Goa Kreo, Legenda Kera Ekor Panjang dan Sunan Kalijaga

Editor: Koko Triarko   

SEMARANG – Goa Kreo menjadi salah satu obyek wisata andalan Kota Semarang. Sebelum pandemi Covid-19, dalam sebulan rata-rata ada 11 ribu wisatawan yang berkunjung. Tidak heran, jika destinasi wisata yang terletak di wilayah Gunungpati, Semarang tersebut ditargetkan mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp900 juta per tahun.

Daya tarik utama Goa Kreo terletak pada keberadaan ratusan kera ekor panjang (macaca fascicularis) yang hidup berdampingan dengan warga sekitar. Para kera ini akan langsung menyapa, saat para wisatawan memasuki kawasan tersebut. Para kera ini berharap para pengunjung memberi mereka makanan, baik berupa kacang, pisang hingga jagung.

Uniknya, ada cerita menarik, legenda masyarakat, yang dipercaya bahwa keberadaan ratusan ekor kera tersebut berkaitan dengan perjalanan Sunan Kalijaga, saat mencari kayu jati untuk tiang Masjid Agung Demak.

Dalam pencariannya tersebut, salah satu tokoh Walisongo tersebut menemukannya di daerah yang sekarang dikenal dengan Goa Kreo. Namun kendala terjadi, saat pohon jati yang telah ditebang dan dihanyutkan ke sungai Kreo tersebut tersangkut di antara bebatuan dan tidak bisa diambil.

Melihat hal tersebut, Sunan Kalijaga lalu berdoa di dalam goa, yang kemudian dikenal dengan Goa Kreo, agar kayu jati tersebut bisa diambil dan dibawa ke Demak. Tidak lama kemudian, datanglah empat ekor kera yang masing-masing berwarna merah, hitam, putih, dan kuning, untuk membantu Sunan Kalijaga.

Berkat bantuan keempat kera itu, Sunan Kalijaga mampu menghanyutkan pohon jati ke Demak. Ketika Sunan Kalijaga pamit, para kera mau ikut. Namun, dia menolak permintaan itu.

Sebagai gantinya, Sunan Kalijaga menyerahkan kawasan itu untuk dijaga kera-kera tersebut. Keempat kera menyetujuinya, dan dipercaya kemudian berkembang biak dan menghuni kawasan Kreo hingga sekarang.

Pihak pengelola obyek wisata Goa Kreo pun menasbihkan legenda tersebut, dalam prasasti yang dibangun di kawasan tersebut.

“Kita bangun prasasti atau tugu, tentang cerita rakyat atau legenda asal usul nama Goa Kreo hingga para kera ekor panjang yang ada di kawasan ini. Ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan, yang penasaran dengan cerita legenda yang ada,” papar Kepala UPTD Goa Kreo, Mamit Sumitra, di Semarang, Minggu (19/7/2020).

Tidak hanya itu, untuk menghormati napak tilas Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati, yang konon dibantu oleh para kera ekor panjang, masyarakat di Kampung Kandri, tempat Goa Kreo tersebut berada, setiap tahun juga menggelar tradisi Rewanda.

Tokoh masyarakat setempat, Widodo, memaparkan tradisi Rewanda merupakan perwujudan untuk nguri-uri atau melestarikan budaya, sekaligus untuk menarik wisatawan agar berkunjung ke kawasan tersebut.

“Tradisi ini sebagai upaya meneruskan napak tilas Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati, untuk pembangunan masjid Demak yang konon dibantu oleh para monyet ekor panjang di sini,” ungkapnya.

Dipaparkan, ritual Sesaji Rewanda diawali dengan arak-arakan mengusung empat gunungan, dari kampung Kandri menuju Goa Kreo. Masing-masing gunungan berisi berbeda-beda. Satu gunungan berisi nasi dan lauk, seperti tempe, tahu dan sayuran, yang dibungkus daun jati setinggi sekitar dua meter.

Juga ada gunungan kupat lepet, dan buah. Kemudian gunungan berisi hasil palawija, seperti jagung, singkong, mentimun, wortel, dan kacang tanah.

Setelah diarak, gunungan nasi dan lauk yang oleh masyarakat sekitar disebut sego kethek pun diperbolehkan diambil oleh masyarakat atau wisatawan yang datang. Sementara, untuk gunungan buah dan palawija disediakan untuk kera ekor panjang yang menghuni kawasan objek wisata tersebut.

“Namun untuk tahun ini, tradisi Rewanda yang merupakan salah satu kegiatan wisata unggulan Pemkot Semarang, ditiadakan karena pandemi Covid-19. Sebab, dikhawatirkan jika tetap digelar akan menimbulkan kerumunan massa, sehingga berpotensi dalam penyebaran Covid-19. Mudah-mudahan tahun depan, tradisi Rewanda ini bisa kami gelar kembali,” pungkasnya.

Lihat juga...