Menko Polhukam: Agama dan Negara Ibarat Saudara Kembar
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan, negara itu adalah sunnatullah, tidak seorang pun yang hidup di dunia ini tanpa negara.
Menurutnya, setiap manusia itu harus berada dalam negara. Dan manusia itu kata Aristoteles, adalah manusia yang selalu hidup kemasyarakatan. Tidak ada manusia yang hidup dalam kesendirian, kecuali cerita fiktif seperti Tarzan.
Manusia itu hidup dengan berorganisasi dalam negara, sehingga tak ada orang yang tidak bernegara, begitu lahir kita sudah bernegara.
“Sebagai sunnatullah bagi kaum muslimin, bernegara adalah syarat untuk beibadah kepada Allah SWT. Jadi kalau Anda ingin beribadah dengan baik, maka sebagai muslim hendaknya Anda punya negara,” kata Mahfud pada acara Standardisasi Kompetensi Dai Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (5/3/2020).
Dia mengingatkan, di era Indonesia belum merdeka, masyarakat sangat kesulitan untuk beribadah.
“Waktu kita nggak punya negara dulu, kita nggak bisa beribadah dengan baik. Menunaikan salat dan ngaji sangat susah waktu zaman sebelum merdeka,” ujarnya.
Namun menurutnya, ketika kita sudah merdeka, dan punya negara, maka kehidupan kita menjadi lebih maju seperti sekarang ini.
Kalau di dalam kaidah ushul fikih, jelas dia, itu sesuatu kewajiban untuk beribadah. Jika tidak terlaksana dengan baik, kalau engkau tidak punya sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain sama wajibnya dengan melaksanakan kewajiban.
“Anda ingin beribadah dengan baik, kok tak punya negara? Maka Anda wajib punya negara. Itulah yang menjadikan alasan umat Islam mendirikan negara Republik Indonesia (RI). Karena kita itu tak punya negara mau beribadah itu susah. Guru agama ditekan-tekan,” imbuhnya.
Sehingga lahir Muhammadiyah, yang melahirkan bagaimana perbaikan guru dan pendidikan. Juga lahir Nadhatul Ulama (NU) yang mengembuskan nilai kebangsaan mengajak kita merdeka.
Dalam mengelola negara juga pernah dituturkan oleh Imam al-Ghazali yang menyampaikan, bahwa agama dan negara itu ibarat saudara kembar.
“Al-Ghazali pernah mengatakan, beragama melaksanakan suara agama dan mempunyai kekuasaan itu adalah saudara kembar. Anda mau melaksanakan agama dan punya kekuasaan negara, itu ibarat saudara kembar,” ucapnya.
Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, kita bernegara tidak akan baik kalau tidak dibimbing oleh ajaran agama. Begitu pula beragama tidak bisa baik, kalau tidak punya kekuasaan negara.
“Jadi, agama itu asli pokok dasar prinsip, sedangkan kekuasaan negara itu pengawalnya,” tukasnya.