UMKM di Cianjur Kembali Mengeliat

Gerai Mochi Momi di Perumahan Pesona Cianjur Indah, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Jawa Barat, kembali berproduksi meskipun sempat terdampak selama pandemi COVID-19 – Foto Ant

CIANJUR – Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Cianjur, Jawa Barat, kembali mengeliat, setelah beberapa bulan terakhir sempat tidak berproduksi karena pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) parsial yang diterapkan di Jawa Barat.

Hal tersebut dirasakkan rumah produksi sekaligus pusat oleh-oleh khas Cianjur, Mochi Momi, yang membuka gerai di Perumahan Pesona Cianjur Indah, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur. Meskipun tidak terdampak hingga harus menutup gerai yang menyediakan berbagai oleh-oleh makanan dan olahan tangan tersebut, namun produksi menurun selama pandemi.

“Sekitar satu bulan awal pandemi, terjadi penurunan produksi total, namun untuk menyiasati agar tetap ada produk mochi yang menjadi brand kami, setiap hari kami memproduksi tiga sampai lima kilogram mochi, itu kami lakukan, agar pegawai tetap mendapatkan upah,” kata pemilik gerai Mochi Momi, Yani Nurmayani, Senin (15/6/2020).

Selang beberapa bulan, sebagian besar pelaku usaha khususnya makanan olahan yang tergabung dalam pelaku UMKM Cianjur, kembali berproduksi dengan target penjualan secara online. Hal itu dilakukan, meskipun hasil produksi sebatas hanya dijual di dalam kota Cianjur. Upaya tersebut membuat pelaku usaha kembali berproduksi, meskipun dalam jumlah yang dinilai sangat terbatas.

Hal itu dilakukan, karena pembelian dan pengiriman yang dilayani hanya dalam kota dengan radius beberapa kilometer karena tetap menerapkan jarak fisik. “Satu bulan menjelang lebaran, sebagian kecil mulai memproduksi makanan olahan termasuk kue untuk lebaran yang kami bantu pasarkan melalui online, kami mengantarkan langsung ke pemesan dengan menerapkan jarak fisik sebagai upaya memutus rantai penyebaran COVID-19,” katanya.

Sehingga, meskipun sempat terdampak selama penanganan cepat COVID-19 yang dilakukan pemerintah. Hal itu tidak membuat UMKM di Cianjur, gulung tikar, atau tidak berproduksi sama sekali, layaknya layaknya perusahaan besar yang banyak tutup alias gulung tikar. Terkait penerapan adaptasi kebiasan baru (AKB) para pelaku usaha di wilayah Cianjur, diklaim, sudah sebagian besar melakukan dan menerapkan hal tersebut kepada karyawan dan sesama pelaku usaha.

Bahkan di sejumlah gerai yang menyediakan oleh-oleh khas Cianjur, sudah menyediakan tempat cuci tangan dan cairan pembersih tangan. “Untuk jaga jarakpun sudah mulai diterapkan, termasuk terhadap karyawan yang selalu diingatkan menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan saat melayani tamu yang datang,” katanya.

Menyambut new normal yang akan diterapkan pemerintah, pihaknya akan berkordinasi dengan pelaku usaha lainnya di wilayah Cianjur. Terutama untuk mekanisme menerapkan protokol kesehatan secara ketat, terhadap karyawan dan tamu yang datang. Seiring penerapan AKB produksi mochi yang menjadi produk andalan gerai yang dibukannya sudah kembali normal, dengan jumlah produksi perhari mencapai 20 kilogram.

Diharapkan, penerapan new normal dapat mengembalikan meningatkan kesejahteraan pelaku UMKM yang tidak goyah hingga saat ini. “Kami juga akan ikut serta menyosialisasikan dan menerapkan protokol kesehatan pada karyawan dan tamu yang datang sebagai upaya memutus rantai penyebaran COVID-19,” tandasnya. (Ant)

Lihat juga...