Pemanfaatan Analisa Iklim dalam Menurunkan Dampak Cuaca pada Hasil Pertanian
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Pemanfaatan teknologi dalam pengamatan dan analisa cuaca yang dilakukan oleh Sekolah Lapang Iklim dinyatakan mampu membantu para petani dalam menurunkan potensi kerugian. Terutama dalam menghadapi cuaca ekstrim.

Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Marzuki, MSi, menyatakan bahwa format Sekolah Lapang Iklim (SLI) pada tahun 2020 ini sudah merubah format SLI menjadi format operasional.
“Maksudnya, kita berbagi sumber daya dengan dinas serumpun yang memiliki kesamaan target kerja, untuk melakukan kegiatan bersama,” kata Marzuki saat dihubungi, Selasa (4/8/2020).
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan cakupan di lapangan, sehingga lebih efektif. Baik secara penyaluran dana maupun target kerja.
“Setelah sempat terhenti pada Maret lalu, mulai Mei kemarin kita memulai sosialisasi informasi kembali. Dengan menggabungkan sistem online dan offline,” ujarnya.
Jadi, sistem pengajaran di lapangan menggunakan virtual tapi dengan tetap menghadirkan pendamping ahli di lokasi dengan menerapkan protokol kesehatan.
“Ada peserta yang menggunakan zoom ada juga yang hadir langsung di lapangan, yang difasilitasi oleh partner kita di lapangan. Tentunya, dengan mempertimbangkan infrastruktur yang ada dan kondisi wilayah tertentu. Biasanya, Badan Penyuluh Pertanian,” paparnya.
Memasuki musim kemarau, Marzuki menyebutkan informasi yang pertama disampaikan adalah daerah mana saja yang sudah memasuki musim kemarau, mana yang masih masa transisi.
“Dari informasi yang kita berikan, bersama teman-teman penyuluh akan dibicarakan tentang tanaman apa yang paling cocok sesuai kondisi prakiraan musim yang ada,” urainya.
Sejauh ini, lanjutnya, ada 20 wilayah SLI di seluruh Indonesia dan menurut data curah hujan dasarian III Juli 2020, semuanya sudah memasuki musim kemarau.
“Konteks wilayah SLI ini memang difokuskan pada daerah tadah hujan yang tidak memiliki akses terhadap irigasi atau daerah yang memiliki kecednderungan cuaca ekstrim. Contohnya, daerah Ngablak yang fokus pada tanaman horti,” tambahnya.
Atau daerah Kaloran di Temanggung, yang sering terjadi hujan dengan curah hujan tinggi.
“Dengan adanya intervensi berbasis prakiraan dan analisa cuaca, misalnya, mempercepat waktu panen atau misalnya, menyiram tanaman dengan air bersih paska hujan yang mengandung asam, diharapkan mampu menurunkan atau meniadakan potensi kerugian akibat pengaruh cuaca,” kata Marzuki lebih lanjut.
Pendampingan SLI ini dimulai dari masa tanam hingga masa panen dengan berkoordinasi dengan penyuluh di lapangan.
“Dengan menggabungkan berbagai sektor, diharapkan para petani mampu mendapatkan hasil yang lebih optimal. Contohnya, mempercepat masa panen dalam hitungan hari dengan mempertimbangkan prakiraan cuaca pada tanaman padi,” pungkasnya.