Periksa ABK Kapal Lambelu, Tenaga Kesehatan Dikarantina
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Tenaga kesehatan yang naik ke kapal KM. Lambelu yang melakukan pemeriksaan terhadap Anak Buah Kapal (ABK) sedang menjalani karantina mandiri di rumahnya masing-masing karena hasil rapid test ditemukan adanya indikasi tertular Covid-19.
Sementara berdasarkan pemeriksaan swab yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 provinsi Sulawesi Selatan menyebutkan 26 dari 45 ABK yang dites swab terbukti positif dan sedang menjalani karantina di atas kapal.
“Tenaga kesehatan yang mengambil sampel darah terhadap ABK KM. Lambelu semuanya telah menjalani karantina mandiri selama 2 minggu di rumahnya,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, dr. Clara Y. Francis, Rabu (15/4/2020).
Clara mengatakan, cara ini ditempuh meskipun dilema karena tenaga kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka terbatas namun pilihan tersebut harus dilakukan.
Selain itu kata dia, tenaga kesehatan yang bertugas melakukan pengambilan sampel darah terhadap bekas penumpang KM. Lambelu yang berada di dua lokasi karantina terpusat tidak menjalani karantina mandiri.
“Kalau yang bertugas mengambil sampel darah bekas penumpang kapal Lambelu dan bertugas di RS TC Hillers Maumere belum ada yang menjalani karantina. Ini karena belum ada pasien positif yang ditangani,” ungkapnya.
Selain itu kata Clara, Alat Pelindung Diri (APD) yang dipergunakan tenaga medis yang bertugas di atas kapal Lambelu semuanya sudah dimusnahkan. Meskipun persediaan APD di Posko Covid-19 kabupaten Sikka terbatas.
Terkait pemeriksaan rapid test dan swab, dia menjelaskan, keterbatasan alat rapid test membuat pihaknya harus selektif bila ditemukan ada yang reaktif maka dilanjutkan dengan pemeriksaan swab.
“APD juga terbatas sehingga swab saja tidak semua. Kalau pemeriksaan rapid test hasilnya reaktif dan non reaktif maka dinamakan terindikasi. Apakah sudah bisa dipastikan positif dengan pemeriksaan rapid test, belum tentu,” ungkapnya.
Pemeriksaan rapid test hanya melihat daya tahan tubuhnya saja, kata Clara sehingga harus pemeriksaan swab karena dengan swab dicek apakah virusnya ada dan tidak ada sehingga hasilnya positif dan negatif.
Tergantung indikasinya sehingga tenaga medis kata dia, yang akan menentukan apakah seseorang harus menjalani pemeriksaan rapid test atau swab termasuk dengan melihat riwayat perjalanan seseorang dan kesehatannya.
“Beberapa pasien terdahulu kita tidak melakukan rapid test tetapi swab.T idak semua yang positif menunjukan gejala sehingga pemerintah menganjurkan semua pakai masker untuk mencegah penularan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka yang juga juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Petrus Herlemus, mengatakan hal senada terkait pemeriksaan rapid test dan swab.

Petrus menyebutkan, rapid test yang dimiliki Posko Covid-19 Kabupaten Sikka sebanyak 1.000 buah dan merupakan bantuan dari Posko Covid-19 pusat yang dikirim menggunakan pesawat Hercules TNI AU.
“Ada beberapa pertimbangan medis seseorang dilakukan pemeriksaan rapid test atau swab. Terkadang dilakukan rapid test baru dilanjutkan dengan swab dan semuanya dilihat rekam medik seseorang,” ungkapnya.