UMKM di Maumere Produksi Masker Berkualitas dari Bahan Katun
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
MAUMERE — Minimnya stok masker pabrikan di pasaran termasuk di kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat pengusaha lokal berinisiatif memproduksinya sendiri.

Salah satunya di kota Maumere, yang biasa membuat aksesoris dari kain tenun ikat dan bahan lainnya pun termotivasi, sehingga ikut memproduksi masker, agar karyawannya tetap bisa bekerja dan tidak dirumahkan.
“Sudah tiga minggu produksi masker di lantai dua toko kami. Bahannya dari kain katun yang dibeli di Maumere,” kata Sherly Irawati, pengrajin aksesoris dan pemilik toko Jaya Baru Maumere, kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/4/2020).
Sherly, sapaannya mengatakan, selain kain katun, mereka juga menggunakan bahan spunbond yang anti air dan minimal terdapat tiga lapisan kain.
“Kami juga membuat face shield atau pelindung wajah. Pihak RS TC Hillers Maumere sudah memesan sebanyak 100 buah. Kalau masker sudah banyak yang pesan termasuk Puskesmas, desa dan perusahaan,” sebutnya.
Pemesanan masker produksi Jaya Baru kata Sherly, bukan saja datang dari kabupaten Sikka tetapi dari wilayah lainnya di NTT seperti di Kupang, Ruteng kabupaten Manggarai dan lainnya.
Kalau sudah terbiasa bekerja, prosesnya tidak sulit dan dalam memproduksi masker pihaknya bekerja secara keroyokan dengan tenaga kerja sebanyak 6 orang, termasuk anak SMK St. Gabiel yang sedang praktek kerja di toko.
“Kita kerjanya sistem keroyokan dan belajar cara pembuatannya dari internet. Saat awal kami membuat 5 ribu buah, tetapi setelah itu berhenti dan kita ganti dengan bahan yang bagus. Harganya bervariasi tergantung bahan dan berapa lapisan bagian dalamnya,” ujarnya.
Untuk masker tiga lapis kata Sherly, harga jual Rp.8.500 sementara 4 lapis dijual Rp10 ribu dan Rp15 ribu dimana menggunakan bahan kain katun yang berkualitas dan memenuhi standar kesehatan.
Dalam sehari sebutnya, pihaknya memproduksi minimal 200 buah dengan menggunakan enam mesin jahit listrik namun kendalanya bahan bakunya kadang ada kadang tidak ada.
“Kita membuat masker kain untuk mengurangi pemakaian masker sugeri yang dipergunakan oleh tenaga medis dan stoknya sudah mulai menipis di pasaran,” terangnya.
Agustina Helena seorang karyawan mengaku awalnya tidak terbiasa mengerjakan masker tapi lama- kelamaan bisa mengerjakan termasuk menggunting pola serta membuat pelindung wajah.
Agustina mengakui, selama ini hanya mengerjakan akesosris tetapi sudah tidak produksi lagi karena tidak ada pembeli, sehingga beralih mengerjakan masker.
Pengerjaannya pun hati-hati dan menjamin agar produk masker yang dihasilkan bisa berkualitas dan disukai pembeli.
“Awalnya memang sulit mengerjakannya namun setelah belajar dalam beberapa harus sudah terampil mengerjakannya. Saya juga membuat sendiri pelindung wajah,” terangnya.