Legislator Soroti Masih Banyaknya Sayur dan Buah Impor

Ilustrasi -Dok: CDN

JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Akmal Pasluddin, menyoroti pola pemerintah yang berupaya mendorong ekspor sayur-sayuran ke Jepang, namun masih terdapat berbagai buah dan sayur impor seperti dari Cina di pasar dalam negeri.

“Laporan para petani yang saya terima, saat ini sayuran dari Cina seperti brokoli dan sawi telah marak di supermarket-supermarket,” kata Akmal Pasluddin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (25/7/2020).

Ia berpendapat, seharusnya Indonesia tidak perlu mengimpor lagi dari Cina karena Indonesia merupakan negara agraris. Akmal juga mengingatkan, bahwa saat ini pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah mendorong peningkatan ekspor produk hortikultura, khususnya sayur dan buah-buahan Indonesia ke Jepang.

“Dorongan ini memang memiliki alasan kuat karena sudah berdasarkan riset dan observasi di negara tersebut akan potensi permintaan sayur dan buah yang mampu disuplai dari Indonesia,” ucapnya.

Ia mengemukakan, ironi bahwa Indonesia sangat berpotensi besar memenuhi pasar buah dan sayuran Jepang, tapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mengandalkan negara lain.

Akmal mengutarakan harapannya, agar keluhan para petani dapat direspons dengan baik dengan memperbaiki tata niaga pangan, terutama sayur dan buah di pasaran.

Sebelumnya, Konsul Jenderal KJRI di Osaka Mirza Nurhidayat mengatakan Indonesia perlu menyasar peluang ekspor produk hortikultura, terutama buah-buahan dan sayuran dalam bentuk beku (frozen) dan kering (dried) ke Jepang.

Mirza menjelaskan, tren permintaan sayuran dan buah masyarakat Jepang terus mengalami peningkatan. Tercatat selama lima tahun terakhir, pertumbuhan impor produk buah-sayur Jepang mengalami peningkatan sebesar 4,8 persen dan sekitar 1,6 persen setiap tahunnya.

“Hal ini karena beberapa faktor, antara lain makin langkanya produk sayur dan buah-buahan di dalam negeri Jepang, karena makin sedikitnya petani di Jepang. Di satu sisi, ini akan menumbuhkan satu peluang,” kata Mirza dalam webinar bertajuk “Japan-Indonesia Market Access Horticulture”, Selasa (21/7/2020).

Mirza menjelaskan, bahwa permintaan buah dan sayuran oleh masyarakat Jepang makin spesifik, yakni dalam bentuk beku. Masyarakat Jepang saat ini lebih mengutamakan mengonsumsi makanan praktis dan tidak membutuhkan waktu lama untuk penyiapannya, mengingat umumnya mereka sangat disiplin dan menghargai waktu seefektif mungkin.

Jika dilihat dari potensinya, pada 2019 Jepang menduduki sebagai negara importir sayuran ke-7 di dunia dan importir buah-buahan peringkat ke-13 di dunia dengan pangsa pasar 3,4 persen untuk sayur, dan 2,5 persen untuk buah-buahan.

Mirza menyebutkan, bahwa Cina, Amerika Serikat, dan Korea Selatan pada 2019 menjadi pemasok utama sayur dan buah-buahan ke Jepang. Cina memiliki kontribusi terbesar, yakni 57,3 persen, AS sebesar 8 persen, dan Korea Selatan 4,37 persen.

Sedang, Indonesia merupakan negara pemasok urutan ke-13 untuk produk buah dan sayuran ke Jepang, dan pangsanya relatif masih kecil yaitu 0,9 persen. (Ant)

Lihat juga...