Bengkel Misi di Sikka Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan terkena dampak kehilangan order, sehingga banyak yang terpaksa melakukan pengurangan karyawan, bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tidak beroperasi.

Namun Bengkel Misi PT. Langit Laut Biru milik Keuskupan Maumere Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bisa bertahan karena ada kepercayaan dari konsumennya.

“Kami masih ada order dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan beberapa lembaga yang ada di beberapa kabupaten di pulau Flores,” sebut General Manager PT. Langit Laut Biru Keuskupan Maumere, A. Dian Setiati, Selasa (12/5/2020).

Untuk mempertahankan agar produksi di bengkel kayu, las dan mesin tetap berjalan, kata Dian, saat produksi menurun pihaknya berinisiatif menciptakan produk baru, lalu menawarkan kepada para konsumen.

GM PT. Langit Laut Biru milik Keuskupan Maumere yang mengelola Bengkel Misi, A. Dian Setiati, saat ditemui di tempat usahanya di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (12/5/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia mencontohkan, saat ini pihaknya sedang memproduksi wasfatel injak setelah Chamber atau bilik disinfektan yang telah habis dibeli oleh pemerintah kabupaten Sikka, dan dipasang di beberapa pintu masuk perbatasan dan kantor pemerintah serta Posko Covid-19.

“Dalam rangka mencegah penularan Covid-19, kami ikut menyumbangkan keahlian dengan menciptakan wastafel injak. Kelebihan wastafel ini kita tidak perlu memutar kran air dan sabun, sehingga tangan tetap steril,” tuturnya.

Dian menjelaskan, sistem penggunaan wastafel ini di mana saat hendak cuci tangan pengguna hanya menginjak dua pedal yang berada di bagian bawah wastafel, sehingga air dan sabun langsung keluar dengan sendirinya.

Menurutnya, wastafel ini memudahkan anak-anak untuk mempergunakannya, dan saat ini sudah terjual 18 wastafel injak yang dipesan LSM Wahana Visi Indonesia (WVI) sebanyak 15 buah, dan Kopdit Obor Mas, Paroki Thomas Morus serta SMP Sta. Maria, masing-masing satu unit.

“Satu unit kami jual Rp2,5 juta, termasuk profil tank atau penampung air 250 liter, selang dan sabun cuci. Kelebihannya, kran tidak tersentuh tangan dan anak kecil juga bisa menggunakam karena memakai sistem injak. Satu injakan khusus air dan satu injakan sabun,” jelasnya.

Dian mengatakan, saat pandemi Covid-19 Bengkel Misi terus berkreasi dengan menciptakan produk sesuai kebutuhan pasar dengan harga terjangkau, agar usaha tetap bisa berjalan dan tenaga kerja tidak dirumahkan.

Dirinya mengatakan, karyawan di Bengkel Misi  sebanyak  20 orang, bengkel kayu ada 5 pekerja, unit mesin 4 orang, pengolahan pangan 5, unit las 5  orang dan kantor 1 orang.

“Memang harus terus berkreasi, agar produksi tetap berjalan dan usaha tidak berhenti. Produk yang dihasilkan pun harus sesuai kebutuhan pasar, selain mengandalkan pesanan konsumen,” ungkapnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten Sikka, Germanus Goleng, mengatakan saat ini di Kabupaten Sikka terdapat 500 perusahaan yang beroperasi, baik perusahaan kecil, sedang dan besar.

Dari 500 perusahaan ini, sebut Germanus, ada 200 perusahaan yang sedang merumahkan karyawan sebanyak 305 orang, dan tergolong perusahaan kecil dan pihaknya terus turun melakukan pendataan.

“Kami sudah dua kali turun melakukan pendataan sejak Maret hingga April. Kami menjemput bola, sebab kalau menunggu pihak perusahaan datang melapor tentunya sulit,” ujarnya.

Germanus menyebutkan, pendataan dilakukan untuk mengetahui berapa banyak perusahaan yang terkena dampak merebaknya pandemi Covid-19, hingga usahanya berhenti dan karyawan dirumahkan hingga pemutusan hubungan kerja.

Lihat juga...