyatakan pasca-penambangan tidak dilakukan, banyak terbentuk goa dan cekungan. Selain adanya beberapa mata air, curah hujan juga turut mengambil peran mengisi cekungan dengan air dan membentuk semacam kolam.
“Dulu ini area pertambangan. Pas sudah tidak ada yang nambang di sini, ya banyak goa. Ada juga tanah yang bolong-bolong, yang akhirnya keisi air. Sekarang malah dijadikan tempat main anak-anak,” kata Andri saat ditemui di gerbang masuk Gunung Kapur Klapanunggal, Bogor Timur, Minggu (14/3/2021).

Terlihat, cekungan yang terisi air itu, sebagian ada yang berwarna bening, ada juga yang berwarna kehijauan. Kemungkinan akibat adanya lumut atau tanaman air di dasar cekungan.
Beberapa aliran air, yang memang terlihat jernih, tak disia-siakan oleh para anak-anak untuk dijadikan tempat bermain air. Orang tua mereka pun tak merasa khawatir, karena airnya jernih dan tak tercium bau apa pun.
Goa-goa yang dulu bisa diakses oleh para pegiat fotografi, saat ini ditutup. Tak boleh dimasuki karena ditakutkan akan runtuh. Pemberitahuan dan tali penghalang pun sudah dipasang oleh pengelola, untuk memastikan tidak ada pengunjung yang memasuki area yang dinyatakan rawan longsor.
“Kalau dulu masih bisa dimasukin. Tapi sekarang udah gak boleh lagi. Sebagian ada yang terisi air. Sebagian lagi takut runtuh,” kata Andri menjelaskan.
Ia menyebutkan area ini dibuka dari pukul 05.30 hingga 17.30 WIB tiap hari dengan biaya masuk Rp5.000 per kendaraan.
“Sehari itu paling 20-30 mobil atau motor yang datang. Kita hitung kendaraan saja, tidak orang. Jadi kalau jumlah orang gak tahu pasti. Ada juga sih yang pakai sepeda tapi jarang. Tidak sebanyak yang pakai motor,” ujarnya.
Keeksotisan area gunung kapur ini pun, tak dilewatkan oleh produser film. Sari, salah satu pemilik warung yang menjajakan makanan dan minuman, menyebutkan baru-baru ini shooting film Kian Santang.
“Lupa sudah berapa bulan. Tapi masih akhir tahun kemarin kok. Di sini dijadikan tempat shooting Kian Santang. Gak lama, cuma dari pagi sampai sore saja,” katanya.
Ia menyampaikan, sebelum pandemi daerah ini belum dijadikan area wisata. Tapi saat pandemi, karena tempat lain banyak yang tutup, akhirnya daerah sini dijadikan tempat wisata baru.
“Kalau dulu sih, gak ada bayar masuk. Banyak yang ke sini cuma buat foto-foto saja. Ada beberapa orang yang sepedaan ke sini. Tapi belum ramai,” pungkasnya.