Sektor Usaha Kuliner Sokong Pemberdayaan Wanita Pedesaan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sektor usaha kuliner ikut menyokong pemberdayaan wanita pedesaan di Lampung Selatan (Lamsel). Pemanfaatan potensi bahan baku lokal jadi pilihan bagi warga untuk menambah penghasilan.

Harisnawati, ibu rumah tangga pemilik usaha kuliner menyebutkan, saat ini ia fokus memproduksi kue tradisional. Wanita berusia 35 tahun, istri dari Muhlis yang berkecimpung dalam bidang usaha tambak udang sebelumnya sibuk membantu suami. Namun saat pandemi Covid-19 melanda pada awal tahun silam ikut memukul sektor pertambakan, dengan berbekal keahlian untuk berkreasi, ia memakai waktu luang untuk membuat kue.

“Sebelum Covid-19 usaha membuat kue tradisional ramai pesanan terutama banyaknya warga yang melakukan kegiatan hajatan pernikahan arisan,acara keluarga namun kini pesanan terbatas meski setiap hari tetap ada,” terang Harisnawati saat ditemui Cendana News, Sabtu (4/7/2020).

Pesanan diperoleh dari pedagang kue keliling dan pasar tradisional yang menjualnya kembali. Selain itu pesanan berasal dari sejumlah warga yang kangen akan kuliner tradisional khas Bugis namun enggan membuatnya.

Dibantu oleh sejumlah wanita untuk proses produksi, usaha kulinernya ikut berkembang. Dalam satu kali produksi kuliner tiga hingga lima jenis kue dibuat bersamaan. Dominan konsumen meminta dibuatkan kue nona manis, barongko, langga, naga sari, kue srikaya dan kue lainnya.

“Pelibatan wanita di sekitar rumah ikut mendorong pemberdayaan karena mereka mendapat tambahan penghasilan,” terang Harinaswati.

Berbagai jenis kue yang dibuat kini mulai dipasarkan memakai media sosial. Ia memanfaatkan jejaring sosial melalui Facebook, Instagram dan WhatsApp untuk menjangkau banyak konsumen. Rata rata dalam sepekan ia bisa mendapatkan omzet Rp2 juta bahkan bisa lebih tergantung pesanan.

Linawati, penyuka kue khas Bugis menyebut jenis camilan burongko kerap dipesannya. Camilan berbahan pisang, tepung dan telur jadi varian cara menikmati buah. Harga per bungkus Rp2.000, cukup terjangkau.

“Membeli kue tradisional sekaligus ikut mendorong ekonomi kreatif yang ditekuni wanita di pedesaan,” terangnya.

Linawati menyebut konsumsi kue tradisional akan mendorong produsen terus berkreasi. Selama Covid-19 ia bisa memesan berbagai jenis kue tanpa harus datang ke tempat pembuatan.

Zainal Fatoni, kepala desa Pematang Pasir menyebut sektor usaha kuliner jadi sumber ekonomi bagi kaum wanita. Selama masa pandemi Covid-19 ia menyebut kreatifitas kaum wanita sangat diperlukan agar tidak tergantung pada bantuan pemerintah.

“Selama masa adaptasi kenormalan baru sejumlah sektor usaha bisa kembali operasi, usaha kuliner bisa mendorong sektor lain,” paparnya.

Lihat juga...