Atasi Kekeringan, Purbalingga Gilir Pemanfaatan Air Irigasi
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
PURBALINGGA — Memasuki musim kemarau, area lahan pertanian di Kabupaten Purbalingga masih bertahan dengan aliran air irigasi yang dibagi dengan cara digilir. Irigasi tersebut memanfaatkan air sungai yang debitnya juga sudah menurun.

“Sejauh ini dari laporan yang masuk, belum ada lahan pertanian yang gagal panen ataupun puso akibat kekeringan. Meksipun menurun, air sungai masih mengalir dan itu dimanfaatkan oleh para petani untuk mengairi sawah. Karena debit air terbatas, pengairan dilakukan bergilir sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati,” kata Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Senin (3/8/2020).
Lebih lanjut Mukodam menjelaskan, karena musim kemarau baru di awal, sehingga ketersediaan air sungai masih memadai untuk dialirkan ke sawah-sawah. Biasanya kemarau mengalami puncak sekitar bulan September-Oktober.
Mukodam mengakui, cukup banyak area pertanian di Kabupaten Purbalingga yang merupakan sawah tadah hujan dan rawan kekeringan saat musim kemarau. Antara lain area pertanian di Kecamatan Kemangkon, sebagian Kecamatan Bukateja bagian barat di ujung saluran irigasi, kemudian sebagian Kecamatan Kaligondang, Kalimanah dan sebagian kecamatan Padamara.
Berdasarkan pengalaman kemarau tahun sebelumnya, area sawah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Purbalingga mencapai 655 hektare. Dan beberapa diantaranya ada yang puso.
“Kalau masuk musim kemarau biasanya kita arahkan para petani untuk melakukan Gerakan Percepatan Olah Tanah (PGOT) dan menanaminya dengan tanaman yang tahan kering, misalnya palawija seperti kedelai, jagung dan lainnya,” terangnya.
Mukodam menegaskan, jangan sampai para petani membiarkan lahan pertanian tidak ditanami, karena pada akhirnya yang rugi adalah petani sendiri. Sehingga harus pandai menyiasati musim dengan memilih tanaman yang tahan kering.
Sementara itu, salah satu petani di Kecamatan Kaligondang, Wagino mengatakan, setiap masuk musim kemarau produksi panen rata-rata menurun. Pada kemarau lalu, ia hanya mendapatkan hasil panen sekitar 6,3 ton padi kering giling. Jika melihat musim kemarau yang datang lebih awal ini, kemungkinan hasil panen pada kemarau tahun ini akan lebih menurun lagi.
“Kalau melihat kondisi tanah di awal musim kemarau ini, kemungkinan hasil panen di bawah 6 ton per hektare nya. Karena meskipun masih bertahan, namun pertumbuhan tanaman padi sekarang tidak maksimal, karena minim pasokan air,” tuturnya.
Wagino membenarkan jika debit air sungai saat ini sudah mulai menurun dan para petani harus berbagai air. “Antarpetani sudah membuat kesepakatan untuk diterapkan giliran dalam pengairan sawah, supaya semua kebagian merata, sehingga pasokan air terbatas,” pungkasnya.