RS di Sikka Terkendala Fasilitas untuk Tangani Pasien Covid-19
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Sebagai salah satu rumah sakit rujukan pasien yang tertular Covid 19 di Pulau Flores selain rumah sakit Komodo di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat serta rumah sakit W.Z. Johannes Kupang, RS TC Hillers Maumere masih minim fasilitas.
Selain ruang isolasi belum bertekanan negatif dan tidak ada ambulans sesuai standar World Health Organization (WHO) atau lembaga kesehatan dunia terkait penanganan pasien Covid 19, Alat Pelindung Diri (APD) di RS TC Hillers Maumere juga sangat minim.
“Setelah kita lakukan rapat koordinasi bersama segenap pemangku kepentingan, ternyata di Sikka untuk menangani pasien Covid 19 dari aspek kesiapan di rumah sakit kita belum siap,” kata Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Jumat (20/3/2020) sore.

Rumah Sakit TC Hillers Maumere, kata Robi, sapaannya tidak memiliki APD dan alat tes darah serta pengiriman sampel darah pasien yang diduga terinfeksi Covid 19 ke Balibangkes Kementerian Kesehatan pun mengalami kesulitan.
Semua maskapai penerbangan yang menyinggahi Bandara Frans Seda Maumere pun tidak memiliki sertifikat dan tidak mau membawa sampel darah sehingga sampel darah tidak bisa terkirim ke luar.
“Pemerintah pusat segera menangani ini dan segera membantu melengkapi fasilitas serta prosedur pengiriman sampel darah. Kami konsisten walaupun dengan APBD terbatas pun siap mempergunakan dananya untuk penanganan Covid 19,” tegasnya.
Namun tambah Robi, tetapi walaupun pun uang ada namun fasilitas ini mau dibeli di mana sehingga dirinya tegaskan kalau belum siap walaupun sudah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan dirinya bisa menolak.
Dia beralasan, daripada Pemerintah Kabupaten Sikka meneriman pasien Covid 19 tetapi tidak mampu menangani karena keterbatasan fasilitas sehingga dirinya harus menyelamatkan masyarakat Kabupaten Sikka.
“Kami akan segera berkoordinasi ke pemerintah provinsi dan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan mohon diperhatikan fasilitas ini. Rumah sakit TC Hillers Maumere menangani pasien dari Kabupaten Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende Nagekeo dan Ngada,” ujarnya.
Robi mengatakan penolakan dilakukan karena fasilitas Rumah Sakit TC Hillers tidak memadai dan mendukung penanganan pasien Covid 19 sehingga bila tidak dilengkapi untuk sementara pasien dari luar Kabupaten Sikka tidak diterima.
Mantan camat Nelle ini menyebutkan, bukan menolak tetapi pihaknya belum siap karena permintaan fasilitas ke Kementerian Kesehatan sudah dilakukan namun belum juga ditanggapi.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus mengatakan, sejak menangani pasien ODP asal Lembata dirinya harus meyakinkan tenaga medis agar mau bertugas menangani pasien.
Petrus katakan, dengan kondisi APD yang terbatas tentunya tenaga medis akan sangat rentan tertular bila tidak menggunakan APD sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI.
“Saya harus memberikan penguatan mental bahkan menegaskan agar tenaga medis harus mau menerima tugas ini. Bila tidak bersedia maka sebaiknya mundur dari tenaga kesehatan,” ungkapnya.